![]() |
| Ilustrasi: pixabay.com |
Saya duduk di geladak kapal, mendengar lagu Dealova diputar pelan oleh nakhoda kapal.
"... aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu..."🎵
Saya memejamkan mata, membiarkan lirik lagu itu memenuhi kepala, membenamkan alunan piano dan petikan gitar ke dalam hati, lalu diam-diam membayangkan Once duduk di kursi tanpa sandaran, menyanyikan lagu itu dengan mata sesekali terpejam.
"... aku ingin mimpi indah dalam tidurmu.. aku ingin kau tahu bahwa aku selalu memujamu..."🎵
*
Hidup anak manusia dilengkapi keinginan-keinginan. Aku ingin menjadi.., aku ingin ke.., aku ingin makan..., aku ingin menggunakan..., aku ingin mendengar..., aku ingin memiliki..., aku ingin...
Penyair menerjemahkannya ke dalam bait-bait puisi yang indah. Sapardi Djoko Damono, misalnya, menulis demikian:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu/
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada/
Dengan lebih tegas, Charil Anwar merumuskannya, aku mau hidup seribu tahun lagi/
Ya, aku ingin.
*
Manusia memiliki keinginan segalanya: mencintai, hidup lebih lama, dan aneka keinginan lain. Namun, kenyataan jatuh dengan caranya sendiri, bisa sesuai keinginan, bahkan jauh lebih kejam.
Terhadap sesuatu yang jauh dari keinginan, manusia mulai kehilangan kendali, patah, jatuh, dan tak sungkan mengakhiri hidupnya. Albert Camus, Sastrawan dan Filsuf Prancis, pernah menyinggung hal ini. Bahwasanya, manusia berusaha ingin mengetahui segalanya, tetapi dunia hanya menampilkan kepingan-kepingan tak utuh. Lalu, manusia merasa sia-sia menjalani hidup di dunia. Di titik ini, manusia merasa jenuh dan memilih mengakhiri hidupnya.
Dengan demikian, keinginan yang tumbuh dalam diri manusia menghantar manusia kepada dua kenyataan: menerima atau menolak.
*
Sedang Dealova dinyanyikan, saya membuka mata, melihat kapal motor lain bergerak meninggalkan pelabuhan. Bau laut naik ke penciuman.
Dari geladak kapal, saya menulis ini: 'aku ingin seperti kapal, tahu pergi, tahu kembali. hidup akan memperlakukanku dalam dua hal: menerima atau menolak, tetapi cinta Tuhan seumpama pelabuhan: senantiasa menantiku pulang.'
Pelabuhan Lewoleba, Oktober, 2022

0 Komentar