Ilustrasi: pixabay.com

1/

Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi.

Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan 'selamat pagi.' Dari dalam ruangan itu, saya membalas 'halo', lalu melangkah mendekati pintu. 

"𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢 (Pater), selamat pagi." 

Mama Maria Mei, rupanya. Perempuan paruh baya itu menyapa saya sambil tersenyum. Ia bersama tiga umat lain. 

"Selamat pagi, Bos," balas saya sembari menyilakan mereka duduk pada kursi di teras pastoran. Saya amat sering menyapa mereka dengan 'bos', 'mama', atau 'bapa', 'om', 'abang', 'no'. Dan mereka sudah tentu membalasnya dengan senyum disusul kalimat, '𝘢𝘪, 𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢 𝘦𝘸'.

"Perlu apa ow pagi-pagi 𝘴𝘶 𝘳𝘢𝘮𝘦-𝘳𝘢𝘮𝘦 𝘯𝘪?" 

"Kami mau ambil surat permandian, 𝘛𝘶𝘢 (Pater)," balas Mama Maria pelan. Tangan kanannya meletakkan keranjang di lantai. 

Saya tersenyum, menjawab 'oh' panjang, kemudian mengajak mereka ke kantor paroki untuk urusan tersebut.

2/

Hari Rabu adalah hari pasar Detukeli. Umat separoki Detukeli berbelanja dan mendagangkan hasil kebun, barang-barang kios, hasil tenun, juga menawarkan jasa angkat barang-barang. Para pedagang dari Ende, Manggarai, Wolowaru, Maurole, biasanya datang pula untuk berjualan. 

Umat berdatangan dari stasi-stasi yang jauh, yang dibatasi bukit, lembah, kali, dan hutan luas. Karena itu, mereka memanfaatkan pula kesempatan hari Rabu untuk mengambil surat-surat di kantor paroki, menyerahkan iuran-iuran, dan aneka urusan lain di paroki.

Kebetulan, pasar Detukeli berdekatan dengan pastoran. Jadi, hitung-hitung, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampau; sekali pergi, dua-tiga kebutuhan terpenuhi. 

Dengan begitu, pastoran paroki Detukeli lumayan ramai tiap Rabu. Biasanya, saya bantu melayani mereka yang hendak mengambil surat-surat. Umumnya, mereka meminta surat baptis untuk urusan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, dan urusan lain. Melayani mereka, saya merasa terpanggil untuk mendengarkan sepenuh hati dan sesabar-sabarnya. 

Untuk urusan surat baptis, saya perlu mengetahui nama lengkap, tempat kelahiran, tahun kelahiran, tahun baptis, dan tempat baptis. Oleh karena sudah sering melayani mereka, saya menemukan dua kenyataan: 

𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, generasi muda – kelahiran 1990-an hingga 2000-an – pada umumnya mengingat secara baik tahun lahir dan tahun baptis mereka maupun anak-anak mereka. Hal itu memudahkan saya menemukan data baptis mereka secara manual pada buku-buku permandian. Maklum, paroki tua yang akan memasuki usia intan ini menyimpan data-data permandian secara tertulis pada buku. 

𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢, generasi tua – kelahiran tahun 1940-an hingga 1970-an – tidak mengingat sama sekali tahun lahir, apalagi tahun baptis. Mereka hanya menyebut nama lengkap, kemudian mulai menebak-nebak: "𝘈𝘪, 𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰 𝘯𝘢 (Pater, saya tidak tahu)." Ini kalimat pembuka dan akan disusul dengan jawaban lain, "Pater, aku lahir waktu itu musim hujan, waktu itu bulan terang." Deretan jawaban ini diakhiri dengan senyum-senyum tulus, namun lumayan buat saya pusing. 

Tiap kali mendengar jawaban-jawaban itu, saya menarik napas panjang, kemudian menoleh kepada lemari penuh buku permandian, dan berkata pelan, "Bapa/Mama/Kaka/Bos 𝘦𝘸, coba toleh lihat lemari sana. Buku-buku banyak begitu 𝘵𝘶 kalau 𝘵𝘪 ingat tahun lahir atau tahun baptis, maka kita cari 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 sore." 

Mereka tak berkomentar, hanya  tersenyum tanpa salah. Senyum mereka itu semacam air: teduh dan lumayan menenangkan hati saya yang mulai marah. Setelahnya, saya menarik napas panjang dan mulai mencari data mereka perlahan-lahan. Pencarian ini bermodalkan tahun tebak-tebakan yang mereka utarakan.

3/

Pada mulanya, saya merasa biasa perihal pengalaman tebak-tebak umur itu. Perasaan saya mulai terganggu ketika semakin sering saya mengalami pengalaman yang sama. Saya menganggap pengalaman ini perlu direnungkan dan bila mungkin dapat digali lebih jauh. 

Karena itu, tiap kali usai melayani mereka, saya bersandar pada kursi kantor, memandang keluar jendela, dan bertanya pada diri sendiri, kenapa mereka lupa bahkan tidak mengetahui secara persis tahun kelahiran mereka? Sebegitu pentingkah mengingat tahun kelahiran? Kenapa?

Saya bertolak pada jawaban-jawaban mereka untuk bermenung diri. 

𝙋𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖, '𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙗𝙤, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪.'

Secara sederhana, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰 menegaskan bahwa manusia tidak melulu mengetahui segala hal, serentak ia (manusia) pun tak pernah tuntas dipahami.

Dalam hubungan dengan tak mengetahui segala hal, manusia kerap bertanya dan mencari. Para penyair melukiskan situasi-situasi itu dalam syair-syair penuh makna. 

Goenawan Mohamad, misalnya, menulis sajak pendek sarat makna berjudul 𝘋𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘛𝘢𝘬 𝘛𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵, mempertanyakan kebahagiaan. Saya kutip lengkap puisinya.

𝘋𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵

𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘰𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳

𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘴𝘢𝘩

𝘈𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳,

𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 

𝘚𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘢𝘬𝘢𝘯

𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘪𝘴 𝘳𝘢𝘪𝘣 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢

𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢?

Lain halnya Leo Kleden. Secara lebih jauh, ia melukiskan pengembaraan seorang anak manusia mencari tahu nama Dia, Cahaya Mahacahaya, Sosok Sunyi, yakni Tuhan, dalam sajak panjang 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.

Leo melukiskan pengembaraan dan pencarian nama itu bermula pada suatu pagi dari musim yang sudah ia lupa. Ia 'ngembara tanpa alamat berbekalkan pertanyaan-pertanyaan. Adakah mereka yang dijumpai (si tua bijaksana, anak-anak di tepi pantai, sepasang anak muda, seorang filsuf, nabi, pendeta di gereja, ahli kitab, penyair, pertapa, para fakir miskin) mengenal nama itu?

Di akhir sajak itu, Leo menggambarkan akhir dari pengembaraan dan pencariannya. 

𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩, 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵 𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 – 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘦𝘵𝘪𝘩, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘢𝘮𝘳𝘪𝘩, 𝘵𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘶𝘨𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘣𝘢: 𝘖 𝘊𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘴𝘶𝘤𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘵𝘢, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶, 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘬𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘫𝘶𝘥 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶.

Goenawan Mohamad dan Leo Kleden telah menampilkan identitas manusia sebagai makhluk yang tak melulu mengetahui segala hal, yang terus-menerus mencari dan bertanya. Beberapa tanya tak sempat dijawab, mengambang dan dipermainkan anak sungai, lainnya sia-sia. Beberapa yang lain mendapat jawab.

Apa pun itu, hidup menghadapkan anak-anak manusia pada pilihan-pilihan: maju-mundur, jatuh-bangun, diterima-dicampakkan, dan ragam pilihan lain. Siapa pun dia, pilihan-pilihan itu menghantar kita pada kenyataan lain bahwa ia (manusia) tak pernah tuntas dipahami. Sebab, setiap orang, tulis Herman Hesse, berada dalam kesunyiannya masing-masing. Dengan lebih puitis, Chairil Anwar menambahkan, nasib adalah kesunyiaan masing-masing.

Dengan demikian, jawaban 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰 menyingkap sisi lain manusia sebagai makhluk sunyi, penuh misteri. Ia hidup, mencari, bertanya, dan menyimpan segalanya: yang penting dan yang tak penting sekalipun, termasuk pentingkah mengingat angka-angka tahun lahir itu?

Tidak penting mengingat itu semua. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰 menyadarkan manusia tentang pencarian-pencarian, tak melulu soal mengingat apalagi menghitung angka-angka yang menandai usia panjang atau pendek. Tak selalu tentang itu. Sebab usia lanjut, sebagaimana tertuang dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo, adalah terhormat bukan karena waktunya panjang dan bukan karena tahunnya berjumlah banyak, melainkan hidup tak bercela, (Bdk. Keb. 4:8-9).

Maka, boleh jadi, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰 sedang mengingatkan manusia, bahwa hidup adalah soal sejauh mana engkau berguna bagi orang lain, bukan hanya soal lama atau singkat engkau ada di bumi. Jadi, yang ditanyakan adalah 𝘬𝘰 𝘴𝘶 buat apa selama ini? Bukan sekadar,  𝘬𝘰 𝘱𝘶 umur berapa? 

Pertanyaan itu menjelma dalam pencarian-pencarian. Hingga di suatu hari nanti, entah pagi, entah siang, entah malam, entah musim kemarau atau musim hujan, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba pada pencarianmu. Di titik itu, manusia memahami arti hidup.

𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖, '𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙪𝙨𝙞𝙢 𝙝𝙪𝙟𝙖𝙣, 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜.'

Sebagai lanjutan dari jawaban 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰, jawaban ini menampilkan manusia sebagai sosok yang dapat mengingat segala pengalaman paling dekat dengannya dan segala kebiasaan yang diulang-ulang. Itulah alasan seseorang kerap meratap berlarut-larut lantaran luka kehilangan, atau seorang tampak begitu riang mendapat balasan cinta. Demikian pun dalam konteks jawaban ini, musim hujan, bulan terang, kemarau panjang, musim panen, itu semua dianggap penting dan mendapat tempat dalam ingatan serta melekat erat dalam hati. 

Di sisi lain, secara tidak langsung, jawaban itu pun menandaskan bahwa mereka tampak begitu akrab dan dekat dengan alam. Dan saya dapat langsung menebak bahwa mereka ini adalah orang-orang yang membaktikan hidup mereka sebagai petani. Dengan kata lain, kita dapat mengenal orang dari kebiasaan-kebiasaannya.

Lalu?

Musim hujan, musim kemarau, bulan terang, bulan gelap sebagai kenyataan yang diingat, membawa saya pada pemahaman bahwa hidup mereka hanya tentang 𝘬𝘰𝘣𝘦-𝘭𝘦𝘫𝘢, siang-malam (hari), ada hasil-tidak ada hasil (kerja). Siang kerja, malam istirahat; begitu berulang-ulang. Ada hasil atau tidak ada hasil adalah buah pengorbanan (kerja). Jadi, apa pentingnya mengingat angka-angka itu?

Mereka terbangun di pagi hari, menyiapkan segalanya, membaktikan diri dalam kerja, kemudian pergi istirahat di malam hari. Esoknya, mereka mengulangi lagi siklus yang sama. Itu yang melekat kuat dalam diri mereka, sehingga di kemudian hari bila ditanya, mereka menjawab pelan, aku lahir waktu itu musim hujan, waktu itu bulan terang. Begitu sederhana, penuh kejujuran.

Albert Camus, Filsuf Prancis, pernah mengkhawatirkan siklus/rutinitas/kebiasaan hidup seperti itu. Kebiasaan yang sama yang diulang-ulang, kata Camus, dapat menimbulkan kejenuhan. Terbangun di pagi hari, menyiapkan diri untuk kerja/aktivitas, pulang di sore hari, lakukan aktivitas rumah, makan, tidur di malam hari, kemudian esoknya, ulangi lagi hal yang sama. Begitu berulang-ulang tiap hari. 

Bagi Camus, ketika manusia dipenuhi kejenuhan karena tidak sungguh memahami makna hidup dari setiap rutinitas berulang-ulang itu, ditambah lagi segala keinginan manusia untuk memahami semuanya tapi tidak sungguh terjawab secara seluruh, maka manusia tak sungkan-sungkan mengakhiri hidupnya sendiri, alias bunuh diri. Camus tak menyarankan engkau melakukan cara keji itu, melainkan memintamu untuk tetap mendorong 'batu kebiasaanmu itu' dengan kesadaran bahwa hidupmu jauh lebih berguna dan engkau sendiri yang berhak atas hidupmu. 

Dalam pengalaman saya, umat paroki Detukeli tak pernah senaif itu. Siklus, rutinitas, kebiasaan-kebiasaan itu dipandang sebagai bagian dari hidup. 𝘒𝘰𝘣𝘦-𝘭𝘦𝘫𝘢, terang-gelap, adalah warna hidup. Bahwasanya, hidup tak selalu terang, juga tidak senantiasa gelap. Mereka tetap tumbuh dalam dua warna itu, 𝘬𝘰𝘣𝘦-𝘭𝘦𝘫𝘢, di siang hari maupun di malam hari, juga di musim hujan dan kemarau sekalipun.

Dengan demikian, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰 dan lanjutannya 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨, sama-sama menegaskan perihal hidup. Bahwa, hidup adalah tentang sejauh mana engkau berguna bagi dirimu, sesamamu, dan Dia Yang Mahasuci yang dikenal sebagai Tuhan. Selebihnya adalah tambahan, termasuk mengingat deretan angka-angka yang ditemukan jauh sebelum mereka lahir. Dan itu tidak terlalu penting bagi mereka yang menjawab 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨.

4/

Di kantor, Rabu itu, Mama Maria duduk di hadapan saya. Ia mengambil surat baptis miliknya dan milik suaminya. Umat yang lain duduk di bangku kantor bersandar pada dinding, lainnya menikmati udara pagi di halaman pastoran. 

"Mama 𝘱𝘶 nama lengkap?" 

Ia menyebut namanya dan saya menulis pada kertas.

"Ingat tahun baptis 𝘬𝘢, Mama?" 

Ia tersenyum. 

"Tahun lahir?" 

Senyuman itu makin melebar.

"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘰, 𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢."

Saya tersenyum, kami sama-sama tersenyum.*


𝘋𝘦𝘵𝘶𝘬𝘦𝘭𝘪, 𝘑𝘶𝘭𝘪 2023