![]() |
| Ilustrasi: foto tutu koda |
Kesetiaan Mama Vina mengingatkan saya pada pesan Mother Teresa, lakukan setiap pekerjaan dengan cinta yang besar.
Saya ingin tetap membungkus tubuh dengan selimut dan berbaring lebih lama di tempat tidur. Dingin seakan-akan menahan saya, membuat saya enggan menginjakkan telapak kaki di lantai dan tak ingin menyentuh air. Tetapi, saya urung niat itu. Saya tidak mau mengingkari janji saya bersama umat Wolowia.
Sabtu sore kemarin, saya menelpon dan mengabari Om Lukas Ndoki, umat di Wolowia, bahwa saya akan ke Wolowia untuk merayakan ibadat Sabda bersama mereka.
Melalui telepon, saya mendengar Om Lukas berbicara dalam bahasa Ende Lio kepada orang-orang di sekitarnya; barang tentu, itu anggota keluarganya. Dengan bahasa Lio sepotong-sepotong, saya memahami pernyataan Om Lukas: Ama Tua (bapa pastor) mau datang bertemu kita.
Saya belum tahu banyak bahasa Lio; hanya beberapa kata yang saya ingat,
semisal aku bebo, iwa latu , mesa na, dan lainnya.
Percakapan pada telepon berakhir dengan janji bahwa saya akan merayakan ibadat Sabda bersama dengan umat Wolowia pada jam delapan pagi, dan Om Lukas akan memberitahukan kabar ini kepada ketua lingkungan Wolowia.
Atas janji demikian, saya bangun, merapikan tempat tidur dan berusaha mandi. Ritual mandi diawali dengan lompat-lompat dan lari-lari kecil dalam kamar. Sesudah mandi, saya menyiapkan hostia dan perlengkapan lain, lalu berangkat ke Wolowia.
Jam di layar Hp saya pukul 05.30.
***
Saya pergi bersama Abang Ans, joki legend asal Detukeli. Kami menggunakan motor Vixion merah milik Paroki Detukeli. Saya meminta Abang Ans mengantar saya karena ini pengalaman pertama saya ke Wolowia.
Jalan ke Wolowia terbilang 'aduhai': berliku-liku, bebatuan, bertanah merah, ditemani tebing-tebing, dinaungi aneka pepohonan hijau dan tumbuh-tumbuhan, dilengkapi hamparan padang luas dan bukit-bukit, diwarnai nyanyian burung-burung, gemercik air, dan hembusan angin menggesek-gesek batang bambu.
Lihat dan alami semua ini, saya teringat perkataan Thomas Berry, seorang ekolog dan sejarahwan Amerika. Bery bilang, suara alam adalah suara Allah yang tampak.
"Terpujilah engkau, Allah Maharahim, Raja Semesta Alam," batin saya.
Di jalan, kami berpapasan dengan umat dari lingkungan dan stasi-stasi terdekat. Mereka setia berjalan kaki menuju gereja paroki untuk mengikuti perayaan ekaristi. Jarak tempat tinggal mereka ke gereja paroki dibatasi oleh lembah, padang, dan bukit.
Lihat mereka, saya bilang ke diri saya sendiri, "mereka setia sekali cari Kau ew Tuhan. Ajari saya ju setia seperti mereka."
Abang Ans mengendarai motor dengan tenang di jalan bebatuan, berbukit, di tebing, dan hamparan tanah merah. Ia berusaha sedapat mungkin kami tiba dengan selamat di Wolowia. Cara kerja Tuhan seperti abang Ans kendarai motor: tenang walau kita di jalan terjal mana pun.
Pkl. 07.30, kami memasuki Wolowia. Mata saya mendapati umat tengah menyiram dan menyapu di halaman rumah. Dua-tiga lelaki bersarung tenun Ende Lio berjemur di bawah panas matahari pagi.
Di sebelah kanan jalan, pintu kapel terbuka menghadap lembah dan padang luas, seakan menggambarkan Allah yang senantiasa terbuka menerima anak-anakNya.
Kami dihantar ke rumah ketua lingkungan. Namanya, Om Kobus. Usianya 50-an tahun, bertubuh pendek, dan berpembawaan tenang nan bersahaja. Istrinya, Mama Silenia Bete, menyuguhkan kopi pagi untuk kami. Kami minum kopi sembari basa-basi serupa anak dan orang tua yang baru bertemu kembali.
Dari Om Kobus, saya ketahui bahwa jumlah KK di Wolowia hanya 10 rumah dengan total jiwa sebanyak 56 orang. Mayoritas penduduk adalah petani dengan penghasilan utama kopi. Hasil kebun dijual ke Ende untuk kebutuhan ekonomi maupun pendidikan anak. Sementara kopi dijual hingga ke Jakarta melalui kerja sama dengan pengusaha-pengusaha terpercaya.
Wolowia, kata Om Kobus, merupakan satu lingkungan dari Paroki Roh Kudus Detukeli. Oleh karena letaknya jauh dari pusat paroki, umat secara swadaya membangun sebuah kapel kecil untuk kebutuhan doa, ibadat, dan ekaristi bersama.
"Biasanya, pastor-pastor, para frater, dan para diakon merayakan ibadat dan ekaristi di sini, selanjutnya meneruskan perjalanan ke Stasi Pisa Tana Au," terangnya sembari mengarahkan tangannya ke luar untuk menunjukkan kepada saya letak Stasi Pisa Tana Au.
"lbadat dan kor ditanggung oleh satu keluarga tiap minggu. Satu pimpin ibadat, satu angkat lagu, satu bacaan, dan lainnya ikut menyanyi. Hitung-hitung semua dapat tugas tiap minggu, " tambah Om Kobus.
Kami jeda sejenak karena harus memulai ibadat bersama di kapel. Saya menyiapkan diri, lalu bersama mereka berjalan menuju kapel dan memulai ibadat bersama dalam kesederhanaan.
***
Di rumah Om Kobus usai ibadat, telah datang Bapak Thomas, Bapak Lukas, Bapak Rafael. Saya duduk di antara mereka seperti duduk di antara santo-santo orang Katolik.
Bapak Lukas, seorang guru SD, mengutarakan sepak terjangnya sebagai pendidik selama bertahun-tahun. Di antara banyak kisah, satu pesan yang mengesankan saya adalah: didik anak-anak kampung dengan bahasa Indonesia yang tidak jelas ni, susah. Tapi, tugas guru adalah mencerdaskan anak-anak bangsa. Jadi mau tidak mau harus bisa. Apalagi anak-anak SD. SD ini tingkat dasar, jadi kalau dasar saja tidak kuat, maka bangunan selanjutnya akan rubuh.
Bapak Rafael tidak banyak bicara. Ia menambahkan seperlunya. Satu yang tidak terlupakan adalah ia selalu tersenyum dalam perjumpaan dan basa-basi kami usai ibadat.
Lain halnya dengan Bapak Thomas. Ia benar-benar mencerminkan Thomas si murid Yesus dalam Kitab Suci orang Katolik. Ia selalu ingin bukti.
Bahasa Indonesianya kacau, jadi ia lebih banyak berbahasa Ende Lio. Melalui terjemahan Om Kobus, saya mengetahui bahwa ia benar-benar seorang peragu dalam banyak hal, termasuk meragukan panggilan saya.
"Diakon, saya baru percaya kalau diakon su jadi imam. Itu artinya diakon su lewati tantangan, termasuk nona-nona," katanya dalam bahasa Ende Lio lalu diterjemahkan Om Kobus dengan hati hati karena takut menyinggung perasaan saya.
Saya tersenyum kepadanya. Saya tak menyalahkan komentarnya. Orang-orang kampung melihat dan menilai segala hal dari pengalaman mereka, terlepas itu benar atau tidak. Mereka sederhana dan apa adanya. Jadi, saya memilih untuk merenungkan komentarnya selama hidup saya. Sebab bagi saya, panggilan apa pun itu adalah berproses sampai mati.
***
Mama Selenia bersama Angel, anaknya, menyiapkan makan siang untuk kami. Kami makan sambil bertukar cerita tentang kopi, alam, panggilan, gereja, tinju, bola, iklim, dan harga komoditas yang kian tak menentu.
Saya dan Abang Ans pamit pulang. Melewati jalan bebatuan, tanah merah, berbukit-bukit, di tebing, di kelok-kelok, saya menyadari satu hal: tidak ada yang mulus dalam hidup ini. Semua berproses. Dan Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri.
2022

0 Komentar