Oleh Selo Lamatapo

Firmus bersama istri dan tiga anaknya


Firmus Du, (35 tahun), tampak ceria di hari pernikahannya pada Rabu, 26 Desember 2018. Ia mengenakan baju pilihan yang telah lama disimpannya menunggu hari pernikahan itu tiba. Baju itu berlengan panjang dan berwarna putih. Ia padankan baju itu dengan sarung Ende, lalu duduk sopan di hadapan pastor yang siap memberkati mereka. 

Hari itu, ia duduk di atas sebuah kursi roda yang baru. Kursi tersebut merupakan pemberian anggota Komunitas Serikat Sabda Allah (SVD) Provinsi Ende. Anggota SVD Ende tergerak hati menyaksikan perjuangan hidup Firmus Du setelah musibah celaka menimpa dirinya. 

Ia lumpuh dalam suatu peristiwa yang tidak pernah ia duga dalam garis nasib hidupnya. Sebuah pohon kelapa yang tidak ia tebang dengan mesin pemotong kayu tiba-tiba rubuh menimpa tubuhnya. Itu di suatu musim ketika ia sedang mengais rejeki untuk menghidupi istri dan tiga anaknya, 2015 tahun silam. Sejak itu, ia menjadi lumpuh. 

Hari-hari selanjutnya menempatkan Firmus pada ruangan yang terbatas. Hampir tiga tahun, Firmus hanya terbaring lemah dalam kamar kos yang sumpek; tempat ia bersama istri dan anak-anaknya meletakan hidup. 

Dunianya adalah tempat tidur tanpa kasur empuk, kelambu tua, peralatan makan, dan segala barang yang ada dalam ruangan sempit yang juga adalah tempat untuk tidur, makan, bercerita bersama anak-anak dan istri, dan bermimpi akan segala yang tak muluk-muluk. 

Dunia yang begitu luas sebelumnya menjadi amat sempit dalam hidup Firmus setelah kelumpuhan mendatanginya tanpa kesepakatan.  

Saya ingat betul, pada November 2018 yang lalu, ketika saya menemuinya di tempat tinggal mereka di pesisir pantai Maurole. Kala itu, Firmus beserta istri dan anak keduanya bernama Jojon. Di hadapan dinding bambu, Firmus menuturkan kerinduaannya untuk bisa kembali berjalan normal. 

"Saya ingin berjalan normal. Kondisi ini membuat saya tidak bisa mengerjakan banyak hal sebagai tulang punggung keluarga. Palingan, jahit sepatu atau sandal tetangga, buat sapu lidi, dan bantu istri titi batu untuk dijual," tuturnya sedih.   

"Semuanya dilakukan di sini, di ruangan ini, karena saya tidak bisa ke mana-mana. Duduk saja agak susah, apalagi melangkah. Setidaknya, ada cara lain yang bisa membantu saya melangkah ke luar dari ruangan ini dan menolong istri serta anak-anak saya," tambahnya dengan nada yang mirip. 

Sementara, istrinya yang tercinta, Bernadeta Riti, tampak sibuk menyiapkan minuman teh untuk saya dan seorang wartawan lain. 

"Di tengah kesusahan yang melilit begitu erat, betapa keluarga ini tahu memberi dari kekurangan mereka," gumam saya dalam hati seraya menyaksikan kesibukan Bernadeta.    

“Dokter sudah melihat kondisi tubuh suami saya dan menyampaikan bahwa tidak ada tulang yang patah. Kami tidak bisa merawatnya di rumah sakit karena ketiadaan uang. Lalu, saya berusaha mendatangkan para orang pintar dan tukang urut untuk melihat serta mengurut bagian yang terkena musibah itu," kisah Bernadeta seraya meletakkan dua buah gelas air teh di hadapan kami.  

"Tetapi, semuanya tidak menuai hasil memuaskan. Suami saya hanya bisa bangun untuk duduk, namun tidak pernah bisa melangkah atau bergerak meninggalkan tempat tidur.” Nadanya penuh ketulusan memasuki telinga dan mengaduk hati saya. 

Ia bertutur seakan hidup ini mengharuskan ia untuk berjuang lebih gigih dan tangguh. Pelbagai cara untuk memenuhi kerinduaan suaminya telah ia lakukan. Sayangnya, kondisi itu serupa takdir yang harus dijalankan untuk waktu lama, bahkan selamanya. 

Hingga suatu hari di bulan Desember 2018, Firmus menelpon saya. Ia menyampaikan beberapa kabar sukacita yang datang menghapus luka dan duka yang telah menempel hening seperti karat pada seng di atap rumah. 

Kabar itu adalah pernikahannya dalam waktu dekat dan hadiah sebuah kursi roda baru yang tidak ia duga sebelumnya. Sebuah kursi roda yang akan membawanya mengelilingi dunia sekitar rumahnya dan siap membantunya mengais hidup bersama istri dan anak-anaknya yang ia cintai. 

“Saya akan menikah, Rabu 26 Desember 2018 nanti. Jangan lupa hadir, ya Nak. Ketiga anak saya, Olga, Jojon, dan Navya, juga menyaksikan kebahagian ini.” Dari pesisir pantai Maurole, suara Firmus memasuki telinga saya melalui telepon genggam. 

Ia menelpon saya beberapa hari sebelum hari raya Natal. Dari suaranya, saya merasakan sukacita mengerubungi hatinya. Dan saya percaya, sukacita itu tidak pernah lekang sepanjang usia hidupnya. Saya diam di hadapan telepon, dan merasa bibir saya tengah tersenyum. 

"Tuhan baik," kata saya dan barangkali tak didengar Firmus. Selanjutnya, kepala dan hati saya dikepung nada-nada bahagia dari suaranya. Hingga di akhir telepon, saya baru menangkap jelas, "Jangan lupa datang ya, Frater." 

Saya lupa saya bilang apa di detik itu. Telinga saya hanya menangkap bunyi tut-tut-tut dari telepon, dan saya merasa diri saya tersenyum, ya, tersenyum. Saya bahagia mendengar kabar itu.   

Rabu, 26 Desember 2018. Tepat hari pernikahan Firmus. Saya menelpon Firmus. Saya bermaksud menyampaikan permohonan maaf saya, karena saya tidak bisa hadir mengikuti misa dan acara pernikahannya.

Saya harus kembali bekerja seperti biasa di kantor Flores Pos. Pada kesempatan itu juga saya menyampaikan selamat untuk janji setia selamanya yang dikukuhkan dalam sakramen pernikahan. Saya mendoakan ia beserta keluarga. Lebih dari itu, saya ingin sekali mendengar ia bercerita tentang sukacitanya.

Firmus cukup kecewa, tetapi ia dan keluarganya juga cukup memahami saya setelah saya menjelaskan segalanya. Lalu, saya meminta ia menceritakan acara pernikahannya. 

Mula-mula, ia menyampaikan terima kasih yang begitu mendalam kepada Serikat Sabda Allah Provinsi Ende yang telah memberikan bantuan berupa kursi roda untuk kelangsungan hidupnya.

“Saya tidak miliki apa-apa untuk membalas kebaikan SVD. Saya, istri, dan anak-anak hanya memiliki ungkapan terima kasih yang mendalam untuk segala kelimpahan ini. Tuhan memberkati segala karya Serikat Sabda Allah.” Nadanya begitu haru. Saya percaya dia membendung air mata. 

Selanjutnya, Firmus bertutur tentang sukacita pernikahannya yang berlangsung sederhana dan membahagiakan. Di hadapan pastor, bapa mama saksi, anak-anaknya, dan umat yang sempat hadir di pekarangan rumahnya, Firmus dan Bernadeta berjanji untuk setia selamanya hingga kematian menjemput. 

Kepada saya, Firmus menceritakan kerinduannya yang tak sampai, yakni mengikuti perayaan kelahiran Yesus di Hari Raya Natal di gereja Maurole. Kondisi kakinya mengharuskan ia demikian. Meski demikian, ia memaknai Tuhan yang lahir dengan cara berbeda. 

Jauh di dalam rumahnya yang sempit, ia merenung kelahiran dan kehadiran Tuhan dalam keluarga kecilnya. Baginya, Tuhan senantiasa hadir dalam diri istri dan ketiga anaknya: Olga, Jojon, dan Navya. Mereka adalah Tuhan yang tak pernah mengeluh dalam penderitaan bertubi-tubi. 

Bagi Firmus, Tuhan adalah anak-anak dan istri yang tak pernah sesal lahir di rumah reot penuh kekurangan. Tuhan adalah istri dan anak-anaknya yang tak pernah menolak keadaan diri Firmus sebagai suami dan ayah yang kini lumpuh dan tak berbuat banyak hal. 

Di rumah kecil itu, Firmus menemukan Tuhan yang setia, Tuhan yang berkorban, Tuhan yang mencintai, Tuhan yang tulus, Tuhan yang tak kenal sungut. Tuhan itu hadir secara konkret dalam istri, ketiga anaknya yang masih belia, dan sesamanya.  

Sebelum kami sungguh mengakhiri pembicaraan kami melalui telepon, Firmus sekali lagi mengatakan, kursi roda ini adalah kaki baru yang akan menopang tubuhnya untuk mengais rejeki hidup bersama keluarga. 

Kursi roda itu membuatnya kembali menyambangi pekarangan rumah dengan aneka benda di sekitarnya. Kursi roda itu membawanya menyaksikan deburan ombak laut yang selama ini hanya terdengar di telinga. 

"Akhirnya, saya sudah bisa keluar dari dalam rumah dan bisa berjalan-jalan dengan kursi roda di pekarangan rumah saya," ujar Firmus. Nadanya lega penuh terima kasih.  

"Jojon senang menemani saya sambil mendorong kursi roda. Walau tak seluas duniaku yang lama ketika kaki masih kuat menopang tubuh ini, tetapi saya bersyukur dan sungguh berterima kasih untuk sebuah kursi roda yang kini menopang tubuh saya untuk kelangsungan hidup saya bersama istri dan anak-anak,” tambahnya tenang. 

Saya percaya, kebahagiannya mendebur-debur, bahkan lebih keras dari deburan ombak pantai Maurole. Sesudahnya, saya matikan telepon dan menulis kisah ini.*

(Tayang pada Flores Pos cetak, 2018)