![]() |
| Ilustrasi dari Selo Lamatapo |
Surat Kabar Harian Umum Flores Pos beberapa kali memuat prestasi para pelajar dari Flores. Prestasi-prestasi itu luar biasa. Di tingkat nasional, SMAS Katolik Regina Pacis Bajawa berhasil menyabet 6 medali emas kejuaraan nasional taekwondo di Semarang (FP, Selasa 7/5/19) dan juara pertama The Voice Indonesia yang diraih oleh Aldo Longa.
Sekolah-sekolah lain yang juga berprestasi adalah SMAK Frateran Ndao, SMAK Syuradikara Ende, seminari-seminari, dan sekolah lainnya. Masing-masing menyabet prestasi gemilang dalam banyak bidang.
Di tingkat perguruan tinggi, ada nama STFK Ledalero yang tidak ketinggalan meraup prestasi. Dua mahasiswanya berhasil menyabet juara dua lomba karya tulis Oscar tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang (FP, Kamis 9/5/19).
Sementara di tingkat provinsi dan kabupaten, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi meraih aneka juara. Ada yang menorehkan nama di bidang menulis karya sastra, karya ilmiah, di bidang seni berupa lukis, musik, dan lain-lain. Tentu ada banyak prestasi lainnya di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.
Bagi saya, deretan prestasi ini luar biasa. Amat membanggakan. Kita patut mengangkat topi dan mengacungkan jempol untuk aneka prestasi luar biasa ini. Namun, bukan ini yang menggedor nalar saya untuk menulis penggalan cerita ini.
Saya teringat sosok lain di tengah riuh ramainya prestasi yang ditorehkan anak-anak Flores dari pelbagai sekolah dan perguruan tinggi saat ini. Sosok ini nyaris terlupakan kalau saja sebuah prestasi tidak menghantarnya pada perkenalan kami. Begitulah hidup. Seorang anak manusia yang tak berprestasi bisa saja tak akan pernah dikenal orang lain.
Adalah Nadia, sosok mungil berambut lurus, beralis halus, dan berwajah oval, tiba-tiba memenuhi seluruh ingatan saya. Prestasinya menggedor-gedor nalar saya untuk menulis tentangnya. Siswi kelas IV Sekolah Dasar Inpres (SDI) Lokoboko-Ende ini berhasil membanggakan nama sekolahnya. Ia mengharumkan nama SDI Lokoboko melalui prestasi yang bagi saya amat luar biasa: juara satu lomba mendongeng antarsekolah di Kabupaten Ende.
Tentu, ini bukan suatu prestasi yang luar biasa di telinga dan mata banyak orang. Sebab, bagi kebanyakan orang, juara satu tingkat kabupaten dalam lomba mendongeng adalah bukan level yang luar biasa. Namun, saya menganggap kejuaran ini adalah sesuatu yang amat mengagumkan dan membanggakan. Pasalnya, Nadia berhasil mengangkat nama SDI Lokoboko, sebuah sekolah di kampung dengan segala keterbatasan fasilitas pendukung belajar mengajar dan sekolah yang tidak pernah menjadi incaran media mana pun. Untuk itu bagi saya, Nadia adalah pahlawan.
Nama lengkapnya Maria Nadia Sartika Te. Nadia demikian ia disapa ayah, ibu, serta guru dan teman-temannya di sekolah. Terakhir kali saya bertemu dengan Nadia pada Selasa, 30 Oktober 2018 di ruang guru SDI Lokoboko.
Waktu itu, saya mewawancarai Nadia sebagai peserta yang meraih juara satu lomba mendongeng antarsekolah dasar di Kabupaten Ende. Lomba ini digelar pihak Majalah Kunang-Kunang di pelataran Toko Buku Nusa Indah Ende selama dua hari, Jumat-Sabtu (26-27/10/18).
Untuk sampai di SDI Lokoboko yang terletak jauh di luar kota Ende, saya harus melintasi ruas jalan berlubang dan jalan tanah yang berdebu. Saya perlu bertanya kepada setiap orang yang saya jumpai di jalan agar tidak tersesat.
“Lari lurus terus ke depan sana. Jangan belok lagi. Di depan jalan sana ada papan nama SDI Lokoboko. Itu sekolahnya,” terang seorang ibu rumah tangga yang kebetulan berpapasan dengan saya di pertengahan jalan.
Saya meneruskan perjalanan melintasi jalan berlubang itu dan menemukan papan nama sekolah itu. Tulisannya hampir pudar. Saya memasuki halaman sekolah dan memarkir motor di bawah pohon mangga. Tiada orang yang lalu lalang di emperan sekolah maupun halaman. Rupanya, para siswa sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Saya memasuki ruang guru yang terletak di dekat pintu masuk gerbang sekolah itu. Seorang guru perempuan muda menyambut kedatangan saya dengan heran. Ia baru paham usai saya menjelaskan maksud kedatangan saya.
“Kepala sekolah bersama para guru sedang mengadakan pertemuan. Sebentar lagi selesai. Bisa tunggu sebentar,” katanya seraya mempersilakan saya duduk di sebuah kursi pada ruangan itu.
Kepala sekolah bersama beberapa guru memasuki ruangan itu usai pertemuan. Guru muda tadi menyampaikan tujuan saya kepada kepala sekolah. Kepala sekolah menghampiri saya dan kami berbincang cukup lama.
“Adik Nadia masih sakit karena kelelahan setelah tampil dua hari itu. Ia tidak hadir hari ini. Besok, kami akan siapkan Nadia agar bisa membawakan lagi dongengnya sebelum diwawancarai,” ujar kepala sekolah dengan nada menyesal disertai permohonan maaf yang mendalam. Kami bersepakat untuk bertemu lagi pada keesokan harinya.
Selasa, 30 Oktober 2018, saya mengendarai motor butut saya ke sekolah itu. Mudah menemukan sekolah itu karena baru kemarin saya berada di sana. Saya menjumpai Nadia berpakaian adat Nagekeo. Rupanya ia akan membawakan dongeng kemenangan itu di hadapan saya.
Nadia yang kecil dan polos menyambut kedatangan saya dengan senyuman yang ramah dan tulus. Kami berdua bercerita serupa dua kakak adik yang baru bertemu. Sementara para guru sibuk menyiapkan peralatan pendukung cerita dongeng yang akan dibawakan Nadia di hadapan saya. Hari itu juga Nadia tampil memukau di hadapan saya. Ia mendongeng di hadapan saya dengan percaya diri yang tinggi. Ia menguasai isi cerita dan meragakannya dengan maksimal. Ia tuntas mendongeng dan saya puas.
“Nadia memiliki daya tangkap yang cepat dan baik. Dia juga penurut sehingga tidak menyulitkan kami saat melatihnya,” cerita Maria Bertina Tala, salah satu guru pendamping Nadia, seraya membereskan segala peralatan yang digunakan Nadia.
Nadia duduk di samping saya usai mendongeng. Saya menatapnya dalam sekali. Dari sinar bola matanya, saya menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi.
“Dari sekolah ini saya sendiri yang ikuti lomba mendongeng. Pada hari lomba, saya ditemani ibu kepala sekolah dan ibu pendamping. Kami tiga ibu saja. Teman-teman tidak ikut karena jauh di kota. Sampai di sana saya lihat sekolah-sekolah lain seperti SMPK Sta. Ursula dan sekolah lain ada yel-yel. Mereka juga didukung teman-teman mereka. Saya lihat ibu kepala sekolah dan ibu pendamping tidak punya harapan. Tapi, saya tidak gugup dan takut. Saya tampil dengan berani di hadapan juri dan penonton,” cerita Nadia berseri-seri dan polos. Tidak ada kepalsuan dalam dirinya.
“Saya dan ibu pendamping sangat cemas bahkan tidak punya harapan ketika melihat peserta lain dari sekolah kota lengkap dengan yel-yel. Waktu itu, kami adalah satu-satunya peserta dari luar kota. Jadi, kami tidak berharap untuk menang. Kami hanya mau anak kami dapat mengembangkan karakter dan rasa percaya diri di hadapan publik, khususnya keberanian anak untuk bersaing dengan sekolah lain di kota. Sebab, sekolah di desa identik dengan ketertinggalan dan dipenuhi rasa minder yang akut. Namun, semuanya terjadi di luar dugaan kami. Nadia lolos pada hari pertama dan menjadi juara satu setelah tampil pada hari kedua,” cerita Kepala SDI Lokoboko, Tresia Sengu, bernada syukur dan bangga.
“Waktu dengar pengumuman hari kedua bahwa Nadia juara, saya sempat memastikan apakah saya salah dengar. Tapi, sungguh hari itu Nadia membuat saya bangga di hadapan sekolah-sekolah lain. Ibu kepala sekolah tidak sempat ikut karena urusan sekolah di kantor dinas. Saya sendiri yang mendampingi Nadia untuk hari kedua itu. Betapa bahagianya kami berdua waktu itu berdiri di hadapan peserta lain dari kota untuk menerima hadiah sebagai pemenang. Jauh dalam diri saya terselip kebanggaan luar biasa bahwa sekolah kampung juga mampu bersaing. Juara tidak mengenal sekolah mana pun. Saya memeluk erat Nadia dan menangis terharu atas prestasinya,” tutur Maria Bertiana Tala, guru pendamping Nadia.
Saya menyimak semua cerita mereka dengan saksama. Bagi saya, mereka ini adalah pahlawan yang berani menentang dan meruntuhkan stigma bahwa sekolah kampung identik dengan ketertinggalan, sekolah kampung identik dengan minder yang akut, sekolah kampung tak punya apa-apa dalam banyak hal. Stigma ini runtuh di hadapan Nadia yang berani dan penuh percaya diri. Stigma ini runtuh di hadapan para guru yang setia, rendah hati, dan penuh cinta mendukung anak didiknya.
Di sekolah itu, saya menemukan kekuatan terbesar dalam hidup manusia adalah kepercayaan diri, keberanian, setia, rendah hati, dan cinta yang menyeluruh. Dengan ini, keberhasilan dalam hidup tak mengenal status, jabatan, dan segalanya.
Begitulah tiba-tiba saya terkenang Nadia di tengah riuh ramainya prestasi anak manusia di kolom media mana pun hingga detik ini.
(Tulisan ini pernah dimuat di Flores Pos).

0 Komentar