![]() |
| Ilustrasi: pixabay.com |
Pada akhirnya, orang memerlukan keberanian lebih untuk hidup ketimbang harus bunuh diri — Albert Camus
Kabar kematian dengan cara bunuh diri kian marak belakangan ini. Di NTT, dua kabar mutakhir bunuh diri di bulan Desember 2023 datang dari Lembata dan Timor Tengah Utara (TTU).
Detik.com mengabarkan bahwa seorang pria berinisial FSB ditemukan tewas gantung diri di pohon jambu mete di kebun Ile Kimok, Kecamatan Atadei, Lembata, NTT, Sabtu (9/12/2023).
Sementara Kompas.com mengabarkan bahwa seorang biarawati berinisial MYD ditemukan tewas gantung diri di ruangan makan asrama Bakti Mandiri Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, Minggu(24/12/2023).
Peristiwa ini mendapat banyak tanggapan di sosial media. Ada yang mengungkapkan bahwa pelaku seperti sedang mengalami masalah pribadi, pelaku mungkin putus asa dan rupa-rupa alasan lainnya. Tidak ada yang persis benar dalam pernyataan-pernyataan mereka, karena pelaku sendiri tidak pernah menceritakan apa yang sedang ia alami dalam hidupnya kepada mereka.
Terlepas dari dugaan-dugaan, bunuh diri merupakan suatu tindakan yang tidak pernah tuntas dipahami. Ia terjadi pada siapa saja tanpa mengenal status individu yang melakukannya dan membuat kita (yang bukan pelaku) bertanya serta merasa terlibat.
Albert Camus, Filsuf dan Sastrawan Prancis, melihatnya sebagai suatu masalah filsafat yang benar-benar serius. Mengapa demikian? Karena bunuh diri baginya adalah persoalan tentang layak atau tidak layaknya hidup.
Camus melihat bahwa banyak orang mati karena mereka merasa hidup ini tidak layak dijalani. Memang, hidup tidak pernah mudah. Manusia terus melakukan tindakan-tindakan yang diwajibkan oleh eksistensi berdasarkan pelbagai alasan, salah satunya pertama-tama adalah kebiasaan.
Ketika kebiasaan-kebiasaan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, seperti berhadapan dengan kondisi yang tidak dapat dimengerti, yang tidak dapat diatasi sendiri, krisis yang menyedihkan dan yang tidak dapat terkendalikan, maka tak sungkang orang mengambil tindakan untuk meninggalkan segala kondisi itu dengan mengakhiri hidup; memilih bunuh diri.
Kondisi-kondisi demikian oleh Camus disebut sebagai kondisi yang absurd. Sebenarnya, Camus ingin memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara pikiran individual, situasi dan kondisi hidup pribadi dengan tindakan bunuh diri. Dengan kata lain, bunuh diri oleh Camus bertalian erat dengan absurditas.
Oleh karena itu, pergulatan Albert Camus akan absurditas dalam bukunya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas; terjemahan indonesia oleh Apsanti Djokosujatno) dapat menjadi bahan permenungan tentang eksistensi manusia di hadapan absurditas, suatu keadaan yang sering membuat manusia bunuh diri.
Apakah manusia perlu bunuh diri sebagai penyelesaian akan segala yang absurd? Bagaimana manusia harus menghadapi segala yang absurd itu?
Tulisan ini merupakan sebuah ikhtiar penulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental ini. Dalam tulisan ini penulis akan menampilkan refleksi Camus atas absurditas dan jawaban atasnya sebagai landasan bagi kita untuk menentukan sikap di hadapan absurditas itu.
Albert Camus tentang Bunuh Diri
Bunuh diri menurut Camus bertalian dengan kondisi absurditas. Ia memulai pergulatannya akan absurditas dengan mencermati fenomena bunuh diri dalam masyarakat.
Menurut Albert Camus, alasan utama banyak orang melakukan bunuh diri ialah ketidaksanggupan memahami keadaan yang absurd. Mereka mengakhiri hidup dengan bunuh diri, karena merasa bahwa hidup ini tidak layak untuk dijalani. Kematian seolah-olah menjadi pilihan ketika mereka menghadapi dunia yang absurd.
Lantas, apa itu absurditas menurut Camus? Absurditas menurut Camus ialah adanya ketidakmampuan memahami dunia. Camus percaya bahwa tidak ada penjelasan final tentang dunia. Manusia mengetahui banyak fakta tentang dunia, manusia juga mendeskripsikan bagian-bagiannya, namun tidak satupun penjelasan yang sempurna.
Menurutnya, ada banyak kebenaran, tetapi tidak ada yang benar; ada banyak deskripsi mengenai bagian-bagian, tetapi tidak ada penjelasan mengenai keseluruhan. Semua ilmu pengetahuan berhenti pada hipotesis. Dan saat manusia berusaha mencari pemahaman secara lengkap tentang dunia yang tidak dapat dipahami itu, saat itulah absurditas terjadi.
Dengan kata lain, perasaan absurditas muncul karena manusia berusaha mencari pemahaman yang lengkap mengenai suatu dunia yang tidak dapat dipahami. Pikiran manusia merindukan kebenaran universal sementara dunia hanya menunjukan kebenaran yang terpenggal. Manusia mencari kejernihan, sementara dunia masih saja misteri.
Oleh karena itu, perasaan absurditas merupakan pertemuan antara dunia dan pikiran manusia yang di dalamnya terjadi pertentangan irasionalitas dengan kerinduan liar untuk menjernihkan sesuatu yang bergema dalam hati manusia. Jadi, semacam ada kontradiksi antara hasrat individu dengan realita.
Bahwasanya, manusia sebagai sebuah eksistensi memiliki kebebasan akan dirinya, tetapi di dunia ini ada faktisitas yang membatasi kebebasannya sebagai seorang manusia. Akibatnya, hasrat manusia yang tak terbendung untuk mencari sebuah kejelasan di antara ketidakjelasaan dunia ini melahirkan absurditas dan manusia tidak dapat hidup sesuai dengan apa yang diinginkan olehnya.
Absurditas ini mendapatkan reaksi dari manusia, di mana manusia mulai merasa bahwa setiap detik yang dimilikinya di dunia telah dilewatkan dengan sia-sia dan akan timbul keinginan untuk bunuh diri.
Albert Camus melihat bahwa banyak orang memilih bunuh diri karena mereka merasa bahwa hidup ini tidak layak dijalani lagi. Orang berjuang mencari makna hidup di tengah keadaan yang absurd, namun pencarian makna hidup itu berakhir dengan penemuan bahwa hidup ini tak bermakna, maka tak sungkan orang lalu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Membunuh diri adalah pengakuan si pelaku bahwa ia telah terkalahkan oleh kehidupan atau bahwa ia tidak mengerti kehidupan. Dalam Bahasa Camus, orang bunuh diri karena tidak mampu memahami absurditas.
Camus mengakui bahwa ada dua macam bunuh diri, yaitu bunuh diri fisik dan bunuh diri filsafat. Bunuh diri fisik menurut Camus adalah manusia yang mengakhiri kehidupannya sendiri karena menganggap hidup sudah terlalu susah, bahwa hidup sudah tidak lagi berharga.
Menyadari tidak adanya alasan untuk hidup, melihat kebodohan hidup sehari-hari, dan yakin bahwa itu benar-benar penderitaan yang gagal, orang lantas memutuskan bahwa penyelesaian absurditas adalah dengan mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain, alasan orang bunuh diri adalah langkah untuk penyelesaian sesuatu yang absurd.
Sedangkan, bunuh diri filsafat terjadi secara merata di antara para filsuf eksistensialis. Mereka mulai dengan kesadaran mereka tentang absurditas dan irasionalitas, tetapi kemudian karena ada beberapa simpul pikiran, beberapa putaran keinginan dan perubahan imajinasi, mereka menemukan makna dan rasionalitas dalam dunia. Pola pikir yang telah dimulai dengan kesadaran akan absurditas dan irasionalitas berakhir dengan rasionalitas.
Kesadaran baru ini menjadikan mereka melarikan diri dari prinsip-prinsip tempat semula mereka berpijak, yaitu kesadaran akan absurditas dan irasionalitas. Pelarian ini adalah bunuh diri filsafat karena setiap orang merusak prinsip-prinsip tempat ia berpijak semula dengan menghancurkan absurditas dan irasionalitas.
Singkatnya, bunuh diri filsafat adalah pelarian dari prinsip awal tentang absurditas dan irasionalitas kepada gagasan baru tentang sesuatu yang bermakna dan rasionalitas. Ringkasnya, bunuh diri filsafat merupakan penolakan terhadap prinsip awal.
Selanjutnya, tulisan ini lebih mengutamakan bunuh diri fisik untuk menentukan sikap atas fenomena bunuh diri yang kini marak terjadi di pelosok-pelosok dunia ini; dunia yang oleh Camus sebagai sesuatu yang absurd.
Pemberontakan sebagai Jawaban atas Absurditas: Menolak Bunuh Diri
Apakah manusia perlu bunuh diri sebagai penyelesaian akan segala yang absurd? Bagaimana manusia harus menghadapi segala yang absurd itu?
Bagi Camus, tidak ada satu pun bunuh diri yang merupakan jawaban atas absurditas. Sebab bunuh diri hanya merupakan tanda bahwa manusia memilih untuk berhenti berjuang atas absurdnya hidup. Bunuh diri bukanlah pemecahan logis dari masalah absurditas, melainkan bentuk kemunduran nalar di hadapan semua hal yang dijelaskan oleh nalar.
Bunuh diri menunjukan sikap manusia yang mengabaikan salah satu komponen dasar dari absurditas, yaitu manusia dengan segala hasratnya. Bunuh diri menegaskan pelakunya mengaku kalah, pelakunya tidak mengerti kehidupan.
Jawaban Camus atas yang absurd adalah pemberontakan. Pemberontakan yang dimaksudkan Camus adalah pertentangan tanpa henti antara manusia dengan segala ketidakjelasan yang dialaminya dalam dunia. Ketidakjelasan dunia selalu dipertanyakan terus menerus.
Pemberontakan menunjukan kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri. Manusia yang absurd adalah manusia yang mengerti arti absurditas itu, manusia yang tidak lari dari absurditas, tetapi selalu menjaganya dalam kesadarannya dan hidup di dalam tantangan absurditas itu. Inilah manusia yang menentang, inilah manusia pemberontak.
Manusia dalam pemberontakan tertarik pada realitas yang mengangkatnya, karena ia tidak bisa memahaminya. Tapi, ia jauh dari sikap mengalah, jauh dari sikap melarikan diri. Ia berdiri menantang, ia berjuang tanpa harapan, ia tahu bahwa ia akan hancur, tetapi ia tetap melawan, ia ingin hidup dan tidak mau menyerah pada absurdnya hidup.
Pemberontakan itu memberi nilai pada kehidupan dan mengembalikan kebesaran pada eksistensi manusia. Hanya dengan ketidakpasrahan akan kehidupan dan memilih untuk tidak mengakhiri hidupnya, di titik itulah ia membuktikan eksistensinya.
Akibat dari pemberontakan ini adalah bahwa manusia absurd mempunyai suatu pengertian baru tentang kebebasan.
Albert Camus meyakinkan dirinya bahwa tidak ada aspek lain dalam kehidupan ini selain yang absurd. Di dalamnya, manusia merasa semua keseimbangan bergantung pada perlawanan terus-menerus antara pemberontakan sadar manusia dengan kegelapan.
Manusia juga perlu mengakui bahwa kebebasan tidak memiliki arti selain dalam hubungan dengan takdir yang membatasinya. Dengan demikian, yang berharga bagi manusia adalah hidup yang banyak, bukan hidup yang terbaik. Di sini, manusia tidak berhak menilai apakah itu kasar atau memberontak, apakah itu baik atau tercela.
Pertimbangan nilai dibuang demi memberikan pertimbangan yang lebih faktual. Pemikiran tentang “kehidupan yang paling banyak” berarti sadar tentang kehidupan seseorang, tentang pemberontakan dan tentang kebebasan seseorang yang puncaknya adalah menyadari setiap pengalamaan secara penuh.
Pemberontakan, kebebasan, kesadaran dan perasaan tidak bersalah merupakan kualitas-kualitas manusia absurd. Sebagai sumbernya, akar semua ini terletak pada kejernihan. Manusia mempunyai rasa rindu untuk mengetahui semua kebenaran, tetapi cukup jernih untuk melihat bahwa dunia dan kehidupan ini tidak rasional.
Ada kejernihan dalam pikirannya yang memungkinkannya sadar tentang absurditas segala sesuatu. Dengan demikian, manusia absurd adalah manusia yang jernih, karena ia memahami bahwa dunia tidak punya arti. Ia tahu bahwa sifat kematian yang universal dan tidak terelakkan membuat segala sesuatu hanya bernilai sementara.
Manusia jernih ini sepenuhnya percaya bahwa hanya ada kenyataan di sini dan sekarang. Dengan demikian, ia adalah manusia tanpa harapan dalam artian manusia yang hanya mengakui bahwa hari ini adalah satu-satunya yang ia harap dan bahwa tidak ada yang didapat dengan bersembunyi dari hari ini dan berlari menuju masa depan yang penuh harapan.
Karena ia adalah manusia hari ini, karena ia adalah manusia yang jernih, ia hidup dalam suatu kesadaran yang intens. Dengan itu, ia membuktikan eksistensinya sebagai manusia di hadapan segala yang absurd.
Sisifus sebagai Model Pemberontak
Sisifus adalah nama seorang tokoh dalam mitos Yunani yang diangkat lagi oleh Camus ke dalam karyanya Le mythe de Sisyphe. Sisifus dihukum untuk mendorong sebuah batu besar naik ke atas bukit karena telah melakukan pelanggaran atas perintah para Dewa.
Setiap kali sampai di puncak, batu itu akan mengelinding lagi ke bawah. Dan Sisifus, si penentang para dewa harus memulai lagi tugasnya untuk mendorong ke atas. Demikian seterusnya. Pada waktu kembali, yakni pada saat ia mengambil jedah, Sisifus menarik perhatian Camus. Camus melihat wajah Sisifus sebagai yang menderita begitu dekat dengan batu yang sudah merupakan batu sendiri, bukan lagi batu para Dewa.
Sisifus turun kembali dengan langkah berat namun teratur ke arah siksaan yang tidak ia ketahui kapan berakhirnya. Saat yang bagaikan nafasnya sendiri dan pasti kembali lagi seperti halnya kesengsaraannya, saat itu adalah saat kesadaran.
Di mata Camus, mitos itu menampilkan suatu pergulatan manusia akan kesia-siaan hidup; pergulatan manusia akan absurditas hidup. Sisifus tidak melihat keadaan absurd itu sebagai beban, tidak juga sebagai hukuman, melainkan menerimanya sebagai suatu kebiasaan yang oleh Camus dinamakan sebagai usaha manusia menemukan eksistensi dirinya di hadapan absurditas.
Sisifus adalah simbol manusia yang berhadapan dengan kesehariannya (absurditas yang harus dia tanggulangi setiap saat). Bagi Camus, Sisifus adalah tokoh pemberontak sejati, seorang yang tak pernah menyerah akan absurditas, seorang yang tidak lari dari keadaan yang sia-sia, seorang yang tidak kenal putus asa.
Sisifus dapat menjadi tokoh ideal bagi kita dalam menyikapi bunuh diri. Bentuk pemberontakannya menjadi bahan permenungan bagi kita agar mengambil sikap yang tepat, yaitu tidak mudah menyerah terhadap segala yang tidak jelas, segala kerinduan yang tak tercapai.
Kita tidak boleh berhenti menghadapi situasi absurditas dalam hidup kita, apalagi bertindak bunuh diri. Absurditas diterima sebagai kebiasaan untuk menemukan eksistensi diri kita sendiri. Bahwa masih ada banyak hal yang dapat dilakukan di hadapan segala kondisi itu, selain bunuh diri.
Kita terus bergumul dengan segala kondisi itu hingga kita menemukan diri kita sebagaimana Sisifus yang melihat batu itu menjadi miliknya sendri yang harus terus dipikulnya. Segala kondisi yang absurd (kesia-siaan, ketidakbermaknaan hidup) diterima sebagai sesuatu yang ada sekarang dan mendapat jawabannya dari kita sendiri.
Tidak ada bunuh diri yang menyelesaikan absurditas, karena itu bunuh diri bukan jawaban yang tepat. Kita berjuang untuk terbuka, berbagi kepada sesama. Dengannya, kita telah menampilkan wujud eksistensi diri.
Eksistensi diri kita tidak boleh berakhir dengan bunuh diri, melainkan perjuangan tanpa henti untuk menghadapi yang absurd itu. Jika akhirnya, kita telah berani untuk terus ‘mendorong batu’ absurditas (kesia-siaan, ketidakbermaknaan hidup), maka kita mampu menjadi diri kita sendiri; kita menemukan eksistensi diri kita di hadapan absurditas kehidupan.
Orang mesti membangun kesadaran sebagaimana Sisifus yang terus mendorong batu ke puncak. Dengan bekal kesadaran seperti itu, manusia kembali menjalani hidup dengan harapan dan gairah yang tak putus asa. Manusia hanya perlu memahami bahwa kesadarannyalah menjadi dasar dalam menjalani kehidupan ini.
Segala yang bersifat kesia-sian, yang absurd itu harus disadari bahwa ia adalah bagian dalam hidup. Ini menunjukan bahwa manusia tidak tunduk atau tidak pasrah begitu saja atas realitas yang ada. Dengan itu pula, ia tidak lari dari absurditas.
Sebuah Kesimpulan
Pergumulan Camus akan absurditas dimulai dengan mencermati fenomena bunuh diri dalam masyarakat. Bahwasanya, banyak orang membunuh diri karena merasa hidup tidak layak lagi dijalani, bahwa hidup ini tidak bermakna.
Ia berawal dari keheningan hati dan berakhir dengan keputusan, memilih bunuh diri. Bunuh diri adalah bentuk pelarian dan kepasrahan manusia terhadap absurditas.
Camus lalu memilih berontak sebagai sikap atas absurditas. Pemberontakan berarti pertentangan tanpa henti antara manusia dengan segala ketidakjelasan yang dialaminya dalam dunia. Ketidakjelasan dunia selalu dipertanyakan terus-menerus oleh manusia.
Camus menampilkan Sisifus sebagai tokoh pemberontak ideal di hadapan absurditas. Baginya, Sisifus adalah tokoh yang tak kenal putus asa akan segala yang ia alami.
Sikap Sisifus, si pemberontak itu menjadi titik terang bagi kita untuk mengambil sikap terhadap fenomena bunuh diri di tanah air ini. Dia dapat menjadi tokoh ideal untuk membangun sikap yang tak pernah menyerah dan sikap yang menolak bunuh diri sebagai pelarian dari segala kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan kita, sesuatu yang absurd.
Sebab, bunuh diri bukanlah solusi yang tepat terhadap yang absurd. Ia harus dilawan dengan melakukan pemberontakan.
[Tulisan ini pernah dimuat di Buku Vox Ledalero tahun 2018, dikembangkan lagi untuk kebutuhan terkini].
Bacaan:
Albert Camus, Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas, penerj. Apsanti Djokosujatno (Jakarta: Gramedia, 1999).
Vincent Martin, O. P., Filsafat Eksistensialisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).
A. Setyo Wibowo, “Berjuang Tanpa Mengharapkan Kemenangan”, Majalah BASIS, 03-04:17, Maret-April, 2005.

0 Komentar