Ilustrasi: pixabay.com


Terpujilah Engkau Tuhan Raja Semesta Alam, Du'a Gheta Lulu Wula, Allah Raja yang bertakhta di Singgasana Kerajaan, Ngga'e Ghale Wena Tana, Allah Maha Rahim yang mencipta, merahmati, dan menumbuhkan segala kehidupan di bumi pertiwi ini. 

Kami menundukkan kepala, menyatukan hati kami di awal syukur dan sukacita kami hari ini untuk para pahlawan, para pejuang, mereka yang berjasa yang telah berpulang mendahului kami ke rumah-Mu. Untuk semua cinta dan pengorbanan mereka hingga bangsa ini memasuki usia kemerdekaan ke-79, kami dengan hati penuh cinta mengenang dan mendoakan mereka.

 (Hening sesaat)

Untuk cinta-Mu yang maha luas bagi bangsa dan kami semua, kepada-Mu, kami melambungkan madah syukur, menggemakan nyanyian pujian dan sukacita kami ke hadapan-Mu:

madah syukur untuk cinta-Mu tanpa batas ke atas kehidupan kami anak-anak-Mu, untuk kasih-Mu yang tak berkesudahan membimbing dan mengumpulkan kami dalam keberagaman bahasa, suku, budaya dan agama menjadi satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia.

Nyanyian pujian dan sukacita kami ke ribaan-Mu untuk karunia kemerdekaan yang Engkau berikan bagi bangsa kami, Bangsa Indonesia, yang hari ini boleh merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-79.

Atas cinta-Mu tanpa batas dan karunia kemerdekaan, ya Tuhan, pantaslah kami bersorak: terpujilah Engkau Allah Tuhan Semesta Alam, Raja segala bangsa; Engkaulah pemilik segala kehidupan, pemberi kuntum kemerdekaan. Pandanglah negeri-Mu ini dengan kasih-Mu yang sakti agar kami dapat menikmati kemakmuran yang sejati; bimbinglah negeri-Mu ini selalu dalam naungan damai supaya aman sentosa tanah air tercinta ini.

Oh Tuhan, Bapa Yang Bermurah Hati, dalam sukacita kemerdekaan ini, kami mendoakan para pemimpin bangsa kami: kepala negara, para pemerintah provinsi, kabupaten, kecamatan, desa bersama seluruh jajarannya: bukalah dan lembutkanlah hati mereka agar mereka sungguh-sungguh dipenuhi cinta, belas kasih, pengorbanan, dan keutamaan-keutamaan untuk memajukan tanah air ini dan berjuang menyejahterakan rakyat.

Bersihkan hati para pemimpin kami dari sikap egois, serakah dan penuh nafsu menguasai semuanya demi kepentingan pribadi atau golong tertentu. Oleh belas kasih-Mu, gerakkanlah hati mereka untuk semakin mencintai kesejahteraan bersama di atas bumi pertiwi ini.

Kepada-Mu ya Tuhan, sumber segala pengetahuan, kami melambungkan pula permohonan untuk para pejuang pendidikan di tanah air ini yang Engkau  panggil untuk menebarkan benih-benih pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan para generasi bangsa: untuk yang masih hidup, kiranya Engkau Allah Yang Maha Agung, membimbing mereka untuk keberlanjutan bangsa ini melalui generasi yang berpengetahuan dan berkarakter baik.  Dan untuk mereka yang telah berpulang, Engkau Allah Maha Pengampun, menerima mereka untuk kebahagiaan kekal di sorga-Mu.

Pandanglah pula kami putera-puteri-Mu, siswa-siswi, yang tengah berjuang menggapai masa depan kami, agar kami tumbuh menjadi generasi yang menebarkan keharuman untuk tanah air ini.

Ya Tuhan Allah Mahatahu, dengarlah pula permohonan kami anak-anak-Mu untuk kami semua yang berhimpun di tempat ini: doronglah kami agar kami sungguh-sungguh bertanggungjawab mengolah tanah air ini, sawah dan ladang, mengolah alam raya ini tanpa merusak; pandanglah dan bimbinglah agar kami memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran, tak henti-hentinya menegakkan keadilan, mengutamakan pelayanan kesehatan yang merata tanpa sekat kaya-miskin, membangun solidaritas, kerja sama, dan menyiapkan hari depan yang adil, makmur dan sejahtera.

Untuk segala permohonan, sukacita dan syukur kami hari ini, ya Allah Raja Segala Bangsa, kami mohon kekuatan-Mu, mohon terang-Mu agar kami selalu berjalan bersama-Mu di usia ke-79 kemerdekaan bangsa ini. Sebab kami percaya, Dikaulah arah setiap doa dan tujuan hidup kami, kini dan selamanya, amin.

(Sebuah doa Katolik, dibawakan dalam upacara apel kenegaraan tingkat kecamatan Detukeli, di Lapangan Detukeli, Ende)