Oleh Selo Lamatapo
![]() |
| Ilustrasi dari Robert Watowai |
Tulisan ini ditulis di tengah euforia rutinitas tahunan
Sumpah Pemuda yang barusan usai. Penyeleksian pimpinan-pimpinan. Pagelaran
festival dan seni di mana-mana. Begitu ramai, begitu menggebu-gebu.
Tulisan ini ditulis di tengah kesibukan segala makhluk
hidup di bumi yang kian keropos, panas, dan hangus. Bumi yang kini
tersengal-sengal. Juga sedang marah. Siapa pula yang peduli denganmu, bumi?
Orang-orang begitu sibuk. Seperti berada di pasar
malam. Menawar, melelang, membeli sesuka hati, sesuka keinginan. Dan koran-koran
seakan sedang menghitung waktu kematian manusia di tengah hingar bingarnya
hidup di bumi yang keropos, kering, panas, dan hangus. Siapa pula yang peduli
padamu, bumi?
Barangkali Mama Aleta Baun, perempuan pejuang
lingkungan hidup dari TTS, NTT. Mbah Sadiman, petani tua dari Wonogiri, Jawa
Tengah. Yohanes Wambrauw, guru SMP dan pengabdi lingkungan hidup di Pulau
Numfor, Papua. Siapa lagi? Mungkin, ada satu atau dua orang di pelosok-pelosok
Flores yang bekerja dalam diam untukmu, bumi.
Adakah di antara mereka itu adalah kaum muda yang
kemarin berteriak-teriak? Bersumpah-sumpah: bertanah air, berbangsa, dan
berbahasa yang satu? Di mana kaumku yang duduk di ruangan ber-AC, menghindari
panas, merumuskan ide-ide?
Tengoklah Mbah Sadiman yang kian sepuh itu. Rambutnya
telah memutih seperti malai ilalang. Bekerja dalam senyap lantaran tak tega
menyaksikan hutan-hutan kian gundul dan persediaan air semakin kritis. Lelaki
tua yang mengorbankan uang pribadi, waktu, dan tenaga untuk menanam, merawat,
mengganti beringin-beringin yang mati supaya menyerap setetes air. Rela dicap
gila demi kehidupan banyak orang. Sebab, ia tahu betapa berharganya setetes
air.
Pandanglah, Mama Aleta Baun yang kian berumur itu. Ia berani mempertaruhkan nyawa menyelamatkan alam dari cengkeraman pertambangan marmer di Desa Fatukoto. Rela diintimidasi, diburon demi masa depan generasi penerus.
“Merusak alam sama dengan merusak tubuh kita sendiri,” begitu katanya kepada CNN Indonesia.
Dan, Yohanes Wambrauw yang kian renta itu. Ia berjuang menghadang abrasi dengan menanam pohon mangrove. Begitu tabah menahan ulah warga yang kerap mencabut tanaman itu. Rela dikata gila untuk kehidupan orang lain.
Masih kuatkah kaki dan tangan-tangan itu? Mereka telah bertambah rapuh. Bersamaan dengan bumi. Semakin keropos. Tetapi, manusia selalu datang dan pergi. Seperti di pasar malam. Yang satu gugur, yang lain tumbuh. Tak habis-habisnya. Tanpa peduli bumi kian tua.
Kita yang hidup saat ini mengantre di keran-keran untuk setetes air. Menyaksikan hutan-hutan yang gosong. Sibuk menyeleksi pemimpin dengan dalih: hindari KKN. Tapi, ujung-ujungnya diseret ke Rutan.
Kita yang hidup saat ini lebih banyak euforianya. Gelontorkan dana untuk rutinitas tahunan dan hanya menjawabi kebutuhan segilintir oknum. Adakah yang peduli padamu, bumi?
Tulisan ini ditulis di siang yang panas. Di saat bumi bagai bara api yang menjanjikan kematian. Di waktu orang-orang sibuk melelang, menawar, membeli sesuka hati, sesuka keinginan. Seperti di pasar malam. Siapa pula yang peduli padamu, bumi?
Tulisan ini….
Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan sebatang lilin. Sudah waktunya selamatkan bumi. Mama Aleta, Mbah Sadiman, dan Om Yohanes memanggil-manggil.
Pandanglah, Mama Aleta Baun yang kian berumur itu. Ia berani mempertaruhkan nyawa menyelamatkan alam dari cengkeraman pertambangan marmer di Desa Fatukoto. Rela diintimidasi, diburon demi masa depan generasi penerus.
“Merusak alam sama dengan merusak tubuh kita sendiri,” begitu katanya kepada CNN Indonesia.
Dan, Yohanes Wambrauw yang kian renta itu. Ia berjuang menghadang abrasi dengan menanam pohon mangrove. Begitu tabah menahan ulah warga yang kerap mencabut tanaman itu. Rela dikata gila untuk kehidupan orang lain.
Masih kuatkah kaki dan tangan-tangan itu? Mereka telah bertambah rapuh. Bersamaan dengan bumi. Semakin keropos. Tetapi, manusia selalu datang dan pergi. Seperti di pasar malam. Yang satu gugur, yang lain tumbuh. Tak habis-habisnya. Tanpa peduli bumi kian tua.
Kita yang hidup saat ini mengantre di keran-keran untuk setetes air. Menyaksikan hutan-hutan yang gosong. Sibuk menyeleksi pemimpin dengan dalih: hindari KKN. Tapi, ujung-ujungnya diseret ke Rutan.
Kita yang hidup saat ini lebih banyak euforianya. Gelontorkan dana untuk rutinitas tahunan dan hanya menjawabi kebutuhan segilintir oknum. Adakah yang peduli padamu, bumi?
Tulisan ini ditulis di siang yang panas. Di saat bumi bagai bara api yang menjanjikan kematian. Di waktu orang-orang sibuk melelang, menawar, membeli sesuka hati, sesuka keinginan. Seperti di pasar malam. Siapa pula yang peduli padamu, bumi?
Tulisan ini….
Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan sebatang lilin. Sudah waktunya selamatkan bumi. Mama Aleta, Mbah Sadiman, dan Om Yohanes memanggil-manggil.

0 Komentar