![]() |
| Foto ilustrasi: selo lamatapo |
Selasa, 21 Januari 2025
Tanggal ini adalah tanggal perjalanan awal misi saya sebagai misionaris ke negeri Samba, tanah Brasil. Saya meninggalkan Indonesia pukul 18.00 WIB, pergi bersama seorang misionaris muda bernama Pater Serafim Beta, SVD.
Pesawat Qatar membawa kami dari Bandara Udara Internasional Soekarna-Hatta (CGK) menuju ke Bandara Udara Doha-Qatar selama kurang lebih delapan jam. Kemudian, kami terbang lagi menuju Bandara Udara São Paulo-Brasil selama kurang lebih 16-18 jam.
Perjalanan itu adalah sebuah babak baru dalam hidup saya. Sebuah perjalanan misi yang melelahkan, tetapi menyimpan kenangan dalam hidup saya sebagai orang asing di tanah orang: ruang-ruang yang baru, wajah-wajah dengan bahasa-bahasa asing, kebingungan-kebingungan yang akrab di wajah saya, dan waktu yang berlainan.
Saya seperti sedang membaca larik puisi M Aan Mansyur.
aku sendiri dan tidak berada di sini,
semua orang adalah orang lain.
Saya ingat, saya tidak sedang baik-baik pada saat itu. Tiga hari sebelum berangkat, tubuh saya meriang dan menggigil kedinginan di kamar Soverdi Mataraman-Jakarta. Saya menduga, saya terserang malaria atau tifus saya kembali kambuh.
Pater Eko, Sekretaris Misi SVD Indonesia yang mengurus keberangkatan para misionaris Indonesia keluar negeri, sempat mempertimbangkan keberangkatan saya, mengingat kondisi tubuh saya demikian.
"Kalau sampai hari H masih demam, biar kita tunda dulu ya, Pater," katanya dengan dialeg Jawa.
Hati kecil saya menolak perkataan itu, karena saya telah menunggu dua tahun lebih untuk kejelasan keberangkatan ke tanah misi, Amazon-Brasil.
Karena itu, saya memutuskan untuk ke rumah sakit Karolus Jakarta untuk check up agar saya mendapat kejelasan mengenai kondisi tubuh saya. Dari dokter, saya mengetahui bahwa demam diakibatkan oleh reaksi vaksin.
Tiga hari yang lalu, kami (para misionaris yang akan berangkat ke tanah misi luar negeri) divaksin agar tubuh kami tidak mudah terpapar aneka penyakit di tanah misi. Dokter di tempat vaksin sempat mengingatkan kami agar usai vaksin, kami perlu banyak beristirahat.
"Bila tubuh kelelahan, maka vaksin lebih cepat bereaksi. Biasanya, pada hari ketiga sesudah divaksin, Anda akan demam. Jadi, upayakan untuk banyak istirahat," pesannya.
Sayangnya, saya harus ke sana-ke mari untuk bertemu teman-teman saya di Jakarta, dan juga belanja beberapa kebutuhan untuk dibawa ke tanah misi. Perubahan udara, cuaca, dan kesibukan-kesibukan ke sana-ke mari di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, membuat saya kelelahan. Puncaknya, tubuh saya tak lagi menahan demam sebagai reaksi vaksin.
"Tidak apa-apa. Minum obat dan istirahat yang cukup, nanti tubuh kembali pulih," kata dokter Rumah Sakit Karolus sambil menyerahkan resep obat untuk saya dan selembar surat yang menyatakan saya tidak sedang sakit malaria atau tifus sebagaimana saya duga sebelumnya.
Saya menelan obat itu selama dua hari, selanjutnya saya memastikan diri saya siap untuk berangkat, meski demam dan batuk belum sepenuhnya pulih.
"Kalau ada petugas bandara yang menahan Pater, tunjukkan saja surat dari dokter bahwa Pater sehat," kata Pater Eko seraya menyerahkan dokumen-dokumen pribadi saya untuk saya bawa serta ke tanah misi.
"Paling penting, jangan lupa selalu cek tiket untuk pastikan nama bandara, pesawat, ruang tunggu, dan jam keberangkatan. Ingat, selalu cek papan informasi di setiap bandara. Itu sangat membantu," pesan Pater Eko sebelum saya berjabatan tangan dengannya sebagai ungkapan rasa terima kasih saya untuknya.
Pukul 15.00 di hari yang sama, Selasa, 21 Januari 2025, saya bersama Pater Serafim diantar ke Bandara Udara Internasional Soekarna-Hatta (CGK). Setelah mengurus segala tetek-bengek di bandara, kami meninggalkan Indonesia, terbang ke tanah misi, tanah Brasil, tepat pukul 18.00.
***
Setelah kurang lebih 8 jam penerbangan dari Jakarta, kami tiba dengan selamat di bandara Doha, Qatar. Dingin AC di pesawat begitu menyiksa tubuh saya yang sedang dikerubungi demam dan batuk.
Namun, paling penting adalah kami tiba dengan selamat pada subuh hari di Doha. Selanjutnya, kami harus melewati pemeriksaan lagi sebelum tiba di ruang tunggu.
Sebagaimana pesan Pater Eko, papan informasi begitu membantu. Pater Serafim dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus bergerak cekat mencari tahu semua informasi tentang ruang tunggu dan penerbangan selanjutnya.
Bandara Doha terbilang luas. Saya menyaksikan kesibukan-kesibukan setiap manusia di bawah tatapan dinding-dinding bandara, dan di bawah cahaya lampu. Beberapa tampak tergesa-gesa seperti diburu waktu, sementara lainnya terbaring lelah menunggu waktu tiba untuk berangkat. Kami semua memiliki tujuan berbeda-beda, tetapi jauh di lubuk hati, kami memiliki satu harapan yang sama, yaitu tiba dengan selamat di sana, di suatu tempat yang telah kami rencanakan masing-masing.
***
Hari Rabu pagi, 22 Januari 2025, setelah kurang lebih 16-18 jam berada di pesawat, akhirnya langit bebas dan tanah lapang bandara São Paulo menerima kami, pendatang baru yang siap mengabdi di pedalaman Amazon. Jam di ponsel saya menunjukkan pukul sepuluh pagi waktu Brasil.
Nama Amazon, pertama kali saya ketahui melalui peta di bangku sekolah dasar. Guru sejarah kami berkisah tentang sungai-sungai panjang dan hutan-hutan luas. Setelah dewasa, Amazon semakin akrab di telinga saya melalui kisah para misionaris. Amazon identik dengan anaconda (ular besar), piranha (ikan ganas menakutkan), sungai, hutan, dan farinha (makanan khas).
Siapa pernah menyangka semua kisah itu kini menjelma nyata dan terbentang di hadapan mata saya, anak kampung. Mimpi dan misi tak mengenal asalmu; keduanya sama-sama membawamu pada petualangan-petualangan yang mengejutkan dan pengalaman-pengalaman panjang.
Pater Fernandus Doren, misionaris dari Larantuka yang bekerja di salah satu paroki di São Paulo-Brasil, menjemput kami di bandara udara São Paulo. Ia membawa kami ke paroki dengan mobilnya. Perjalanan itu kurang lebih satu jam melewati jalanan panjang dan sibuk, papan-papan iklan, gedung-gedung, dan di bawah tatapan terik panas kota São Paulo.
Meski dihajar lelah karena demam dan batuk, bayangan kisah para misionaris tentang kejahatan-kejahatan di kota ini, kota São Paulo, mengepung batok kepala saya. Inilah kota dengan tingkat kriminal yang rawan, kota dengan penggunaan obat-obatan tak terkontrol, kota dengan para penjahat tak sungkan menghabisi nyawa manusia. Inilah São Paulo.
Setiba di paroki, saya mendapati pintu pastoran berlapis-lapis dan tertutup kaku. Pintu pertama terbuat dari besi, memiliki kunci tersendiri. Pintu kedua dari kayu kelas atas dengan kunci tersendiri pula. Begitu juga jendela-jendela. Bagian luar dipasang terali-terali besi. Sementara tembok pagar dibangun setinggi mungkin agar tidak mudah dilompati.
Bukan hanya pastoran. Rumah-rumah umat di sekitar pun memiliki pintu dan jendela berlapis besi-besi. Pintu-pintu itu selalu tertutup. Pagar-pagar tembok pun tampak tinggi mengelilingi halaman rumah-rumah.
Saya pikir, semua di hadapan mata saya itu mewakili kenyataan hidup orang-orang di sini. Diam-diam, saya membayangkan kengerian-kengerian yang merongrong kehidupan orang-orang di sini, di São Paulo.
Saya tak kuasa lagi menahan kantuk setelah Pater Fernandus menyilakan kami menempati kamar tamu di parokinya. Putaran waktu yang berbeda di belahan bumi ini — pukul 11.00 pagi di Brasil adalah pukul 10.00 malam di tanah kelahiran saya, Indonesia Timur — membuat saya terlelap tak sadarkan diri di kamar paroki itu hingga pukul 08.00 malam.
Malam itu juga, setelah makan bersama, Pater Fernandus mengingatkan kami untuk beristirahat, karena pada subuh jam 02.00, kami harus kembali lagi ke bandara udara São Paulo untuk melanjutkan perjalanan misi kami ke rumah induk SVD Regio Amazon, tepatnya di Santarém, sebelah utara Brasil.
Kami butuh lima jam penerbangan ke Santarém. Kami berangkat dari Bandara São Paulo menuju bandara di Belo Horizonte, selanjutnya ke Belem, dan tiba di Santarém.
Subuh itu, Pater Fernandus Doren membangunkan kami, meminta kami menyiapkan diri, kemudian kami berangkat dengan mobil paroki menuju bandara São Paulo.
Di bandara, ia mengurus segala keperluan kami dengan sabar dan setia. Setelah itu, seperti Pater Eko, ia juga mengingatkan kami hal yang sama sebelum kami meninggalkannya dan masuk ke ruang tunggu.
"Usahakan selalu cek papan informasi di setiap bandara, karena sangat membantu. Jangan lupa tanya ke petugas-petugas bandara," katanya penuh kebapakan.
Di antara banyak hal baik yang ia berikan untuk kami di waktu yang singkat itu, saya menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dengan cara-Nya sendiri. Kebaikan-kebaikan sederhana yang ia berikan untuk kami adalah gambaran kasih Allah yang tak pernah selesai dalam hitungan waktu: kasih tak pernah mengenal singkat atau lama, tak menunggu cepat atau lambat; kasih adalah abadi, karena Ia sendiri adalah kasih.
***
Kamis, 23 Januari 2025 waktu Amazon-Brasil, kami tiba dengan selamat di Santarém setelah melewati kejutan-kejutan di bandara. Rupanya, tidak semua petugas di bandara Belo Horizonte dan Belém dapat berbahasa Inggris. Di antara sedikit itu pun, mereka benar-benar tak menguasai bahasa Inggris dengan baik.
Karena itu, satu-satunya cara adalah selalu mengecek papan informasi di setiap bandara. Selebihnya, kami menunjukkan kepada mereka tiket pesawat kami dan menjelaskan kepada mereka dengan bahasa tubuh sambil berharap mereka dapat menerjemahkan niat kami: tolong tunjukkan kepada kami ruang tunggu untuk pesawat ke Belém atau ke Santarém.
Syukur bahwa papan informasi, sebagaimana kata Pater Fernandus, sungguh membantu kami orang asing. Ditambah lagi, bahasa tubuh yang jujur telah memudahkan mereka menerjemahkan niat kami. Hasilnya adalah kami tiba dengan selamat di bandara Santarém.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota kecil ini, saya mendapati Santarém seperti tercipta dari panas, walau di tubuhnya terbentang sungai-sungai panjang yang mengalir tak kunjung selesai.
Pater Regional Amazon, Pater Leonardo Gade, SVD, misionaris dari Ende-Indonesia yang telah lama bekerja di tanah Amazon, bersama Pater Wayan, SVD, misionaris dari Bali-Indonesia, menjemput kami dengan mobil.
Tubuh saya sudah tidak mampu menanggung lelah dan perih dari dalam. Perjalanan yang seharusnya indah akhirnya menjadi hambar karena tubuh tak lagi kuasa menanggung sakit.
Saya terpaksa menelan obat lambung sebelum akhirnya memuntahkan semua isi perut, walau sebagian besar yang keluar adalah angin.
Di saat-saat seperti itu, cinta Tuhan menjelma dalam bentuk kehadiran saudara-saudara se-konggregasi SVD. Saya pikir, inilah alasan Yesus mengutus para murid-Nya pergi berdua-dua.
Berdua-dua, dalam pengalaman perjalanan saya kali ini artinya saling menopang, saling menolong, saling menguatkan, saling menghibur. Lebih dari itu, perutusan berdua-dua menegaskan tentang arti penting kehadiran seseorang dan kesediaan untuk berjalan bersama-sama.
Ketika tiba di rumah induk, saya mendapati rumah itu tak memiliki pagar tembok sebagaimana saya lihat di São Paulo. Rumah itu berada tepat di jalan Tapajós (jalan utama), berada tepat di hadapan pelabuhan kapal-kapal yang menyeberangi sungai Tapajós dan sungai Amazon.
Halaman depan rumah induk itu penuh kendaraan roda dua maupun roda empat. Pintu depan tak berlapis. Hanya sebuah pintu kayu berwarna biru. Sementara jendelanya adalah jendela kaca dilindungi terali besi dari luar.
Toko-toko dan perumahan lain di sekitar rumah induk itu juga tak semuanya memiliki pagar tembok. Tak semua pintu berlapis-lapis, kecuali jendela. Adakah itu tanda kota ini sedikit lebih aman? Atau dengan kata lain sedikit jauh dari kejahatan?
Apa pun kondisi dan situasinya, saya telah siap memulai misi di tanah ini, negeri Samba.
***
Usai meletakkan segala barang bawaan dan mengurus diri, saya merebahkan diri di tempat tidur di dalam kamar di rumah induk SVD di Santarém. Berharap lelah, demam, dan batuk perlahan-lahan pulih.
Santarém, Januari 2025

0 Komentar