Ilustrasi: tutukoda

1/

Di perempatan jalan Wolonbetan, Maumere, Willy memelankan laju motor MegaPro. 

"Kenapa lagi?" tanya saya. Nada saya kesal karena lapar dan lelah. Kami baru selesai latihan teater di Aula Bhaktiyarsa Maumere, persiapan pementasan 100 tahun Konggregasi SSpS di Indonesia. Willy mengendari motor dan saya duduk di belakangnya. 

"Tema (maksudnya Teman), Lihat jam du. Su jam berapa?" tanya Willy. 
"Jalan su. Su lapar, mengantuk lagi begini baru." 
"Lihat du. Cepat su."

Saya mengambil Hp dan bilang, "su jam sepuluh lewat dua puluh menit."
"Oke. Pegang kuat. Saya lari tujuh menit dari sini sampe lapangan Wairpelit," balasnya sembari menetralkan gigi motor, lalu mengatur jaketnya. 

Saat ia melaju dengan kecepatan tinggi, saya hanya bilang, mati su. Ini jato dan selesai su. Willy tak mendengar itu. Ia berkonsentrasi pada laju motor dan saya berulang-ulang membuat tanda salib pada diri saya, berharap Tuhan jaga kami berdua. 

Tiap kali bertemu kendaraan di tikungan jalan, saya menarik napas, memanggil Willy, dan berulang-ulang membuat tanda salib. Namun, Willy tak juga memelankan laju motor. Ia tak memedulikan ketakutan saya. Yang ia tahu, ia tetap berkonsentrasi. 

Dan benar. Kami tiba di lapangan Wairpelit sesuai perkataannya. Ia memelankan laju motor, memanggil saya, "Tema."
Saya tak menjawab. Ia mengambil Hp di saku celananya lalu bilang, "Pas, Tema. Saya su bilang hanya tujuh menit." Ia tertawa. 
"Jangan terlalu takut la, Tema. Aman," tambahnya. 

Dari belakangnya, saya membalas, "Ini terakhir kali saya naik motor dengan ko. Jang harap saya minta ko lagi. Tida akan." 

Dia tertawa lepas, meramas gas motor dan melaju dengan kecepatan terukur menuju Unit Rafael Ledalero, tempat tinggal kami waktu itu. 

2/

Hari ini genap 40 malam kepulangan Willy. Ia pulang ke Rumah Bapa, bukan ke rumah Unit Rafael Ledalero. Ia pulang ke rumah yang dijanjikan Yesus, Guru dan Sahabat Willy. 

"Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada," (Yoh. 14:1-3).

Willy, kami kerap memandang ke atas sana karena kami percaya Rumah Bapa yang dijanjikan Yesus adalah rumah yang jauh di atas sana, teti kelen kowa lolon (di langit), tempat Allah bertakhta.
Karena itu, kami menyapa Wujud Tertinggi, Allah kami, sebagai Ama Lera Wulan, Ina Tana Ekan (Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi), Allah Bapa Mahakuasa yang bertakhta di langit, sekaligus Allah Maharahim yang merahimi dan menumbuhkan kehidupan di bumi. 

Rumahmu di Unit Rafael Ledalero, di Riangbaring, di Wairpelit, di dunia, ibu bumi ini adalah rumah tempat engkau bertumbuh dan menebarkan nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai Kerajaan Allah. Engkau sudah melakukannya untuk Allah, Bapamu, dan untuk kami semua, sesamamu. Karena itu, Tuhan menganggapmu telah layak dan memanggilmu pulang ke Rumah-Nya supaya kejahatan jangan mengubah dirimu, tipu daya jangan membujuk jiwamu, yang buruk tidak menyuramkan kebaikanmu (Bdk. Kebijaksanaan Salomo, 4:11-12).

Rumah Bapa yang dijanjikan Yesus adalah rumah abadi, (rumah tanpa motor MegaPro), tempat engkau bersama Yesus, sahabatmu, mendoakan kami yang masih berziarah di muka bumi ini. 

"Jangan lupa doakan kami dari teti kelen kowa, dari sorgamu, Willy."

3/

Kami mendoakanmu pada 40 malam kematianmu, Willy. Kami bersedih atas kepulanganmu karena kami sungguh memilikimu. 

Tapi, kami menaruh percaya, Tema sudah bahagia di sorga, di Rumah Bapa. Bersama Bapamu di sorga, tulun tede, liko lapak kame sampe nuan tutu, pandang dan lindungilah kami hingga selamanya. Bila tiba waktunya nanti, kami telah siap sepertimu. Dan yang lain akan menulis seperti Chairil Anwar:

 "Bukan kematian benar menusuk kalbu, keridhaanmu menerima segala tiba..." 

Willy, jaga kami seperti engkau di atas motor MegaPro. 

Salam dan doa.