Oleh Selo Lamatapo

Ilustrasi dari Selo Lamatapo

Dengan langkah ringan, Ys menyeret kakinya menuju mimbar sabda di Kapel Biara Santo Konradus-Ende. Hari itu, Sabtu 30 November 2019. Detak jarum jam hampir pukul 18.00 Wita. Ys akan mengisahkan pergulatannya mengidap HIV dan AIDS.

Di mimbar, ia tersenyum. Pandangannya penuh kepada kami, anggota FKKR. Hari itu ada rekoleksi bersama menyongsong Hari AIDS Sedunia yang diperingati pada 1 Desember.

Kami duduk menunggu pada bangku-bangku panjang dalam kapel. Hening. Tuhan juga hening di kayu salib. Lalu, bunyi kresek mic terdengar di sana. Ys memulai kisahnya.

“Saya dapat penyakit ini dari suami saya. Saya baru tahu setelah suami saya meninggal dunia.” Ia tahan sebentar dan melanjutkan, “Sejak itu, hidup saya mulai berbeda. Saya benar-benar tidak lagi bersemangat dan dilanda putus asa.”

Menit-menit selanjutnya, ia menuturkan jalan panjang penderitaan menanggung penyakit HIV dan AIDS. Apabila diringkas, maka hal yang tercatat paling kejam adalah penolakan dan stigmatisasi.

“Saya pernah kerja pada salah satu toko di Ende. Tetapi beberapa hari kemudian, pemilik toko memanggil dan memberhentikan saya. Alasannya, jumlah pekerja yang ada sudah cukup. Belakangan, saya tahu dari teman saya bahwa saya diberhentikan karena pemilik toko mengetahui penyakit saya. Pemilik toko tahu dari teman saya yang juga bekerja di tempat yang sama,” ujarnya.

Dengan suara agak tenang, ia mengutip lagi pesan yang pernah ia sampaikan kepada temannya setelah mendengar kabar itu, “Kalau penyakit ini datangnya diminta, maka saya tidak pernah meminta penyakit ini untuk menetap di tubuh saya. Penyakit ini menimpa saya tanpa saya ketahui. Penyakit ini juga menimpa siapa saja. Semoga teman jaga diri.” Pesan ini terngiang di telinga saya. Berdenging seperti lebah di sarang. 

Pesan Ys menjadi awasan, bukan kutukan. Bahwasanya, betapa menderitanya mengidap HIV dan AIDS. Bukan penyakitnya, tetapi menghadapi tabiat sesama manusia. Kita akan dikucilkan, disingkirkan, ditolak, ditakuti, distigmakan dan pelbagai perlakuan mengerikan lainnya. 

Penolakan ini datang dari siapa pun. Ia bisa datang dari keluarga, teman dekat, kerabat kerja, maupun masyarakat. Mereka yang tak kuat menanggung penolakan ini tak sungkan-sungkan mengakhiri hidupnya. Itu sebabnya, derita yang paling kejam adalah menghadapi tabiat manusia, bukan penyakit ini. 

Di tengah menjamurnya aneka penolakan dan ketakutan, kita patut mengapresiasi keberanian Ys mengisahkan jalan panjang perjuangannya. Sedikit yang berani bersuara seperti Ys bukan karena mereka tidak bisa, tetapi mereka menyesalkan tabiat sesama yang bertubuh sehat. Kerap kita mengucilkan penderita HIV dan AIDS dengan cara apa pun.

Kita juga mengapresiasi dan mendukung segala upaya yang dilakukan pelbagai elemen untuk para penderita HIV dan AIDS. Ada kampanye dan ajakan peduli HIV dan AIDS di Hari AIDS Sedunia, dan tindakan lain. Sekiranya, aneka tindakan positif itu dapat mengekang tabiat buruk sesama.

Di kapel sore itu, Ys berdiri riang di mimbar sabda. Dan Tuhan tergantung hening di salib. Apakah Ia yang sunyi di salib itu pun menolak Ys dan kawan-kawannya?

Saya sangka tidak. Ys masih tersenyum lebar. Sebab, Tuhan mencintainya dengan cinta yang dalam, sedalam paku menembus tangan-Nya.

Sakit ia tanggung, tetapi janganlah generasi penerus mengalami sakit yang sama. Untuk itu, ia berdiri tegar, berkisah dari kesunyian hatinya, dan mengajak generasi penerus mawas diri. Mawas diri, barangkali itu adalah langkah awal menolak HIV dan AIDS.

Dengan langkah ringan, Ys kembali duduk di bangku panjang. Rona wajahnya menyiratkan segala pesan. Bila ditulis, maka mirip pesan Charil Anwar, “Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing.” 


(Pernah tayang di Flores Pos).