Sosok
Oleh Selo Lamatapo
![]() |
| Mario Capestrano Gesiradja |
Taman baca menjadi pilihan Mario Capestrano Gesiradja untuk menabur asa masa depan anak-anak Ende. Melalui taman baca, sosok muda berusia 26 tahun ini menemukan panggilan hatinya: menyediakan dan menyebarkan benih-benih kebaikan bagi sesama.
“Sewaktu menjalankan KKN di Bengkulu, saya menyaksikan anak-anak di Bengkulu belum bisa membaca. Saat itu pula, saya teringat anak-anak di kampung saya,” ujar Mario tercenung mengenang masa kuliahnya.
Sebenarnya, itu puncak dari segala pengalaman yang telah lama menumpuk di benak Mario. Ia telah menyaksikan ketertinggalan yang dialami anak-anak Ende secara khusus dan NTT pada umumnya.
“Saya pernah ikuti lomba Ekonomi antar-SMA di tingkat nasional, di Manado. Saya mengalami anak-anak NTT sangat tertinggal dalam banyak hal. Entah kenapa, tapi itulah yang saya alami,” ungkap Mario.
Pengalaman itu mengantar Mario mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Ende pada Februari 2018 di tanah kelahirannya, Onekore-Ende. Taman baca itu menjadi tempat anak-anak membaca, mendongeng, bermain, bernyanyi, berkreasi, dan segala kreativitas yang meningkatkan pengetahuan serta membentuk karakter diri mereka. Taman baca itu membebaskan mereka dari segala bentuk kekangan. Di situ, mereka bertumbuh perlahan-lahan dan semakin mengenal diri.
“Amat tak berguna bila prestasi-prestasi saya hanya bercokol dalam diri saya. Saya mesti berbuat sesuatu untuk orang-orang di kampung saya. Mana tau, dari kampung, anak-anak membanggakan Indonesia kelak,” cerita Mario mengulang tekad besar di hatinya kala itu.
Tanpa Dana
Berbekal buku-buku koleksi pribadi, Mario berjuang mengentaskan ketidaktahuan yang membelenggu anak-anak kampung. Buku-buku itu ia kumpulkan sejak SMA dan perguruan tinggi. Ia memulai tanpa dana khusus dari siapa pun.
![]() |
| Mario saat bersama anak-anak di Ende. |
“Saya mulai saja dengan buku-buku yang ada. Teman-teman yang peduli, saya ajak kerja sama. Kami berjuang bersama-sama,” tutur Mario yang telah mengumpulkan aneka buku bacaan sejak kecil hingga kini.
Alhasil, banyak orang muda telah terdorong terlibat dan peduli kepada sesama. Mereka membuka taman bacaan bagi anak-anak, remaja, orang dewasa, dan orang tua. Taman bacaan itu tersebar di Kota Ende maupun di beberapa desa di Ende.
Jangka Panjang
Literasi yang ditekuni Mario adalah literasi dasar yang berhubungan dengan meningkatkan minat baca anak-anak, meningkatkan kemampuan menulis dan berhitung.
Bagi Mario, hal itu merupakan kerja jangka panjang. Proyeksinya adalah anak-anak yang berusia 6-10 tahun. Mereka akan menjadi remaja yang mencintai baca buku di 5-10 tahun ke depan. Remaja yang mencintai baca buku akan menjadi pemuda-pemudi yang mencintai baca buku pada 10-15 tahun ke depannya lagi. Pemuda-pemudi yang mencintai baca buku akan menjadi orang tua yang mencintai baca buku pada 20-25 tahun ke depan. Orang tua yang mencintai baca buku akan mengajar anak-anaknya untuk mencintai baca buku. Begitulah siklusnya.
“Jadi, ini proyek jangka panjang, tidak akan dirasakan secara langsung. Saya percaya, satu langkah kecil ini bisa mengubah Ende dan NTT menjadi daerah yang lebih baik,” kata Mario penuh harapan.
(Tulisan ini pernah tayang di Flores Pos cetak)


0 Komentar