![]() |
| Ilustrasi:pixabay.com |
Malam sebelum ditangkap dan disiksa hingga mati di kayu salib, Yesus buat satu kenangan terakhir untuk para murid-Nya: perjamuan akhir.
Malam itu, Dia buat tanda-tanda 'istimewa'. Dia bagi-bagi roti, lalu berikan roti itu kepada para murid. "Ambil dan makanlah. Inilah tubuh-Ku yang dikorbankan bagimu."
Kemudian, Dia ambil anggur, lalu berikan kepada mereka, "Ambil dan minumlah. Inilah darah-Ku yang dikorbankan bagimu."
Saya tidak tahu bagaimana perasaan para murid malam itu saat mereka terima dan makan roti itu, lalu minum anggur dari Yesus. Tapi, dari cerita Injil, kita tahu bawa hati mereka penuh dengan aneka rencana dan perasaan.
Yudas Iskariot punya rencana mau jual Yesus. Dia sudah susun rencana: peluk dan cium Yesus. Petrus sangat semangat dan omong banyak, tapi kemudian lari kasi tinggal Yesus dan sangkal Yesus tiga kali. Para murid lain, (bisa saja) menikmati perjamuan itu dengan banyak tanya di hati karena malam itu Yesus 'agak lain'.
Apa dan bagaimana pun perasaan mereka, saya tertarik untuk ajukan satu pertanyaan sederhana dan coba mendalami pertanyaan itu: perjamuan akhir itu terjadi di mana?
Injil Matius jawab pertanyaan ini begini, "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku akan merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku (Mat.26:18)."
Kita jadi tahu bahwa perjamuan akhir itu dirayakan di sebuah rumah.
Pemilihan rumah sebagai tempat perjamuan akhir, bagi saya, itu bukan sebuah kebetulan. Yesus punya rencana, punya alasan khusus untuk kumpulkan mereka di sebuah rumah.
Bagi saya, rumah itu adalah gambaran ikatan kekeluargaan, sebuah persekutuan keluarga. Bahwa, para murid datang dari keluarga yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Yesus juga datang dari keluarga yang kita kenal sebagai Keluarga Kudus Nazaret. Dia himpun mereka ke dalam satu keluarga, satu ikatan, satu persekutuan untuk bawa misi yang sama: wartakan kasih (kabar sukacita) ke seluruh dunia.
Sialnya, mereka ini tidak sejalan walau setiap saat mereka sama-sama dengan Yesus: lihat Yesus sembuhkan orang sakit, buat orang lumpuh berjalan, buta melihat, jalan di atas air, ubah air menjadi anggur, gandakan roti dan ikan jadi banyak, bahkan orang su mati empat hari dibangkitkan-Nya.
Tapi, semua itu malah buat mereka hanya mengagumi Yesus sebagai Guru dan Tuhan yang 'tidak akan pernah akan dikalahkan oleh siapa pun'. Sebaliknya iman mereka 'hambar' dan 'kerdil'. Ini jelas dalam Injil, mereka lebih pilih ribut urusan siapa yang terbesar di antara mereka, siapa yang harus diselamatkan, memilih tenda nyaman di gunung. Lebih parah, mereka berani mengkhianati Yesus dan menjual Yesus. Petrus bahkan menyangkal sampai tiga kali, "saya tidak kenal orang itu, (Mat.26:74)."
Dari sini, kita dapat menggali alasan pemilihan rumah sebagai tempat perjamuan akhir. Bahwa Yesus ingin kumpulkan mereka sebagai satu keluarga. Dan Dia adalah 'Kepala Keluarga'. Sebagai 'Kepala Keluarga', Dia tahu segala tentang mereka: siapa yang akan berkhianat, siapa yang akan menyangkal, dan segala tentang mereka.
Meski Dia tahu segalanya, Dia tidak menghakimi mereka. Dia tidak membenci mereka. Dia tidak meninggalkan mereka. Sebaliknya, Dia menerima mereka apa adanya mereka: kejahatan maupun kebaikan mereka.
Dengan demikian, perjamuan akhir di bawah satu atap itu adalah perjamuan tanpa sekat: kau baik, kau jahat, kau pengkhianat, kau penyangkal. Sebuah perjamuan untuk semua mereka yang baik maupun yang jahat. Semua dikumpulkan di dalam satu rumah itu, dalam satu persekutuan itu.
Apa yang Yesus buat?
Malam itu, di rumah itu, Dia mulai pelan-pelan ajarkan mereka satu hal penting yang belum pernah mereka lihat: Yesus basuh kaki mereka.
Bagaimana bisa, Guru dan Tuhan yang kami kagumi, yang paling 'geng': bisa bangkitkan orang mati, sembuhkan orang sakit, ubah air jadi anggur, gandakan ikan dan roti dan pengalaman 'keren' lainnya yang kami lihat, tiba-tiba malam ini mau basuh kaki kami?
Semua berubah malam itu, di rumah itu. Tuhan dan Guru itu merendahkan diri-Nya di hadapan para murid-Nya agar mereka pelan-pelan buka hati untuk memahami arti hidup dalam persekutuan. Kepala Keluarga itu merendahkan diri-Nya agar mereka mulai memahami arti hidup sebagai satu keluarga.
Dia bilang, "Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu, (Yoh.13:14-15)".
Ini satu teladan paling sederhana yang Dia ajarkan malam itu. Karena teladan yang lain 'agak berat' mereka tiru: bangkitkan orang mati, jalan di atas air, ubah air jadi anggur. Karena itu, malam itu, dalam rumah, Dia ajarkan hal paling 'sederhana', tapi penuh makna: basuh kaki; di dalamnya termaktub sebuah pesan kuat, yaitu pengampunan dan kasih tanpa syarat.
Basuh kaki, pengampunan, dan kasih pertama-tama 'mesti' dimulai dari dalam rumah (keluarga), tempat perjamuan akhir dibuat.
Malam Kamis Putih, Alenquer-Amazon, Brasil, 2 April 2026.

0 Komentar