![]() |
| Ilustrasi: RamaTama Youtube |
Beberapa pengalaman mesti ditulis dan dikenang. Pengalaman mengenal Ignas Kleden, salah satunya.
Saya mengenal Ignas Kleden dari karya-karyanya. Ignas sosiolog yang kritis, tajam, dan menukik dalam; kritikus sastra, tokoh intelektual Indonesia dan dunia. Ignas, bagi saya, adalah cendekiawan langka.
Suatu waktu, usai membaca karyanya berjudul Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (Esai-esai Sastra dan Budaya), saya menyelipkan harapan dalam buku itu, "Semoga suatu hari nanti, Pa Ignas Kleden juga membaca karya saya. Amin."
Harapan itu beralasan. Ignas Kleden adalah pembaca cerdas yang sungguh-sungguh masuk ke suatu cerita, menyelami dan membacanya dengan aneka 'kacamata', lalu mengkritik karya itu dari pelbagai sudut pandang. Ia memperkaya karya yang dibaca dan dikritiknya itu dengan pengetahuan dan pengalamannya yang luas. Ringkasnya, dia, Ignas Kleden, adalah 'legend'. Dan saya ingin ia juga membaca dan mengkritik karya saya suatu saat nanti.
***
4 November 2021, untuk pertama kalinya saya berkomunikasi dengan beliau, Pa Ignas Kleden, via WhatsApp. Itu tentang kumpulan cerita pendek (Cerpen) pertama saya berjudul Penggali Sumur. Kepadanya saya menyampaikan terima kasih berlimpah karena ia telah bersedia dan berkenaan membaca karya sederhana saya.
Dan ia membalas pendek, namun menyukakan hati saya.
"Selamat malam Fr. Selo. Saya sudah selesai baca kumpulan cerpen anda PENGGALI SUMUR. Saya suka membacanya dan akan menulis dukungan saya untuk penerbitan antologi itu oleh penerbitnya Paskalis Bataona. Selamat berkarya."
Semua itu bermula dari Penggali Sumur. Saya berniat menerbitkan karya pertama itu secara indie melalui Penerbit Ikan Paus. Pemiliknya Om Paskalis Bataona.
Setelah membaca karya sederhana itu dan mengurus segala hal sebelum dicetak, Om Paskalis menelpon dan menyarankan agar buku ini dibuat epilog atau dibuat juga komentar pendukung dari para penulis lain.
Sambil tertawa saya bilang, "Om ew, saya punya harapan besar sejak dulu tu Pa Ignas Kleden baca karya saya."
Saya tidak pernah menduga bahwa kata-kata saya itu disambut dengan jawaban teduh oleh Om Paskalis, "Itu bisa saya atur, Frater. Saya biasa tukar pikiran dengan Pa Ignas. Saya coba hubungi Pa Ignas dulu untuk sampaikan hal ini."
Kabar selanjutnya yang saya terima ialah Pa Ignas Kleden menyatakan ya dan bersedia membuat catatan pendukung untuk karya sederhana saya. Hari itu kegembiraan mengerubungi diri saya sepenuh-penuhnya. Saya menyampaikan terima kasih berlimpah kepada Om Paskalis, dan selanjutnya saya memberanikan diri berkomunikasi dengan Pa Ignas Kleden melalui WhatsApp.
Buku itu terbit dengan komentar pendukung dari beliau, dan akan saya kenang sepanjang sejarah hidup saya. Dia menulis ringkas, namun telah 'menyuburkan' harapan saya.
PENGGALI SUMUR
Oleh Ignas Kleden
Penggali Sumur adalah judul kumpulan cerpen karya penulis muda Selo Lamatapo, kelahiran sebuah desa di kaki gunung berapi Lewotolok di Lembata, NTT, 1992. Setelah membaca 15 cerpen dalam kumpulan ini, saya merasa judul Penggali Sumur adalah sebuah metafor yang kuat dan mengundang kemungkinan atau perdebatan.
Di desa yang dikisahkan di sini, mula-mula hanya digali satu sumur sedalam 16 m atas permintaan satu keluarga. Sumur itu kemudian boleh digunakan oleh keluarga-keluarga lain yang memerlukan air, dan selanjutnya menjadi tempat bertemu banyak orang yang mengambil air atau hendak mandi, dan tempat berkumpul anak-anak yang ingin bermain bersama atau membuat janji untuk bermain bersama.
Dalam waktu beberapa tahun, penduduk desa itu bertambah banyak, ruang hidup menjadi sempit, dan sarana umum kian terbatas. Akhirnya desa itu diperluas menjadi empat dusun, yang terdiri dari satu dusun lama yang merupakan desa lama, ditambah tiga dusun baru. Masing-masing dusun ingin punya sumur sendiri, sehingga semuanya menjadi empat sumur.
Penggali sumur, oleh anak-anak dipanggil Om Banus dan menggali keempat sumur itu. Segera dia melihat perubahan yang terjadi dalam desa. Ketika baru ada satu sumur, tempat mengambil air menjadi juga tempat warga desa menyambung silaturahmi dan saling berbagi informasi dan bertegur sapa, sedangkan setelah dibangun empat sumur di masing-masing dusun, tiap sumur hanya dikunjungi oleh warga dusun yang memiliki sumur tersebut, dan tidak didatangi oleh oleh warga dari dusun lainnya. Sumur menjadi pembatas aktivitas antar-dusun dengan pengunjung yang semakin sedikit dan interaksi yang semakin susut.
Suatu efek yang sangat metaforis ialah bahwa tanpa disengaja, pengarang 15 cerpen ini telah bercerita tentang kesibukannya sendiri sebagai penggali sumur di desa kelahirannya, dan 15 cerpen dalam antologi ini merupakan 15 sumur yang digalinya dari kehidupan sosial-budaya penduduk desa, yang mengalami zaman yang terus berubah, dengan tiap sumur yang memperlihatkan segi perubahan sosial-budaya khusus yang dicatat oleh pengarang buku ini.
Inilah aspek yang menarik dan mengejutkan tatkala membaca 15 cerpen ini, yang merupakan dokumen tentang aktivitas seseorang yang menggali pengalamannya sendiri tatkala hidup dalam sebuah desa sebagai dunia dengan selubung pesona atau entchantment of the world, sebagaimana diungkapkan oleh sosiolog Max Weber.
***
Hari ini, 22 Januari 2024, Pa Ignas Kleden mengembuskan napas terakhir. Ini kabar duka kolektif, bahwa seorang sosiolog, cendekiawan, dan 'legend' telah berpulang ke rumah Bapa.
Pa Ignas Kleden, istirahatlah dalam damai. Pesan terakhirmu saya ingat dengan baik sebagai dukungan yang tak pernah lekang: "Halo Fr. Lamatapo, terima kasih sudah baca catatan kecil saya atas antologi cerpen anda. Mudah2an bisa mendorong anda untuk terus menulis karya sastra, khususnya novel atau cerpen yang sudah anda lakukan dengan cukup berhasil. Salam."
Sapardi Djoko Damono bilang, "aku mencintaimu, itu sebabnya, aku tak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu."
Kami semua mencintaimu.
Salam dan doa.
Detukeli, 22 Januari 2024.

0 Komentar