Ilustrasi: pixabay.com

Hari ini, umat Katolik memperingati Hari Arwah Semua Orang Beriman. Kita mendoakan semua orang yang telah meninggal. Keluarga kita masing-masing dan mereka yang kita kenal yang telah berpulang merindukan doa kita agar mereka diperkenankan bergabung dengan para Kudus di surga.

Lebih jauh, perayaan hari ini menyadarkan kita terkait dua hal penting, yakni: 

Pertama, hubungan kita dengan mereka yang telah meninggal tidak akan pernah putus, tidak akan pernah selesai. Itulah sebab kita selalu membakar lilin dan tidak pernah selesai mendoakan mereka. Itulah alasan kemanapun kita pergi, kita selalu meminta mereka untuk bersama kita, meminta mereka menjaga kita. Itulah alasan kita selalu meletakkan makanan dan minuman di atas meja atau di atas kubur mereka.

Semua itu karena kita yakin bahwa hubungan kita dengan mereka tidak pernah berakhir oleh kematian.

Kedua, cinta atau kasih sayang kita kepada mereka melibatkan Tuhan.

Tubuh dan raga kita terpisah: mereka dimakamkan di dalam tanah, dan kita masih hidup di atas tanah. Kita seakan terpisah oleh jarak: mereka di alam baka, dan kita di dunia nyata.

Maka untuk menyatukan kita dengan mereka, kita perlu/harus melibatkan Tuhan. Kita butuh Tuhan untuk satukan kita. Sarananya adalah doa: doa kita supaya mereka mengalami kebahagian abadi di sorga, doa kita supaya mereka menjadi pendoa bagi kita. 

Itu semua kita butuh Tuhan. Dialah sumber/pokok anggur yang menyatukan kita ranting-ranting-Nya; Dialah gambaran cinta yang tidak pernah selesai. "Supaya dari semua yang diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang". Inilah gambaran cinta yang tak pernah lekang, tak pernah tuntas.

Karena itu, mari kita libatkan Tuhan dalam urusan mencintai. Hanya dengan itu jarak menjadi tiada, dan kita abadi. Tuhan sayang.

Detukeli, 2024