Ilustrasi: pixabay.com


1/Sampai Mati


aku ranting-ranting kayu

kau daun-daun

kita tumbuh di hadapan musim

dan menua di bawah langit


angin berlarian memisahkan kita:

kau jatuh

aku patah

serupa kehilangan kekasih


adakah seseorang membahasakan kehilanganku?

ataukah memahami perpisahan ini?


kita sepasang kekasih, percaya:

di hadapan musim

dan di bawah langit

tercipta kehilangan-kehilangan


tugas kita 

mencintai sampai mati


(Rumah, 2021)


2/ Jalan Pulang


memasuki kamarmu

kau temukan kenangan terpajang di dinding

masa lalu dan masa kini terpisah kain jendela

kau sibak dan melihat dirimu sebatang cemara

di dahannya, duduk murung seekor burung

diam-diam terbang


ke mana pun ia pergi, 

kau percaya ia akan kembali

kepada cemara yang tabah di hadapan musim


demikian kau, Maria

cinta yang tabah 

tahu jalan pulang


(Ledalero, 2021)


3/ Kekal


tanpa sesal,

kau memilih lupa

sebab terlampau banyak luka

kau pikul


kepala yang kerap mengenang

kini dingin dan kosong

kenangan hilang

seperti kabut ditelan terang


tapi cinta tinggal kekal


(Ledalero, 2020)


4/ Cinta yang Dalam


ia duduk di atas karang

menghadap laut

hamparan laut menjelma cinta

dan ia tak peduli seberapa dalam ia jatuh


ia percaya

seseorang menjelma arus laut

membawanya kepada kehidupan atau kematian


apa pun akhirnya

cinta yang dalam

tak pernah bertitik simpul


(Juli, 2020)


5/ Atas Nama


atas nama perpisahan,

ia merengkuh tubuhku dengan lengan pendeknya

dan menangis dalam pelukan paling penuh


atas nama janji,

aku katakan:

kita pasti bertemu kembali

dan ia eratkan pelukan

hingga jarak benar-benar remuk


atas nama ketakutan,

di telinga kirinya aku ingatkan:

jangan peluk erat-erat

jarak paling jauh kerap tercipta dalam pelukan paling penuh


ia merengkuh lebih erat

dan atas nama cinta,

aku bilang:

cintai aku dengan cinta paling panjang dari lenganmu

dan dengan cinta paling penuh dari pelukanmu


(Ledalero, 2020)


6/ Menunggu


kau duduk seorang diri dan menunggu

tetapi tak ada yang datang menemuimu

kau anggap segala yang ada sia-sia belaka

satu kehilangan mematahkan sejuta sukacita


kau sesali segala yang berlalu

kau meratap mengiba-iba

tetapi tak mengubah apa-apa

deritamu memanjang serupa kesedihanmu


kehilangan menyiksamu sedemikian sedih

hingga kau lupa cara menguburkan perih


kini, kau laksana seekor merpati murung

dalam sangkar duka

kesedihan membunuhmu lambat-lambat


kau percaya

cara sederhana mencintai adalah menunggu


(Februari, 2021)