Foto ilustrasi: Selo Lamatapo.

Senin, 27 Januari 2025

Saya dan Pater Serafim, SVD memulai kursus dasar bahasa Portugis bersama seorang professora (ibu guru). Namanya Niumala. Kursus ini berlangsung di rumah induk kami (SVD Regio Amazon), di Santarém. Kursus dimulai dari pukul 08.30 sampai 12.00 waktu Brasil. 

Pater Regional, Pater Leonardo Gade, mengingatkan kami bahwa kursus ini berlangsung hanya sebulan. Selanjutnya, kami akan berangkat ke Brasília, ibu kota Brasil, untuk mendalami kursus bahasa Portugis dan budaya Brasil di Centro Cultural Missionário (CCM). 

CCM adalah lembaga kursus bagi para estrangeiros (orang-orang asing), khususnya para misionaris (pastor, bruder, suster, frater) dan para katekis. CCM membuka kursus dua kali setahun: Maret sampai Juni untuk gelombang pertama, dan September sampai Desember untuk gelombang kedua. Dan kami telah didaftarkan untuk mengikuti kursus gelombang pertama.

***

Di salah satu ruangan di rumah induk Santarém, kami duduk menunggu kedatangan Professora. Ini adalah hari pertama kami memulai kursus bahasa Portugis. Kami sudah melatih diri mengucapkan salam dan terima kasih sebagai pertemuan awal. 

Bom dia! (Selamat pagi!) dan obrigado (terima kasih). Selebihnya, ditambahkan nanti dalam kursus.

Ketika Professora tiba dan menyapa kami dengan salam, kami saling memandang sambil tersenyum dan membalas, bom dia! Saya ingat, ucapan itu terdengar mentah dengan balutan logat Ile Ape, Lembata. 

Sebagai ibu guru yang telah lama mendampingi para misionaris untuk kursus dasar bahasa Portugis, ia tahu dan memahami perjumpaan awal ini. 

Setelah bersalaman dan memulai kursus dengan perkenalan awal, kami mengetahui bahwa Professora Niumala tidak bisa berbahasa Inggris. Dengan demikian, kursus dasar ini menggunakan bahasa Portugis sebagai perantara. Dengan kata lain, kursus bahasa Portugis dengan bahasa Portugis! [Orang Bajawa bilang, wala!]

Hari pertama itu serasa pikul batu besar menuju gunung Ile Ape, seperti berenang cari ikan di sungai Amazon yang keruh. Saya tidak memahami banyak hal selain mengikuti Professora membuka lembaran buku dan mengulangi kalimat-kalimatnya. Kursus hari pertama tentang alfabet, dan saya merasa diri seperti Barek, anak dari Paman saya yang duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

Di kemudian hari, setelah hari-hari melalui kursus bersama Professora Niumala, saya menyadari satu hal penting: bahasa adalah alat komunikasi paling utama. Tanpa bahasa, saya tidak bisa buat apa-apa di sini. Juga, kalau tidak serius, maka bahasa bisa membawa kekacauan. 

Begitu pentingnya bahasa bagi misi dan kehidupan sebagai 'orang asing' di tanah orang. Mungkin inilah alasan Tuhan memilih mengacaukan bahasa orang-orang yang membangun menara Babel dalam kisah Kitab Perjanjian Lama. 

Sederhananya, bahasa itu penting dan utama!

***

Suatu waktu, usai kursus pagi itu, Professora Niumala menyampaikan satu hal untuk kami berdua: saya dan Serafim. Ia mengucapkan dengan pelan dengan maksud agar kami bisa memahami apa yang ingin dia sampaikan. 

Sialnya, kami benar-benar tak memahaminya. Kami telah bersepakat bahwa kami tidak menggunakan Hp selama kursus agar kami benar-benar mulai dari nol. 

Setelah berjuang semampunya dan benar-benar tak ada perubahan, meski kami telah menebak-nebak, saya kemudian meminta Serafim memanggil Pater Regional untuk menerjemahkannya bagi kami. 

Ketika Pater Regional menerjemahkannya kalimat-kalimat Professora, kami berdua saling memandang dan tersenyum karena tebak-tebakan rupanya sedikit kena, dan selebihnya jauh dari tebakan. 

Pater Regional tersenyum dan dengan lembut mengatakan kalimat-kalimat yang bagi saya itu semacam kekuatan untuk belajar bahasa, "Tidak apa-apa. Pelan-pelan, nanti juga kamu mengerti." 

Dia menerjemahkan kalimatnya itu kepada Professora dan mata ibu itu memandang kami dengan tulus seakan mengatakan hal yang sama, "Tidak apa-apa, pelan-pelan. Nanti juga kamu mengerti."

Kursus hari itu diakhiri dengan senyum setelah kepala kami penuh dengan banyak hal baru dan raut muka kami tampak bingung- bingung.

***

Lain hari, setelah mendalami aneka materi kursus dan kami telah bisa sedikit mengucapkan satu-dua kalimat, Professora tiba-tiba bercerita banyak hal kepada kami berdua. Kami benar-benar tak mengerti sama sekali, tetapi ia tetap menceritakan dengan raut wajah yang murung dan lelah. 

Dari raut wajah yang kian sedih, saya menangkap bahwa ia hanya ingin berbagi beban atau satu hal yang sedang mengganggu hatinya. Ia menyelesaikan perkataannya dan tampak sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Itu terlihat dari senyum tipis di bibirnya.

Usai kursus, Serafim mengutarakan bahwa dia sempat menggunakan Hp untuk dapat memahami apa yang Professora sampaikan. Rupanya benar, ia hanya benar-benar sedang ingin berbagi dengan kami. 

Bagi saya, ini satu pengalaman menarik. Ia tahu kami tak memberi solusi apa pun karena kami belum bisa berbahasa Portugis, tetapi ia berani menceritakan apa yang ia rasakan kepada kami. 

Di sini saya paham satu hal lain, benar bahwa bahasa adalah hal utama, pokok komunikasi, tetapi dalam situasi tertentu, kehadiran dan mendengarkan juga merupakan unsur lain yang menopang bahasa. Mungkin ini yang Yesus maksudkan dengan 'bahasa kasih': hadir dan mendengarkan.

Dua-duanya, bahasa sebagai komunikasi dan bahasa 'kasih', sama-sama dibutuhkan dalam misi: hadir dan mendengarkan. Selebihnya, Tuhan yang empunya misi akan melengkapi segalanya.

Februari, 2025