ilustrasi:pixabay.com

Hari ibu adalah sebuah momen istimewa, indah, dan sukacita. Sekaligus merupakan sebuah momen untuk bersyukur dan berefleksi: apa yang membuat kita layak disebut ibu? Apakah kita memiliki satu keutamaan atau karakter khusus dalam diri kita sehingga kita layak disebut ibu? 

Saya selalu percaya bahwa setiap ibu memiliki satu atau lebih keutamaan, nilai kehidupan, karakter yang dapat ditiru oleh anak-anak dan anggota keluarga lain: ibu yang penuh cinta, penuh ketulusan, pengorbanan, kasih sayang, suka menolong, dan pelbagai ciri khas lainnya.

Masing-masing ibu memiliki itu, siapa pun dia.

Karena itu, momen istimewa ini, saya ingin mengajak kita untuk, pertama-tama, mari kita ingat para ibu, khususnya ibu kita masing-masing, dan mendoakan mereka. 

Untuk mereka yang telah meninggal, semoga mereka mendapat tempat yang layak di hadapan Tuhan. Untuk mereka yang masih hidup, sekiranya Tuhan menuntun dan senantiasa memberkati mereka.

Sekarang, saya ingin mengundang kita untuk merenungkan dan belajar dari kisah hidup seorang ibu. Namanya Maria, ibu Tuhan dan ibu kita semua, karena kita berada di bulan Maria.

Maria adalah perempuan sederhana. Suatu waktu dalam hidupnya, Tuhan memilih dia untuk sebuah misi besar: menjadi Ibu Tuhan.

Misi ini (menjadi ibu Tuhan) merupakan sebuah tanggung jawab besar. Karena itu, ketika Malaikat Tuhan tiba dan menyampaikan kabar bahwa dia dipilih Tuhan untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah, Maria terkejut dan tidak percaya karena dia belum bersuami dan merasa diri tidak layak.

Namun, malaikat meyakinkan dia, dan tanpa banyak kata, Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Hari-hari sesudah itu, Maria menunjukkan jawaban ini melalui perbuatan nyata: Dia siap mengandung, melahirkan, menjaga dengan setia, dan bahkan siap menanggung segala penderitaan hanya demi Anak Allah.

Ada begitu banyak penderitaan yang Maria alami, dimulai dari dia melahirkan Yesus di kandang Betlehem karena tidak ada lagi tempat di rumah penginapan. Selanjutnya, dia membawa Yesus ke tempat aman dan melindungi Yesus, karena Herodes ingin membunuh bayi Yesus.

Maria mempersembahkan Yesus ke dalam bait Allah, selalu mengajar dan membawa Yesus ke sinagoga. Dia mencari Yesus selama tiga hari ketika Yesus tertinggal di bait Allah.

Pengalaman lain yang lebih menderita adalah Maria menyaksikan Putera-Nya dibunuh demi keselamatan banyak orang. Maria mengikuti jalan salib Putera-Nya dengan hati seorang ibu yang kuat, lantaran perkataannya, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”  

Ini pengalaman hidup Maria sebagai ibu.

Apa yang kita pelajari?

Menjadi ibu merupakan panggilan Allah. Panggilan ini membutuhkan kesediaan dan  tanggung jawab.

Allah memilih kita karena Dia mengenal kita secara baik. Dia memilih kita sebagai ibu untuk memelihara, menjaga, merawat, dan membimbing anak-anak Allah dengan penuh kasih.

Ini tugas yang terdengar biasa  atau mungkin sederhana, tetapi kalau direnungkan dengan sungguh-sungguh, tugas ini membutuhkan kesediaan dan tanggung jawab.

Ketika anak menangis, ibu harus bangun di tengah malam untuk menjaga dan menenangkannya, melakukan berbagai upaya agar ia berhenti menangis. Ketika dia sakit, ibu harus menjaga, merawat, dan membawanya ke rumah sakit. Bahkan, ibu tidak tidur hanya untuk menjaga anak-anak yang Tuhan berikan kepadanya.

Lalu, ketika anak-anak telah tumbuh dewasa, seorang ibu tetap menjadi tempat pulang bagi anak-anak, tetap menjadi sosok yang mendengarkan anak-anak menumpahkan segala persoalan hidup mereka, menjadi tempat mereka menimba kekuatan, menjadi tempat anak-anak mendapat kembali semangat hidup dan harapan. Karena hati ibu selalu penuh cinta. Kasih ibu tidak pernah hilang. Ibu tetaplah ibu.   

Sekali lagi, menjadi ibu adalah panggilan Allah. Panggilan ini membutuhkan kesediaan dan tanggung jawab. Seperti maria, mari kita katakan kepada Tuhan, “Ini aku, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu, Tuhan.”

***

Para ibu butuh kita untuk berjalan bersama-sama. Jangan pernah membiarkan mereka berjalan sendirian di setiap situasi hidup mereka. Seperti Yosef, kita harus selalu menemani, menjaga, dan selalu berada di samping mereka.

Mari kita mendoakan para ibu agar mereka selalu menjadi ibu yang kuat, setia, penuh pengorbanan dan tanggung jawab. Mari kita terus mengasihi para ibu dengan penuh kasih, sebagaimana kasih Tuhan kepada kita: kasih yang setia, jujur, penuh pengampunan dan pengorbanan.

Ini adalah dua hal utama yang dapat kita buat untuk para ibu: mendoakan dan mengasihi. Ini adalah hal-hal baik yang mesti kita buat, ketimbang berbuat jahat terhadap mereka. 

Petrus dalam suratnya menulis: “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat, (1Ptr.3:17).” 

Mari mendoakan para ibu, mari mengasihi mereka sepenuh hati.

Selamat hari para ibu.

Alenquer, Amazon, 10 Mei 2026