Oleh Selo Lamatapo

Bloqueado FC (berdiri) pose bersama Culas FC (jongkok) sebelum berlaga Senin sore, (8/6/2020). 

Kabar pandemi Covid-19 tiba juga di Gere, sebuah desa kecil di Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Kabar itu sudah lama, dan ketakutan terus bercokol di kepala orang-orang yang mendengar kabar itu; termasuk kami para frater yang menghuni Wisma Efrata Gere. Hari-hari kami menjadi tidak biasa. Kami tak lagi bepergian. Liburan semester pun dibatalkan. Dan kejenuhan merayap perlahan-lahan seperti kura-kura.  


Di antara sumpeknya kejenuhan itu, futsal menjadi alternatif utama untuk menggusur jenuh yang kian menggunung. Sebab bagi kami, futsal mendatangkan kegembiraan kolektif di samping banyak rutinitas lain. Futsal juga meruntuhkan kejenuhan, serentak menghalau ketakutan perihal pandemi Covid-19. Futsal adalah cara sederhana kami meraup remah-remah kegembiraan. 


**

Lapangan futsal Wisma Efrata tak semegah banyak lapangan yang kerap ditayang di youtube atau di layar TV. Lapangan Wisma Efrata berlantai kasar, tanpa dinding, dan tanpa jaring-jaring karena memang bukan lapangan futsal. Lapangan ini adalah lapangan basket, tapi kami sulap jadi lapangan futsal. Tak ada akar, rotan pun jadi. Intinya, kegembiraan tumbuh subur di sana. 

Bila lapangan ini dideskripsikan sedikit mendetail maka bisa jadi ditulis begini: lantainya kasar, terbilang panjang dan lebar, dan memiliki dua tiang besi yang dibangun untuk ring basket. Dari tiang inilah terciptanya gawang dadakan. Gawang ini tanpa jaring-jaring. Di bagian tengah dua besi yang berdiri kokoh, kami palangkan sepotong bambu yang diikat dengan tali. Bambu ini berfungsi sebagai mistar gawang. Kelihatannya amat ramah lingkungan. 

Di sisi kiri ada pagar bunga. Di sisi kanan terbentang kebun Wisma Efrata yang ditumbuhi pepaya, kelor, ubi-ubi, kelapa, dan aneka tumbuhan. Sementara di sisi lain, tampak sedikit curam dan sebuah kali memanjang tidak jauh dari situ. Bila bola ditendang sedemikian kuat, maka pemain lawan terpaksa harus berlari memungutnya di kali. 

Kenyataan demikian kami lihat sebagai satu taktik mengalahkan lawan, yakni membuat lawan lelah dengan berlari memungut bola yang meluncur cepat ke kali. Sebuah taktik ala kampoeng. Jangan ditiru, hanya pemain futsal Wisma Efrata Gere. 

Satu sisi lain yang cukup membahayakan semua pemain adalah sisi kanan. Kami menamakan sisi ini sebagai sisi seram. Pasalnya, fondasi lapangan di sisi ini agak tinggi. Alhasil pemain ekstra berhati-hati. Jika tidak berhati-hati, maka selesailah riwayat hidupnya. 

Saking seramnya, tiap kali menggiring bola melintasi sisi ini, kami selalu membayangkan orang-orang dalam video tiktok pemikul peti dengan tariannya. Membayangkan orang-orang tersebut, kecepatan lari direm dan bola dibiarkan meluncur ke kebun. 

Selanjutnya seorang pemain akan berlari memungut bola, dan ia tentu membawa kabar gembira sekembalinya dari kebun: "ada papaya masak di sebelah sana." Papaya itu tidak selamat usai laga berakhir. 

Begitulah deskripsi singkat perihal lapangan futsal ramah lingkungan milik Wisma Efrata Gere. Selengkapnya lihat saja foto di bawah ini, dan jangan lupa bayangkan keseruannya. 


Foto lapangan futsal Wisma Efrata Gere. 

 
**

Tiada pilihan lain untuk sebuah laga bergengsi ala penghuni Wisma Efrata Gere selain pertarungan tim antar meja. Hadiah bagi pemenang adalah bebas dari cuci piring sesudah makan malam. Tim yang kalah siap mencuci piring milik tim pemenang. Sederhana tapi bernilai juang tinggi.   

Ide liar laga ini timbul di suatu siang di kamar makan Wisma Efrata Gere di saat korban pandemi Covid-19 meningkat, saat Kabupaten Sikka masuk zona merah, dan kecemasan yang kian bernyala-nyala dengan pertanyaan: akan jadi apakah nasib kita ke depan? 

Ide ini diumumkan Har Jansen begitu saja, kemudian ditanggapi dengan nada optimis dari anggota meja lain. Kesepakatan pun disahkan hari itu juga tanpa berbelit-belit.

Jumlah kami tidak banyak. Seluruhnya 14 orang. Yang hobi bermain futsal hanya 12 orang. Dua yang lain lebih mencintai badminton dan lopas sore. Jadinya satu tim terdiri dari 6 pemain. Pas untuk lapangan yang cukup luas. 

Bloqueado FC adalah gabungan dari meja 1 dan 2, sementara Culas FC merupakan gabungan dari meja 3 dan 4. Laga ini berlangsung tanpa kiper, tanpa wasit, dan tanpa pelatih. Juga tanpa strategi yang matang karena pokok bahasan sebelum bertanding adalah perihal pepaya masak dan siapa yang akan memanjat kelapa. Meski demikian, semuanya berlangsung seru, aman terkendali, dan menggembirakan karena wasit dan pelatih adalah hati nurani. Percaya sa, jangan bimbang. 


Pemain Bloqueado FC. Dari kiri: Raul, Nana Ubeckh Daud, Eman Roja, Kae Ama Niel Bunga, Julio Van Huller.


Bloqueado FC menobatkan Julio Van Huller sebagai kapten tim. Ia berposisi sebagai gelandang. Sosok ini amat liar di lapangan. Maklum ia belajar banyak dari pemain internasional di youtube. Ia kerap menonton aksi Neymar Jr, Griezmann, dan De Jong. Deretan nama ini ia sematkan untuk dirinya sendri. Alhasil, dalam satu laga, ada dua nama yang ia pakai. Kadang De Jong, kadang Griezman. Ya, kami bingung, tapi begitulah Julio Van Huller. 

Gabungan dua nama ini membuat aksinya amat brutal di lapangan. Dengan postur tubuh yang gempal, ia kerap 'mencas' lawannya. Sayangnya kadang ia tak seimbang sehingga ia lebih banyak terkapar di lapangan, dan kami membayangkan para pemikul peti pada video tiktok. Begitu pula tiap kali ia menggiring bola ke sisi seram lapangan. Bayangan para pemikul peti dan musik pengiring tarian itu menggema kuat di lapangan. Syukur ia masih selamat hingg kini.

Bloqueado FC diperkuat oleh Ero atau Eman Roja, sosok lincah dengan kecepatan tinggi dan akurat, yang menempati posisi belakang (bek). Ia begitu lincah, cekat, dan cepat. Larinya serupa kuda di arena pacuan. Cepat dan liar. Dari kakinya gol-gol indah tercipta. Maklum, sosok ini terlahir dengan bakat khusus di bidang bola kaki.  

Di posisi stopper atau istilah kami 'jangkar' ada Nana Ubeckh Daud. Sosok ini memiliki raut serupa David Beckham: tampan. Geraknya tenang tapi mematikan lawannya. Ia kerap mencegal lajunya Unu Leo Silver. Teknik Nana Ubeckh memotong kecepatan lawannya terbilang lihai sehingga kerap lawannya hanya bengong. 
 
Di posisi sayap kiri ada Raul alias Yanto Lobo. Ia berperawakan tinggi, kekar, dan kuat. Bayangkan saja Ibrahim Movic. Itu posturnya. Tapi kelincahannya serupa Raul Gonzalez. Itu sebabnya ia mengidolakan Raul. Liarnya minta ampun. Tendangannya apalagi. Tembok dapur retak gara-gara tendangannya. Itu sebabnya penonton setia kami, Mando Labetubun, selalu bilang 'waow' tiap kali ia berlari dan siap menendang. 

Kebanyakan gol tercipta dari kakinya. Tidak ada bahasa yang detail menggambarkan sosok ini selain liar dan kekar. Ini kesimpulan yang bisa dirangkum dari 'waow'nya Mando Labetubun. Selebihnya, pembaca nan budiman cukup menutup mata dan membayangkan aksinya.
 
Di posisi sayap kanan ada Rui Baros Dominggos, pemain tua dari Timor Leste. Geraknya liar, tapi kebanyakan tanpa bola karena lupa. Tendangannya kadang meleset lantaran tenaganya ludes karena berteriak-teriak tidak jelas. Maklum sosok ini suka berteriak-teriak di lapamgan, tapi bukan kesurupan. Sesekali ia menghasilkan gol-gol dengan tendangan yang keras minta ampun. 

Di posisi striker, ada Kae Ama Niel Bunga. Pemain senior ini begitu tenang sehingga amat menghanyutkan lawannya. Saking tenangnya, kami kerap menduga ia seakan sedang berdoa di tengah lapangan. Ditambah lagi sepatu futsalnya adalah sepatu misa. Dari sepatu ini, ia mengoceh lawannya dan menyumbangkan gol-gol spektakuler.

Sementara Culas FC menobatkan Wil Lerisam, pria bengal asal Nunang, sebagai kapten tim. Ia mengambil posisi sebagai striker. Sosok ini hanya mengandalkan kaki kanan. Bisa dibilang sebagai kekuatan utamanya. Alhasil, bila bola dipasing ke arah kaki kirinya, maka ia akan kewalahan dan menghabiskan waktunya hanya untuk mengatur posisi tubuhnya. Umumnya ia gagal dan bola lebih sering diambil alih oleh lawannya. Oh Nunang yang bengal, Nunang yang malang. 

Meski demikian, kegemilangannya patut diangkat jempol. Sesekali ia meletakkan posisi tubuhnya secara akurat, maka selesailah gawang lawan. Gol tercipta tanpa ampun, dan bola meluncur lurus ke kali. Adakah itu tekniknya, kami tidak tahu. Nunang merahasiakannya. 


Pemain Culas FC. Dari kiri: Itok Harun, Har Jansen, Selo Lamatapo, Unu Leo Silver, Wil Lerisam.


Di posisi bek, ada Unu Leo Silver. Dari namanya, pembaca dapat membayangkan Unu Leo adalah aktor film hollywood seperti Sylvester Stallone. Bisa juga, ia adalah pemain bola seperti Lionel Messi. Nah, dua nama ini seakan menjadi ruh yang membakar semangatnya. Ia menampilkan permainan yang apik khas Lionel Messi. Kelincahan dan kegesitannya mengobrak-abrik pertahanan lawannya. Sementara ruh Sylvester Stallone ia tunjukkan melalui ketangguhan perutnya menahan bola tendangan keras Ero, Raul, dan Rui Baros Dominggos. 

Kelincahan Unu Leo menggiring bola di pinggir lapangan tidak hanya menguatkan kami sebagai rekan tim, tapi menakutkan kami karena larinya membabi buta. Bila melintasi sisi seram lapangan dengan kecepatan membabi buta, kami seakan tengah melihat lirikan dan mendengar nyanyian para pemikul peti. Syukurlah ia selamat. Sampai kini, keunggulan dan ketangkasan Unu Leo menjadi kekuatan terbesar tim kami.  

Di posisi 'jangkar', ada Morghan Aurelio. Ia kebanyakan mengelabui lawannya dengan teknik toki-toki cepat. Ia bergerak cepat laksana belut. Dengan kaki kiri, ia kerap menciptakan banyak gol spektakuler. Di pundaknya kami meletakkan kepercayaan penuh untuk menghalangi laju Raul dan keberingasan tendangan Rui Baros Dominggos demi keselamatan nyawa Unu Leo Silver, sang bek. 

Di posisi sayap kiri, ada Nana Itok Harun. Pemain ini tampak tenang. Ia jarang bersepatu karena sepatu kesayangannya telah jebol oleh gesekan semen kasar. Namun, kelincahannya menggiring bola dan pergerakannya mengelabui lawan patut diacungkan jempol. Kaki kosongnya tampak lincah, selincah ia mengiris dan mengulek bumbu-bumbu di dapur saat bertugas masak. Begitulah Itok, ia seakan menerapkan teknik mengulek bumbu ke tengah lapangan. Korban kelincahannya adalah Julio Van Huller dan Rui Baros Dominggos. Dua sosok ini selalu 'kena kolong' dari Itok. Begitulah mereka di hadapan kaki Itok, selalu sial. 

Di posisi sayap kanan, ada Kraeng Har Jansen. Dari namanya saja, pembaca bisa bayangkan betapa kudusnya sosok ini. Ia mengandalkan kekuatan alam karena matanya minus. Maklum kutu buku. Larinya terhitung liar, walau kadang tanpa arah dan suka menabrak lawannya. Siapa mo help? 

Letak kekuatan penuh Kraeng Har ada di kaki kanan. Itu sebabnya, pergerakannya tak jauh beda dengan sang kapten, Wil Lerisam. Ia lebih banyak menghbiskan waktu mengatur posisi tubuh agar tendangannya terarah. Sayangnya, tendangan keras Kraeng Har lebih banyak terbentur di tiang dan lebih banyak meleset ke kali sehingga menyengsarakan lawannya. Kasihan tiang gawang dan pemain lawan, tapi mau bagaimana lagi. 

Namun, jangan anggap remeh. Sesekali ia meluluhlantakkan gawang lawannya dengan tendangan kerasnya itu. Gol-gol indah tercipta dari kakinya, dan itu adalah sebuah kemujuran yang mustahil. Begitulah Kraeng Har. Kami percaya penuh terhadap ketangguhannya mencegah kecepatan Ero dan Raul. 
 
Di posisi tengah ada Selo Lamatapo. Sosok ini biar pembaca bayangkan saja aksinya. 


**

Laga Senin sore, 8 Juni 2020 berbeda dengan laga-laga sebelumnya. Laga ini amat meriah karena diiringi musik dan pemain berkostum lengkap. Raul mendatangkan dua jenis kostum menarik. Satu berwarna cokelat dan satunya berwarna biru. 

Bloqueado FC mengenakan kostum berwarna cokelat dan Culas FC berkostum biru. Laga ini berlangsung seru, menegangkan, dan menarik. Para pemain menampilkan pola permainannya dengan bengal, beringas, syahdu, teduh, adem, cekat, dan cepat. Laga ini dimenangkan Bloqueado FC dengan skor telak 6-2. Melelahkan, namun amat membahagiakan.