Oleh Selo Lamatapo

Cerpen Tukang Cukur dan Bayangan Kenangan
Dokumen Pribadi

Istri Om Banus dibunuh beberapa hari setelah Om Banus pensiun menggali sumur. Kematian mengambil nyawa istrinya dengan cara bengis. Leher ditebas. Darah menyembur-nyembur. Lalu mati tanpa teriak. Begitu pasrah. 


Om Banus Hampir mati ditimbun kehilangan. Namun perasaan itu tak berlangsung lama. Ia menerima kematian sebagai kenyataan yang mendatangi tiap manusia kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun.  

Hari-hari sesudah itu, Om Banus memutuskan menjadi tukang cukur. Entah apa alasannya, orang kampung tak pernah ingin tahu. Om Banus menyulap ruangan tamu rumahnya menjadi ruangan cukur. Satu cermin besar digantung hening di dinding, satu alat cukur dan satu bungkus silet tergeletak di atas meja yang merapat ke dinding, dua buah gunting dan satu sisir hitam di gantung pada paku. 

Pada dinding lain, Om Banus menggantung pigura istrinya yang tengah tersenyum. Pigura itu tampak hidup. Om Banus kerap berlama-lama menatapnya. Semakin lama menatap, lukisan itu menjelma kesedihan yang mengiris-iris hatinya kian remuk.

Peralatan cukurnya telah lama tidak diganti. Walau begitu, orang-orang kampung tidak pernah menaruh cemas. Amat sering mereka mendatangi rumah cukur Om Banus. Sebab ada hal unik di ruangan cukur. 

Di ruangan itu, Om Banus meletakkan buku-buku cerita, buku-buku politik dan sastra, buku-buku pertanian, majalah anak-anak, tumpukan koran-koran bekas, dan cerita-cerita rakyat. Om Banus melengkapi kekayaan ruangan itu dengan kelihaiannya bercerita dan melawak. Siapa pun yang mendengarnya pasti terkekeh-kekeh. Itu sebabnya, orang-orang kampung tak sungkan-sungkan mendatangi rumah cukur Om Banus. Bagi mereka, ruangan cukur itu menghadirkan kebahagiaan alami.

Sesering mungkin, ibu-ibu dan bapak-bapak mengantar dan menemani anak-anaknya bercukur. Mereka duduk menanti sambil mendengar Om Banus bercerita dan melawak. Anak-anak juga kerap beramai-ramai duduk membaca dan tak bosan-bosannya mendengar aneka cerita Om Banus. Sayang, mereka lebih banyak ribut seperti di pasar. 

Orang-orang kampung beranggapan Om Banus telah melupakan kenangan tragis pembunuhan istrinya. Namun siapa yang pernah tahu, di balik kebahagiaan yang terpancar di raut wajahnya itu, ada onggokan luka yang menganga amat lebar di dalam benak Om Banus. 

Itu bermula dari kematian putra bungsu Phlipus Lodo, Kepala Desa Kilibala. Anak itu kejang-kejang dan mati setelah sekian lama tergeletak sakit. Kepada  Kades Phlipus Lodo, Temola (Dukun) Bengko bilang, "anakmu disantet." Dengan pelan dan sedikit cemas, Temola Bengko membisikkan ke liang telinga Kades Phlipus Lodo nama istri Om Banus setelah Kades Phlipus Lodo mendesak-desak dan berjanji memberinya segepok uang. Kades Phlipus Lodo sempat bingung, tapi rautnya memerah setelah Temola Bengko menyertakan beberapa pernyataan tambahan.    

Kabar yang masuk ke telinga kiri Kades Phlipus Lodo itu keluar dan tersiar cepat ke telinga orang-orang kampung. Kabar itu tersiar beramai-ramai dan menjadi banyak serupa jamur di musim hujan.

“Ah, tidak mungkin! Istrinya Om Banus 'kan rajin ke gereja? Bagaimana bisa ia dituduh seperti itu?” 

Itu komentar orang yang ragu-ragu dalam perjalanan usai pemakaman putra bungsu Kades Philipus Lodo.  

Beberapa hari setelah itu, saat matahari belum terbenam seluruh, seorang warga, entah kerasukan setan apa, tega membunuh Vero Peni, istri Om Banus, dengan bilah parang yang tajam. Darah menyembur-nyembur seperti keluar dari keran air yang patah digilas truk. Perempuan paruh baya itu mati terkapar tanpa teriakan di tengah jalan sekembalinya dari kebun. Vero Peni mati tanpa pesan apa pun. Kematian mendatanginya dengan cara kejam dan meninggalkan derita kehilangan yang teramat menyesakkan di dada Om Banus. 

Sejak itu, Om Banus percaya, berita bohong telah merasuk dan merusak nalar orang-orang kampung. Istrinya adalah korban pertama berita bohong yang tersiar dari mulut ke mulut dan dari telinga ke telinga. Berhati-hatilah dengan kebohongan yang diulang-ulang. Ia teramat bahaya dari racun apa pun. 

Kebohongan jenis ini perlu dibasmi hingga akar-akarnya. Dan bagi Om Banus, satu-satunya cara membasmi kebohongan jenis ini adalah menumbuhkan minat baca orang-orang kampung. Kepala orang-orang kampung harus diisi dengan bacaan-bacaan yang bermutu agar mereka mampu menyaring segala informasi yang datang. Rambut orang-orang kampung harus dicukur supaya tidak menutupi batok kepala yang mulai diperbodoh dan mudah percaya pada kebohongan-kebohongan. Karena itu, ia siapkan buku-buku dan menyulap ruang tamu menjadi ruangan cukur.  


***

Mula-mula, orang-orang kampung sungkan mendatangi rumah cukur Om Banus. Pasalnya, mereka menduga Om Banus juga sama seperti istrinya. Namun, mereka lekas menepis dugaan itu. Mereka mengingat kembali kebaikan Om Banus yang menggali sumur di tengah kampung dan tulus menolong orang-orang kampung. 

"Mana mungkin Om Banus yang suka melawak itu adalah menake (suanggi). Tentu tidak mungkin!" 

Keyakinan demikian meruntuhkan dugaan yang merongrong kepala orang-orang kampung. Mereka berani datang dan memasrahkan rambutnya dipangkas Om Banus seraya menyendengkan telinga mendengar Om Banus bercerita dan melawak. 

Kerap mereka membayar lebih dari harga seharusnya, entah karena berbelas kasihan atau apa pun itu. Namun, Om Banus hanya mengumbar senyum ramah dan menolak dengan sopan tiap pemberian itu, sebab baginya, amat tak elok bila keseringan dikasihani oleh orang lain. Betapa pun susahnya hidup, jangan pernah menyusahkan orang lain. Begitu ia menanam prinsip. 

Dari hari ke hari, ruangan cukur itu dipenuhi orang-orang kampung. Mereka duduk menunggu giliran seraya membaca, mendengar cerita, dan tergelak-gelak oleh lawakan Om Banus yang menyentil kebodohan orang-orang kampung. Tapi mereka tak peduli. 
Justru mereka bahagia menyaksikan keriangan yang kerap menempel di wajah oval Om Banus. Hingga akhirnya mereka meyakinkan diri, Om Banus telah menguburkan luka  kematian istrinya. 

Namun siapa pernah tahu di balik wajah riang itu tertumpuk luka dalam hati yang mendebur-debur bagai ombak di pantai selatan? Siapa pernah tahu? 
Tiada. 
Tiada satu pun orang kampung yang tahu.  


***


“Alangkah dungu dan bodohnya kepala ini.” Om Banus bergumam ketika menyisir rambut Kades Philipus Lodo. Itu gumaman yang tak didengar siapa-siapa. 

“Mengapa kepala ini begitu mudah menaruh percaya pada kabar bohong tanpa pernah mencari tahu kebenarannya?” Ia tetap menggumam sambil tangan kanannya bergerak menyisir rambut ikal itu. Dari dalam cermin, Kades Philipus Lodo menemukan raut wajah Om Banus keheranan. Dan tanpa mendongakkan kepala, ia bilang, “Ada apa Om Banus? Kau sepertinya sedang pikir sesuatu.” 

Om Banus sedikit kaget, tapi tidak kentara. Ia tertawa pendeka dan di ujung ketawanya, ia bilang, “Tidak apa-apa. Aman saja Bapa Kades.” 

Selanjutnya, dengan dua tangan, ia perbaiki posisi kepala Kades Philipus Lodo. 

“Model cukurnya bamana (bagaimana) Bapa Kades?”

Dalam posisi menunduk, Kades Philipus Lodo membalas, “Kasi gundul saja (gundulin saja), Om Banus. Maklum sudah tua. Sudah tidak laku.” Kades Philipus Lodo tertawa pendek. Om Banus tersenyum, mengambil alat cukur dan mulai mencukur. 

Helai-helai rambut itu jatuh sedikit demi sedikit. Dan entah kenapa, Om Banus merasa bayangan istrinya begitu dekat sore itu. Bayangan sosok perempuan sederhana itu meriak-riak di hadapannya. Om Banus melirik kepada lukisan di dinding. Senyuman itu menjelma rintihan sakit yang berujung kematian.  

Di tengah kesibukan Om Banus mencukur, Kades Philipus Lodo tertidur pulas. Bau alkohol tercium dari napasnya. Beberapa orang kampung dan anak-anak tengah membaca dalam hening. Padahal sebelum Kades Philipus Lodo datang, mereka begitu ribut dan terbahak-bahak karena lawakan Om Banus. Barangkali mereka takut Kades Philipus Lodo memarahi mereka atau menyiksa mereka berlari keliling rumah sebagaimana Jemel beberapa waktu lalu gara-gara ribut.

Sedikit lagi Om Banus selesaikan pekerjaannya. Ia meletakkan alat cukur, mengambil silet di atas meja, dan melepaskan kulit pembungkus. Silet itu begitu tajam di tangannya. Dengan hati-hati, ia mulai mencukur bagian kanan, lalu bagian kiri. 

Ia kembali menundukkan kepala Kades Philipus Lodo sebelum merapikan bagian tengkuk dengan silet. Kades Philipus Lodo sempat terbangun, tetapi memilih tidur lagi dalam posisi demikian. 

Om Banus menggerakkan silet perlahan-lahan serupa mengiris sarang lebah. Bulu-bulu halus di tengkuk Kades Philipus Lodo jatuh seluruhnya. Tangan Om Banus terus mencukur ketika bayangan istrinya memenuhi kepala Om Banus. Bayangan darah yang menyembur-nyembur dari leher istrinya akibat ditebas sebilah parang tajam oleh orang kampung yang tak kenal cinta kasih dan dirasuk kebohongan membuat napas Om Banus semakin karuan.  

Kesedihan akan kenangan itu menyiksanya begitu hebat. Ia bersedih, tetapi Kades Philipus Lodo tertidur pulas. Ketika bayangan istrinya sungguh telah memenuhi tangan, kepala, dan seluruh dirinya, ia mendengar erangan kesakitan seperti orang mau mati. 

Ia tersadar ketika mendengar anak-anak berteriak menjauh. Baru ia tahu, tangan dan wajahnya telah dipenuhi darah dari tengkuk Kades Philipus Lodo. 

Ketika Polisi datang dengan mobil berbunyi fiufiu panjang, Om Banus berteriak-teriak tak karuan di dalam rumahnya, di hadapan lukisan istrinya, “Bukan! Bukan aku yang membunuhnya! Bukan aku! Kenangan yang telah membunuhnya. Bukan aku! Bukan…..!!!” 

Ia masih berteriak-teriak ketika mobil polisi yang membawanya melaju gesit dengan fiufiu panjang menuju kota, meninggalkan orang-orang kampung yang bengong, meninggalkan rumah cukur dan segala kenangannya.