Sosok


Oleh Selo Lamatapo

Ulasan Sosok Ferdinandus Ndakung
foto oleh Selo Lamatapo

Kerja di mana saja kalau tidak tekun, maka tidak ada hasil.” – Ferdinandus Ndakung


Kegersangan alam Lia Nggere, Kecamatan Ende, tak menyurutkan cinta Ferdinandus Ndakung (42 tahun). Om Ferdi, demikian ia dikenal, tetap bekerja sebagai penjual batu di tepi jalan negara, di Gorondoko, Kilometer 16, Desa Tomberabu Dua, Kecamatan Ende. Baginya, alam dan segala isinya memiliki cara tersendiri membagi kehidupan. Kuncinya adalah ketekunan.

“Kerja di mana saja kalau tidak tekun, maka tidak ada hasil,” demikian kata Om Ferdi di suatu musim, Rabu, 31 Juli 2019.

Hari itu, dengan linggis dan hamar, Om Ferdi tampak sibuk memecahkan batu-batu yang menggantung hening di tepi jalan itu. Ia mengayunkan lengannya tanpa terburu-buru, tanpa ambisi. Yang ada hanyalah cinta yang setia. Cinta yang menghancurkan bebatuan menjadi keping-keping kecil untuk siap dijual. Lengan kecilnya seakan tercipta untuk menekuni pekerjaan ini.

“Sudah lama saya tekuni pekerjaan ini. Dan saya bisa menghidupi istri dan satu anak saya,” cerita Om Ferdi saat mengaso. Ia bersama tiga pekerja lain yang telah berumur tua: dua ibu-ibu dan seorang bapak.

Batu-batu itu dikumpulkan Om Ferdi menjadi dua kelompok. Satu kelompok kerikil dan satu lagi berukuran besar. Kerap, orang-orang yang melintasi jalan itu tak percaya bahwa itu adalah buah kerja tangan manusia; hasil keringat manusia tanpa menggunakan alat-alat teknologi bermerek. Mereka ini seenaknya menawarkan harga dengan aneka jurus kompromi.   

“Kalau enam ratus ribu untuk satu ret kerikil ini, maka kami beli dua ret,” kata Om Ferdi mengulang tawaran-tawaran pembeli.

Kebanyakan pembeli tidak peduli proses kerja keras Om Ferdi dan pekerja lain. Pembeli lupa bahwa kerikil dan kumpulan batu siap jual itu terkumpul dari tangan-tangan manusia yang setia dan tekun; sosok-sosok yang rela berjalan tanpa alas kaki sejauh satu kilometer pada pagi hari dan kembali pada petang hari; tubuh-tubuh yang memasrahkan diri pada terik matahari, dan berjuang dengan tangan merobohkan kokohnya batu-batu di tepi jalan itu. Pembeli lupa bahwa sosok-sosok itu hidup dari bebatuan itu.

“Saya jual dengan harga murah. Satu rit kerikil seharga Rp800 ribu, sedangkan batu untuk fondasi rumah satu rit Rp400 ribu. Kalau ada kebutuhan mendesak, seperti anak sakit, adat istiadat, atau bayar uang sekolah, maka saya jual saja sesuai tawaran pembeli. Saya selalu yakin bahwa tetap ada orang yang mau beli,” cerita Om Ferdi tanpa beban di atas tumpukan kerikil.


Solidaritas Pekerja

Di tepi jalan di bawah bebatuan yang menjulang tinggi itu, Om Ferdi bekerja bersama tiga orang lain. Om Ferdi tampak lebih muda dari mereka. Dengannya, Om Ferdi yang memecahkan bebatuan itu dan berbagi dengan mereka.

“Saya gunakan hamar dan linggis ini untuk pecahkan batu. Sesudah itu, kami kumpulkan bersama dan pecahkan menjadi kerikil. Karena saya yang agak muda, maka saya kumpulkan juga batu-batu untuk fondasi bangunan,” tuturnya.


Beberapa penjual batu sibuk bekerja. 

Hari itu, mereka tampak sibuk. Ada yang mengumpulkan batu dan yang lain memecahkannya menjadi kerikil. Masing-masing mereka bertekun dalam kerja. Beberapa tumpukan kerikil telah menggunung dan siap dijual.

“Masing-masing kami punya tumpukan kerikil yang siap dijual. Harganya sama, satu rit kerikil seharga Rp800 ribu,” tambah Om Ferdi.


Sekolahkan Anak

Di tengah maraknya alat canggih teknologi, siapa yang pernah menduga bahwa bebatuan-bebatuan itu akan disulap menjadi kerikil-kerikil dengan tangan manusia yang hanya dibantu sebuah hamar dan linggis? Siapa yang pernah berpikir untuk berani mengais hidup dari bebatuan itu?

Om Ferdi dan para penjual batu di tepi jalan itu adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Mereka menolak merantau dan memilih mencecap susu dan madu di tanahnya sendiri.

Bagi Om Ferdi, alam Lia Nggere telah menghidupi istrinya, Maria Mbena (40 tahun), dan memenuhi pendidikan anaknya, Angela Bunga. Putri tunggalnya ini disekolahkan di SMP Maria Goreti Ende selanjutnya ke SMAK Frateran Ndao, dan kini mengenyam pendidikan tinggi sebagai mahasiswa FKIP Biologi Universitas Flores, Ende.

“Kalau musim kemiri, maka saya bersama istri pilih kemiri dan jual. Sayangnya, musim sekarang tidak jelas. Jadinya, saya lebih fokus kerja jual batu. Penghasilannya lumayan untuk penuhi kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak saya.” Om Ferdi menyulut sebatang rokok dan sempat menawarkan kepada saya.

Penghasilan yang sedikit itu tidak melemahkan niat Om Ferdi untuk tetap mencintai alam kelahirannya. Malahan ia berprinsip, ketekunan adalah kunci kesuksesan. Biar sedikit intinya tetap bersama dengan istri dan anak.

“Mau kerja di mana saja tapi kalau tidak tekun, maka tidak ada hasil. Alam punya cara sendiri bantu kita. Asalkan jangan sakiti alam. Sebab mereka itu hidup, mereka itu bernyawa. Kalau kita baik terhadap mereka, maka mereka bantu kita, mereka jaga kita. Dan itu saya sudah rasakan sekian lama,” pesan Om Ferdi. Ia menyemburkan asap rokok terakhir dan tampak menggelung-gelung ke udara. Sesudah itu, ia lanjut memecahkan batu-batu.

Hidup itu perjuangan. Mereka yang bertekun mengalahkan kesia-siaan sebagaimana Om Ferdi dan kawan-kawannya. Mereka menjadikan bebatuan berguna dan menyemburkan kesia-siaan bagai menyemburkan asap rokok yang menggelung-gelung lalu menghilang. 

(Tulisan ini pernah tayang di Flores Pos versi cetak)