Oleh Selo Lamatapo
![]() |
| ilustrasi oleh April Koten |
“HIV itu permen kah? AIDS itu gula-gula kah?” Seorang bocah ingusan bisa jadi bertanya demikian kepada ibunya, ayahnya, kakaknya, tantanya, atau omnya. Toh, ia masih seumuran jagung yang sekadar ingin tahu. Syukur si bocah hanya bertanya. Apa jadinya kalau si bocah ingusan merengek minta dibelikan “permen HIV dan AIDS”?
Berbeda dengan orang dewasa. Mereka bukan hanya mencari tahu, tetapi mau pula membelinya. Mereka tahu bahwa “permen HIV dan AIDS” itu bisa menyebabkan kematian kalau diemut. Tetapi dilabrak saja. “Barang enak. Sayang kalau dibuang. Apalagi gratis.” Alhasil, nyawa melayang.
Penyakit HIV dan AIDS masih menjadi momok. Penyakit ini meluas ke pelosok-pelosok negeri, bahkan ke daerah-dearah terpencil. Flores Pos mencatat, ada lima kasus baru HIV dan AIDS di Flores Timur. Lima kasus baru ini berdasarkan hasil temuan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hendrikus Fernandez melalui Klinik Voluntary Counseling Testing (VCT) pada Agustus dan September 2019.
Wartawan Flores Pos, Frans Kolong Muda, menulis, data lima kasus baru tersebut ialah pengidap AIDS ada 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Sementara pengidap HIV sebanyak 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Para pengidap berprofesi sebagai tukang ojek, ibu rumah tangga, petani, dan swasta.
Rekaman data yang diterima Flores Pos dari Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Flores Timur menyebutkan, akumulasi temuan kasus HIV dan AIDS sejak ditemukan kasus pertama di Flotim atau di Provinsi NTT pada 1997 hingga September 2019 sebanyak 339 kasus, (FP, Sabtu 2/11).
Jumlah tersebut terbilang banyak. Belum yang terdata. Jumlah ini tersebar di pelbagai kecamatan. Para pengidap pun bervariasi dalam jenjang umur dan profesi.
Dalam besaran jumlah ini, banyak pihak telah bergerak menanggulangi penyakit HIV dan AIDS. KPA Flotim misalnya, telah memfasilitasi pembentukan warga peduli AIDS (WPA) di kelurahan dan desa. Juga mengadakan sosialisasi HIV dan AIDS serta pengambilan darah siswa di tingkat SMA/SMAK.
Pelbagai imbauan pun telah disampaikan. Semisal, menghindari perilaku seks bebas, perlu menjadi polisi bagi diri sendiri dan keluarga. Kerja sama lintas sektor juga dibangun untuk memberantas penyakit ini.
Bukan hanya imbauan. Pendampingan terhadap korban juga telah dilakukan. Orang berjuang menghapus stigmatisasi yang kerap mengkerdilkan niat korban untuk sembuh. Dengannya, korban merasa dijamah dan diperhatikan. Mereka tidak berjuang sendirian.
Semua upaya ini dilakukan untuk meredam dan memberantas penyakit HIV dan AIDS agar tidak meluas. Untuk itu, kita patut mengapresiasi dan terus mendukung upaya-upaya positif tersebut.
Bagaimana mendukungnya? Jadilah lampu bagi dirimu sendiri dan keluargamu. Ingat, HIV dan AIDS itu seperti permen. Ia dibeli, bahkan diberi gratis. Kadang oleh “pedagang permen”. Atau juga orang-orang yang dijumpai di mana saja: di jalanan, di pasar, di toilet umum, di hotel, dan sebagainya. Bisa juga, kita adalah pedagang “permen HIV dan AIDS”. Sekali lagi. HIV dan AIDS itu seperti permen. Menawarkan kenikmatan sesaat, tetapi menuntut nyawa selamanya.
Jadi, kepada anak-anak yang bertanya, “HIV itu permen kah? AIDS itu gula-gula kah?” Jawab saja, HIV dan AIDS itu api yang akan membakar dan menghanguskan seluruh tubuhmu, nak. Jangan coba-coba bermain api. Nanti masa depanmu gelap.

0 Komentar