Ilustrasi: pixabay.com

1/

Bencana datang tiba-tiba seperti pencuri, memporak-poranda tumbuh-tumbuhan, merubuhkan bangunan, dan menguburkan anak-anak manusia tanpa pesan apa-apa kepada sanak keluarga.

Kegembiraan-kegembiraan yang menggantung di pohon gamal dan dinding-dinding rumah terkubur di tanah. Segala yang tercipta dari tanah, kembali kepada tanah. Air mata tumpah ruah, tetapi tak mengubah apa-apa.

Begitukah nasib anak manusia di bawah kolong langit?
"Nasib adalah kesunyian masing-masing," begitu Chairil Anwar menulis dalam sajaknya.

2/

Kepada saya melalui telepon, seorang teman mengisahkan duka di tanah Lembata dan Adonara. 

"Saya duduk menatap seorang ayah meratapi kehilangan anaknya. Dukanya tak bisa dibahasakan dengan kalimat," katanya.

Di antara deretan kisahnya, saya merenung pesannya ini, "Ayah itu tidak lagi percaya kepada Tuhan."

Saya tak terkejut. Sebab manusia kerap mengalami Tuhan seturut pengalamannya. Lalu, saya bilang kepada diri saya sendiri, kenapa harus Tuhan?

3/

Sewaktu terlibat melayani korban di Lembata, ia kembali mengirimkan pesan kepada saya. Kali ini isinya berbeda, tetapi tetap menyebut Tuhan.

"Di sini, seorang bapak tertimbun duka. Istri dan empat anaknya hilang tanpa pesan. Sehari-hari ia datang duduk di bebatuan dan menanti kabar dari tim pencari korban," tulisnya. 

Dengan gaya yang hampir mirip, ia lanjutkan pesannya, "Meski tertimbun duka mendalam, bapak itu tetap percaya bahwa Tuhan punya rencana untuknya." 

Lagi-lagi Tuhan. Kenapa harus Tuhan? 

4/

Tentang Tuhan, Elie Wiesel melalui pengalamannya dalam novelnya berjudul Malam, memberontak, "Untuk apa harus kumuliakan NamaNya? Yang Kekal, Tuhan Semesta Alam, Yang Mahakuasa dan Mahatinggi, cuma diam. Untuk karunia apakah hendaknya aku bersyukur kepadaNya?" 

Pemberontakan ini timbul saat ia dan ayahnya bersama rombongan orang Yahudi berbaris ke tungku pembakaran di Kamp Nazi. Di hadapan tungku kematian itu, ia mendengar ayahnya berbisik, "... Kiranya Nama Tuhan dibesarkan dan dimuliakan..." 

Untuk pertama kali rasa berontak berkobar dalam dirinya sewaktu mendengar itu. 

Hingga akhirnya, tatkala menyaksikan seorang anak kecil menggelepak-gelepak di antara hidup dan mati, kemudian mati tersiksa di tiang gantungan, Elie menulis, "Di mana Tuhan? Tuhan ada di sini, dibunuh di tiang gantungan."

Diam-diam, saya membayangkan sang ayah di Adonara yang menolak Tuhan. Betapa sengasara ia dikepung duka. Kehilangan membunuh sebagian hidupnya. Dan Tuhan, baginya, jauh sekali. 

5/

Albert Camus, Filsuf dan Sastrawan ateis dari Prancis itu, pernah bilang, di hadapan bencana, manusia tidak perlu berkomentar banyak hal. Manusia hanya perlu bertindak konkret menolong sesama. Sebab bagi Camus, kehadiran di tengah para korban jauh lebih utama ketimbang mempersoalkan segala sebab.

Inilah solidaritas Camus; bertindak konkret tanpa perlu bertanya banyak hal. Spirit kehadiran ini ia tampilkan melalui tokoh dokter Rieux dalam novelnya, Sampar

Saya pikir, tak perlu lagi ada pertanyaan tentang Tuhan, juga pergumulan tentang Tuhan.

6/

Duka Lembata dan Adonara adalah duka kolektif. Ratapan kehilangan anak-anak, ema, bapa, nene, adalah ratapan saya dan yang lain.

Karena itu, kami menunduk seluruh untukmu  ade-ade, kaka, ema, bapa, nene yang telah berpulang tanpa pesan apa-apa. Kami mengalami kehilangan teramat dalam. 

Kami pun memberi hormat untukmu yang terlibat langsung menemani korban hingga detik ini. Juga untukmu semua yang berjuang dalam nama kemanusiaan. 

Terus berjuang, sebab demikianlah cara sederhana merayakan hidup kita yang singkat. Mengutip Pater Leo Kleden, "Langit adalah kenisah, bumi adalah altar, di atasnya anak manusia merayakan ekaristi kehidupan."

Panjang umur solidaritas, panjang umur perjuangan.

(Catatan lepas mengenang duka banjir bandang menimpa penduduk di Adonara dan Ile Ape)