ilustrasi: pixabay.com

Sabtu malam 2025, pukul 19.00 waktu Brasilia. Saya merayakan Malam Paskah Kebangkitan Tuhan Yesus di Gereja Paroki Santo Yohanes Pembaptis-Gama, Brasilia. Itu merupakan pengalaman Paskah pertama saya sejak saya tiba di Brasil pada Januari 2025. 

Kebetulan saya sedang mengikuti kursus Bahasa Portugis dan kebudayaan Brasil di Cenfi, Brasilia. Dan salah satu program dari Cenfi adalah mengutus peserta kursus ke paroki-paroki untuk tinggal dan merayakan Paskah bersama umat. Paroki Gama merupakan salah satu paroki pilihan pihak Cenfi-Brasilia. Saya dan peserta kursus menetap di rumah umat selama empat hari untuk Paskah kali ini.

Di antara banyak pengalaman selama empat hari di Gama, saya tertarik untuk membagikan kesan pribadi saya terhadap satu pengalaman yang terjadi di malam Paskah, malam kebangkitan Tuhan Yesus. 

Malam itu, saya bersama Dona (Nyonya) Elena Maria – saya tinggal dirumahnya – berjalan menuju ke gereja. Rumah Dona Elena Maria berdekatan dengan gereja. Seharusnya, lima menit jalan kaki melewati  jalan umum, melintasi lapangan penuh rumput sebelum tiba di gereja paroki. Namun, Dona Elena Maria, perempuan paruh baya berusia 60-an tahun itu, bertubuh gemuk dan sakit-sakitan menyebabkan langkahnya berat, sehingga butuh waktu 7-10 menit untuk tiba di gereja paroki.

Pada saat melewati jalan umum, saya mendengar gaung musik dari bar bersamaan dengan teriakan muda-mudi. Mereka menari dalam remang lampu bar, sisanya menari di jalanan, berpasang-pasangan. Bar itu berada di dekat gereja paroki.

O que é isso? O que eles estão fazendo na la? (Apa itu? Mereka sedang apa?)” tanya saya untuk memastikan apa yang sedang saya pikirkan. Tangan kanan saya membantu memegang tangan kirinya agar ia tetap seimbang melangkah.

“Uma festa (itu sebuah pesta),” balasnya. Napasnya tersengal-sengal memikul tubuhnya sendiri. Selanjutnya, ia menjelaskan panjang-lebar sambil melangkah dengan berat. Saya tak menangkap banyak arti penjelasan dalam bahasa Portugis itu. Dari beberapa kata dan kalimat yang sudah saya pelajari sebulan lebih di Cenfi, saya menangkap bahwa kenyataan itu merupakan suatu kebiasaan di Gama. 

Sambil ia terus berkata, dari tengah lapangan itu pula, saya melihat orang-orang mulai berarak ke halaman gereja untuk upacara cahaya. Saya mengeratkan tangan saya ke tangan kirinya agar ia melangkah lebih baik.

***

Saya masih terganggu dengan dua kenyataan bersamaan itu: ekaristi malam paskah di gereja dan pesta di bar. Itu suatu pengalaman ‘lain’ dalam ziarah hidup saya. Diam-diam tumbuh pertanyaan dalam diri saya, ‘apakah Tuhan marah melihat kenyataan itu: pesta di bar bersamaan dengan momen kebangkitan-Nya?’ Kedengaran polos, juga tidak sangat mendesak. 

Namun, pertanyaan itu sekurang-kurangnya berguna bagi saya untuk bergumul lebih jauh tentang Tuhan dalam pandangan orang-orang di kampung saya di Indonesia dan pandangan orang-orang di Brasil: suatu kenyataan masa lampau yang sangat melekat kuat dalam diri saya (Indonesia) dan aneka pengalaman baru yang akan saya jumpai di tanah misi (Brasil).

Untuk sementara, mengutip Yohanes, saya mencatat: Tuhan tidak pernah marah, karena Tuhan adalah kasih (1 Yoh. 4:7). Kalau Dia adalah kasih, bagaimana bisa Dia marah? Saya mesti menyetir pola pandang saya. Bahwa dalam keributan apa pun, dalam situasi apa pun, Tuhan tetaplah Tuhan; Dia tetap mengasihi umat-Nya, sebab sekali lagi, Dia adalah Kasih.

***

Malam itu, saya menyaksikan tubuh Tuhan dimuliakan di atas altar, sementara gaung musik dan teriakan orang-orang dari bar masuk ke telinga. Tuhan tetaplah Tuhan, dan manusia selalu dekat dengan ‘kebisingan’. Mungkin itulah Paskah Tuhan dirayakan lagi dan lagi di setiap Tahun.

Brasilia, 25 April 2025