Foto ilustrasi: selo lamatapo

Rumah 'induk' SVD Regio Amazon berada di kota Santarém. Setiap misionaris baru yang akan bekerja di Regio Amazon, pertama-tama diterima di rumah ini. Para misionaris akan mengikuti kursus dasar bahasa Portugis dan perkenalan secara umum tentang misi di Regio Amazon.

Rumah ini berlantai dua, berhadapan dengan sungai Tapajós dan sungai Amazon. Ada banyak kamar di rumah ini —kamar kosong untuk setiap misionaris baru dan juga untuk para misionaris yang tiba dari pedalaman untuk pertemuan bersama dan juga untuk kebutuhan di kota Santarém. Regional dan beberapa dewan tinggal di rumah induk ini sambil melayani paroki-paroki di kota ini.

Di depan rumah ini terdapat pelabuhan kapal dan taman kota. Biasanya, kapal-kapal berlayar dari kota lain dan dari pedalaman untuk tiba di kota ini. 

Kerapkali, saya duduk dekat jendela kamar makan di lantai dua untuk melihat kapal-kapal berlayar menjauh dan mendekati pelabuhan-pelabuhan. Di kejauhan terlihat secara jelas sungai Tapajós dan sungai Amazon mengalir menyatu. Tapajós terlihat keruh sementara Amazon kecoklatan.

Selanjutnya, pada pagi dan sore hari, taman kota selalu dipenuhi para pedagang, pejalan kaki, nelayan, orang-orang jalanan. Masing-masing orang tampak sibuk dengan diri sendiri, dengan keluarganya, dengan orang-orang dekat mereka, dan juga dengan anjing kesayangan mereka —anjing di Brasil, pada umumnya, adalah hewan peliharaan yang dilindungi dan dianggap sebagai anggota keluarga. 

Di sisi lain, toko-toko berjejeran menghadap ke sungai. Etalase toko-toko penuh aneka barang jualan. Kendaraan roda dua dan roda empat lalu lalang di jalanan beraspal. Lampu-lampu jalanan menerangi pejalan kaki, para pedagang, dan mereka yang mengisi kekosongan dengan memancing di sungai keruh itu. Kota itu bising hingga larut malam.

Pukul enam sore hingga larut malam, biasanya taman sepanjang sungai di kota ini dipenuhi orang-orang. Mereka telah menutup toko pukul lima dan telah kembali dari tempat-tempat kerja mereka. Dan waktu ini adalah waktu untuk bersama keluarga berjalan di bawah terang lampu kota, waktu untuk lopas, atau menemani anak-anak bermain di taman itu. 

Kota ini menjadi lebih sibuk kala ada pesta—apa pun pestanya, biasanya festival. Jalanan umum ditutup, polisi lalu lalang menjaga keamanan, para penyanyi dan penari diundang, dan musik di stem, lalu sisanya terdengar sorak-sorai lautan manusia di bawah tatapan langit malam Santarém. Kerapkali, festival berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu. 

Santarém, kota kecil nan indah dan kesibukan-kesibukannya menyodorkan saya pertanyaan kecil: apa yang ingin kau lakukan di sini, Padre (pastor)? 

Februari, 2025.