Oleh Selo Lamatapo

Ulasan Tentang Umat, Uskup, dan Tuhan
Ilustrasi oleh Carlos

Rabu, 13 November 2019 boleh tercatat sebagai sejarah. Uskup baru Keuskupan Ruteng diumumkan. Umat tentu mengenangnya sebagai hari sukacita. “Tuhan mendengarkan doa-doa kita.”


Sedari Rabu pagi, kabar pengumuman Uskup baru Ruteng bertebaran di media sosial. Dan umat menanti dengan penasaran yang menumpuk-numpuk. Wajar. Sudah dua tahun lamanya umat menunggu kabar itu; terhitung sejak Uskup Hubertus Leteng mengundurkan diri, 2017 silam. 

Sore hari, di hari itu, umat memenuhi Gereja Katedral Ruteng. Dengan kerinduan besar, mereka datang mendengarkan pengumuman pemimpin baru Keuskupan Ruteng. Mereka mendaraskan doa. Begitu khusyuk. Di kepala mereka terpatri tanya: siapa pilihan Tuhan yang memimpin keuskupan ini?

Doa selesai. Vikjen Keuskupan Ruteng, Romo Alfons Segar Pr menuju mimbar. Umat menanti dalam hening. Romo Vikjen membacakan putusan takhta suci. Umat menahan napas menanti nama Uskup baru. Dan nama Romo Sipri Hormat disebutkan. Sontak ruangan katedral riuh dengan tepukan tangan. Menggemuruh. Penuh kegembiraan.

“Kita telah diberi seorang Uskup baru. Mari kita sambut dengan sukacita dan doa. Tuhan telah mendengarkan doa-doa dan kerinduan umat,” ujar Vikjen, (Flores Pos, Kamis 14/11).

Kegembiraan umat Ruteng mengingatkan saya kepada umat Argentina di Buenos Aires saat menanti pengumuman Paus yang baru. Mereka meledak dalam jerit dan sorak tak terkatakan tatkala mengetahui Paus yang baru adalah Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires. Dialah Paus Fransiskus, Paus kita saat ini. (Sindhunata, Kompas.com, Selasa 19 Maret 2013).

Begitulah kegembiraan. Ia meletup dalam keramaian. Apalagi berkaitan dengan Gereja. Namun, apakah semua yang bergembira ini juga siap menanggung kecewa bersama-sama apabila Uskupnya ditimpa persoalan? Ataukah sebaliknya mengumpat-umpat dan meninggalkannya beramai-ramai? Ataukah menyangkalnya sebagaimana Petrus kepada Yesus dalam kisah Injil, Kitab Suci orang Katolik?

Umat memang selalu menarik. Dari mulutnya kerap terucap doa-doa dan harapan-harapan. Namun, dari mulut yang sama itu pula mengalir omelan-omelan dan aneka umpatan. Mereka melambungkan doa permohonan, tetapi juga mencerca habis-habisan setiap Uskupnya yang tersandung “batu”.  

Salahkah umat menyumpah-nyumpah Uskupnya yang ditimpa persoalan? Salahkah mereka yang pernah mendaraskan doa-doa pengharapan itu mencerca dan menyangkal Uskupnya yang dilanda kemalangan? 

Manusia memang menarik, tetapi Tuhan mahasegalanya. Hanya Dialah yang mendengarkan dan memeluk tiap doa umat-Nya tanpa pernah membedakan-bedakan datangnya dari siapa. Ia juga tetap menuntun gembala-Nya yang ditimpa kemalangan. Cara Tuhan sulit dipahami. Hanya iman yang percaya.

Rabu, 13 November 2019 adalah hari berlimpah kegembiraan. Hari bergelimang pengharapan. Hari penuh syukur. Seorang Uskup telah terpilih. Dialah Mgr. Sipri Hormat Pr. Uskup Keuskupan Ruteng yang baru.  

Dunia, khususnya umat Keuskupan Ruteng mengharapkan, Uskup Sipri membawa angin perubahan segar. Umat tentu mengingat catatan kelam yang ditinggalkan Mgr. Hubertus Leteng Pr. Gereja di abad 21 juga dikepung aneka persoalan. Di sinilah umat berharap Gereja melalui Uskup Sipri meniupkan napas segar. 

Menyitir Carlo Martini, Kardinal Italia dalam catatan yang ditinggalkannya sebelum meninggal, sebagaimana ditulis Sinduhnata, bahwa Gereja Katolik ketinggalan 200 tahun lamanya. Ritual gereja megah dan meriah, tetapi berhadapan dengan zamannya, gereja kehilangan nyali dan menjadi penakut.

Gereja, katanya, lelah dan terseok-seok karena keberatan beban, seperti birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistik belaka. Gereja harus bisa menemukan bara apinya di tengah tumpukan abu yang menenggelamkannya. (Sindhunata, Kompas.com, Selasa 19 Maret 2013).

Selamat menggembalakan domba-dombamu, Uskup Sipri Hormat. Umat mendoakanmu dan (siap mengomel), tetapi Tuhan mahacinta senantiasa menuntunmu.

(Tayang di Flores Pos cetak dan online)