Oleh Selo Lamatapo

Cerpen ibu yang Merindu
ilustrasi oleh Qikan


Derik badan kapal motor saat menyerempet dermaga membangunkan tidurku. Kubuka mata dan merasakan kapal motor terombang-ambing dihempas gelombang pasang. Nakhoda dan ABK sibuk menenangkannya. 

Bersamaan dengan itu, para penjual nasi bungkus, telur rebus, kacang tanah melompat gesit dan lincah ke dalam kapal motor. Mereka berteriak-teriak mendagangkan jualan masing-masing. Sesekali mereka menyodorkan kepada pembeli. Begitu ribut dan ramai seperti di pasar.    

Aku lupa di selat mana mataku terakhir kali terlelap. Empat jam pelayaran cukup membosankan. Ditambah lagi tabiat penumpang yang tidak kukenal ini. Mereka begitu sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Kami terasing di antara kami. 

Palingan sesekali terdengar rengekan anak-anak minta dibelikan biskuit, atau kata permisi dari mulut orang dewasa yang kebelet pipis. Beruntung nakhoda tidak sibuk dengan teleponnya. Kalau ia pun sibuk, maka selesailah pelayaran pulang ke kampung halaman.  

Dengan mata kantuk dan tubuh yang malas, aku keluar setelah memandangi para penumpang berderet-deret menyeret dan memikul barang-barang bawaannya. Barisan ini seperti orang-orang kampungku saat mengantre mengambil beras orang miskin (Raskin) di kantor desa. Kudapati dermaga kapal belum berubah sepenuhnya. Tetap saja panas. Beberapa titik berlubang. Orang-orang berhimpit-himpitan. Sampah-sampah plastik berserakan. 

Aku layangkan pandangan ke bagian kiri pelabuhan dan menemukan Bang Sius tengah melambai kepadaku. Kepalanya ditutup helm hitam. Aku mendapatinya dan menyalaminya. Lelaki yang setia menjemputku tiap kali berlibur ini tampak semakin tua dari empat tahun lalu. Tetapi senyumnya tetap sama: lebar dan tak dibuat-buat. 

Ia mengatur barangku di atas motor bututnya dan kami tinggalkan dermaga. Saat menjauh dari dermaga, kudapati jalanan-jalanan di kota masih berlubang. Taman kota pun belum lagi terawat sehingga layak disebut sebagai taman rumput kering dengan penjaganya adalah kambing-kambing hitam berjenggot panjang, serupa lelaki calon pemimpin daerah pada baliho di pinggir taman kota. 

Semakin menjauh dari kota, jalanan kian berlubang. Aspal-aspal tercabut. Kerikil tercecer ke mana-mana. Di kiri dan kanan jalan, pepohonan mengering pada musim kering. Batangnya menjadi gelap ditempel debu-debu. Keadaan ini bagai lukisan pelukis yang lupa dibubuhi warna hijau. Begitu kering dan gersang.

***

“Bagaimana dengan jalanannya, Bu?”

“Aduh, Nak. Semua berkembang baik. Jalanan tidak lagi berlubang. Pemimpin daerah kita sangat baik dan memperhatikan kebutuhan utama masyarakat. Jalanan yang dulunya berlubang – itu, jalan masuk kampung kita, yang tahun lalu kau jatuhkan ayah dari sepeda motor gara-gara tergelincir – sekarang telah diperbaiki. Pokoknya, kalau engkau pulang nanti, maka engkau akan kaget dan terkagum-kagum, Nak.” 

Itu percakapan terakhir aku dan ibuku beberapa bulan lalu melalui handphone, teknologi trendi yang mampu mendekatkan yang jauh serentak menjauhkan yang dekat. Di kampungku, handphone merupakan alat bantu melancarkan proses perselingkuhan. 

Dan itu kusaksikan saat liburan empat tahun lalu. Saudari sepupuku depresi berujung gila lantaran suaminya kedapatan selingkuh. Buktinya jelas. Semua data tersimpan apik dalam memori telepon, termasuk video mesumnya. Sungguh memuakkan, namun demikianlah tabiat manusia yang berakal budi. Kian beradab, kian pula biadab. 

***

“Kapan jalanan kota ini diperlebar, Bang?”

“Sekitar setahun yang lalu. Tapi, sudah mulai berlubang lagi. Kualitasnya tidak baik.” Bang Sius mengeraskan suaranya agar aku bisa mendengar. Angin menghajar muka kami, sehingga suara Bang Sius melebar ke mana-mana.   

“Jalanan di kampung kita juga sudah mulai hancur. Banyak yang mulai berlubang, padahal baru diperlebar beberapa bulan lalu. Kualitasnya tidak sebaik jalan masa penjajahan Jepang.” Bang Sius menurunkan kecepatan sepeda motornya lantaran jalanan yang tidak rata – meskipun telah diperlebar dan diperbaiki. 

Lelaki yang berprofesi sebagai tukang ojek untuk menghidupi tiga anak dan keluarganya ini tahu betul jalanan yang berkualitas dan tidak berkualitas, walau hanya berbekal pengalamaan merantau sebagai kuli bangunan di tanah Malaysia.

Mendengar sentilan Bang Sius tentang jalanan di kampung kami, aku teringat cerita mendiang kakekku. Kepadaku pernah diceritakan tentang kerja paksa menanam pepohonan di pinggir jalan dan pembangunan jalan baru pada masa kekuasaan Jepang. 

Kerja paksa itu menguras tenaga orang kampung dan menelan banyak korban, tetapi jalan itu bertahan untuk durasi waktu yang lama. 

Memang, sesuatu yang dilakukan dengan pengorbanan yang total – termasuk kematian – akan bertahan lama. Tentu berbeda dengan keadan jalanan sekarang. Semua proses menggunakan mesin, tapi toh durasi ketahanannya dapat terhitung. Malah menyisakan polemik tak berkesudahan dan penuh warna politik.

“Terkadang, kita butuh penindasan untuk kesadaran yang mendalam.” Batinku sinis sembari terus mengamati dan merasakan jalanan yang kian berlubang saat sepeda motor butut Bang Sius terus menjauhi kota. 

***

“Bagaimana, Nak. Ada perubahan ‘kan?” Ibu membanggakan perubahan jalan sedari tadi saat aku tiba di rumah. Padahal, perubahan itu tak jauh berbeda dengan periode pemimpin sebelumnya. 

Karena itu, aku tak menimpali pertanyaan Ibu. Aku duduk diam di bale-bale (tempat tidur bambu) dan meneguk segelas air teh yang disiapkan ibu. Ini teh perjumpaan setelah sekian tahun berpisah. Aku ingin merasakan kehangatan perjumpaan ini serupa perjumpaan air panas dengan gula pasir. Tercebur dan larut dalam rindu yang tak berkesudahan kepada ibu, ayah, dan kakakku. 

 “Pemimpin kita sekarang ini mencalonkan lagi dirinya untuk periode kepemimpinan berikutnya. Kalau saat pemilihan nanti, engkau masih berlibur, maka sumbangkan suaramu untuk dia ya, Nak? Biar ada perubahan lebih banyak lagi di kampung kita.” Ibu tetap membanggakan calon pemimpin yang hanya membawa perubahan pada awal dan akhir periode kepemimpinan – itu pun tidak akan pernah luput dari berbagai kasus korupsi anggaran pembangunan. 

“Ah, Ibu. Perubahan yang adil adalah perubahan yang merata. Kasihan kampung-kampung yang tak kedapatan perbaikan jalan, kekurangan air bersih, tidak ada listrik yang masuk lantaran anggaran dana pembangunan telah lenyap entah ke kantong mana,” batinku. Aku tak berani menyampaikan hal ini kepada ibu, karena aku tak ingin menghabiskan kerinduan perjumpaan dengan membahas hal-hal yang tak pernah tuntas. 

Aku juga tidak menyalahkan Ibu yang terus membanggakan pemimpin daerah sekarang ini. Sebab, kebanggan Ibu berdasarkan pada hal nyata yang dialaminya, yakni pelebaran dan perbaikan jalanan di kampung kami – meskipun banyak ruas telah rusak.

Bagiku, kebanggaan itu adalah kekonyolan, karena pembangunan itu kerap tidak sesuai dana yang digelontorkan. Semestinya jalanan di kampungku lebih baik dari sekarang dengan dana yang ada, tetapi masyarakat hanya merasakan yang begitu-begitu saja lantaran keegoisan para petinggi rakyat. Dan Ibu yang kian tua tak akan pernah memahami hal ini. Apalagi hanya bermodalkan dropout sekolah dasar. 

Namun, begitulah orang-orang yang tak paham politik. Teori tidaklah penting. Apa yang mereka alami sekarang itulah perubahan, walau banyak kepalsuan. Maka, tak heran Ibu selalu membanggakan pemimpin saat ini dan sekaligus mendorongku untuk memilih pemimpin itu pada periode berikut.

“Kamu belum menanggapi permohonan Ibu tadi, Nak.”

“Oh, iya. Apa tadi, Bu?” Saya tersenyum dengan gelas teh di tangan.

“Masih muda tapi cepat lupa. Makanya, jangan terlalu banyak makan makanan dari luar negeri.” Ibu menggerutu sambil memperbaiki nyala api di tungku.

“Ha-ha-ha…. Ulangi permohonannya, Bu.”

“Kalau nanti pemilihan pemimpin yang baru, jangan lupa pilih pemimpin yang sekarang ya, Nak? Beberapa hari yang lalu, ia janjikan kampung kita akan dapatkan dana untuk perbaikan jalan yang tersisa, listrik masuk desa, dan air bersih.” 

Aku terdiam. Kutatap Ibu di tungku dari tempat duduk yang berjarak sepelempar batu jauhnya. Kubayangkan wajah pemimpin yang disebutkan Ibu. Kubayangkan pemimpin itu berkoar-koar menebar janji di hadapan masyarakat kampung. Dan orang-orang kampung mengangguk-angguk senang seperti anak kecil diberi permen. 

Di tungku, Ibu sibuk memperbaiki nyala api. Menunggu komentarku, tetapi aku tak menanggapinya. Aku memilih diam sebab aku tahu, janji hanya akan membunuh nurani Ibu apabila tidak kutepati.* 

(Tayang pada Flores Pos cetak, 8 November 2016)