Feature Selo Lamatapo
Sore yang baik. Saya duduk menyaksikan kesibukan para pengunjung di Situs Serambi Soekarno Biara Santo Yosef Ende. Beberapa orang tampak sibuk swafoto di hadapan lukisan yang tergantung hening di dinding dan patung Soekarno. Mereka menampilkan berbagai ekspresi untuk mengabadikan momen bersama Soekarno dalam lukisan dan patung itu. Lainnya menatap-natap lukisan itu. Entahkah mereka datang dari satu desa terpencil, saya tidak tahu.
![]() |
| Serambi Soekarno |
Sore yang baik. Saya duduk menyaksikan kesibukan para pengunjung di Situs Serambi Soekarno Biara Santo Yosef Ende. Beberapa orang tampak sibuk swafoto di hadapan lukisan yang tergantung hening di dinding dan patung Soekarno. Mereka menampilkan berbagai ekspresi untuk mengabadikan momen bersama Soekarno dalam lukisan dan patung itu. Lainnya menatap-natap lukisan itu. Entahkah mereka datang dari satu desa terpencil, saya tidak tahu.
Dalam lukisan itu, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, berdiri seraya tersenyum di antara dua Misionaris Serikat Sabda Allah atau lebih dikenal SVD, yakni Pater Gerardus Huijtink, SVD dan Pater Johannes Bouma, SVD. Soekarno tampak sibuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran dengan kedua misionaris SVD asal Belanda itu.
Pater Gerardus Huijtink, SVD dan Pater Johannes Bouma, SVD berjubah putih, sementara Soekarno tampak wibawa dan sederhana dalam balutan baju putih, celana panjang, sepatu hitam, dan berpeci hitam di kepalanya. Jubah putih dan peci itu seakan menonjolkan identitas diri ketiga tokoh besar itu.
Di tengah kesibukan mereka mengabadikan dan bermenung di hadapan lukisan itu, saya sempat berpikir: apa gerangan yang memenuhi pikiran mereka di hadapan lukisan Soekarno dan Kedua Misioanris itu?
Bagi saya, lukisan itu mengabarkan banyak hal. Seorang bocah kecil tentu akan bertanya kepada ibunya saat bersama-sama mengunjungi serambi itu: Nenek siapa itu, Ma? Yang bertopi itu siapa, Ma? Rupa-rupa pertanyaan akan ia lontarkan untuk memenuhi naluri ingin tahunya.
Lain halnya dengan seorang seniman. Ia akan menatap, merenung, dan menilai. Ia juga akan menelisik sampai ke akar-akar asal lukisan itu: mulai dari campuran warna, ketebalan campuran, jenis warna, kesesuaian lukisan, dan aneka macam soal seputar seni lukis.
Sementara, aktivis atau kaum terpelajar tentu menemukan aneka pesan dari lukisan itu. Mereka akan memuja toleransi, persaudaran, dan indahnya hidup dalam keberagaman yang dibangun oleh para tokoh dalam lukisan itu.
Begitu pula terjadi pada tukang ojek, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Meminjam Pramoedya Ananta Toer, Penulis Tetralogi Pulau Buruh, sebuah karya akan menjadi kaya oleh karena penafsiran (pembacaan, penilaian) atasnya.
Saya kagum akan lukisan itu. Betapa indah sebuah toleransi antaragama dalam bingkai lukisan itu. Sayangnya dalam kenyataan, wajah toleransi kita dipoles dengan aneka kepentingan individu maupun kolektif hingga tidak pernah purna dilukis.
***
Serambi Soekarno adalah situs yang terletak di Pendopo Barat Komunitas Biara Santo Yosef Ende. Situs ini diresmikan oleh Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Jua SVD, atas nama pemilik Situs Provinsi SVD Ende Biara Santo Yosef untuk menghargai perjuangan Soekarno, menghargai relasi yang telah dibangun Soekarno bersama para misionaris SVD, dan sebagai ungkapan rasa hormat anggota SVD Ende kepada Soekarno.
Saya hadir ketika situs ini diresmikan pada tanggal 14 Januari 2019, mengenang 85 tahun silam Soekarno memijakkan kaki untuk pertama kalinya di Ende (1934) sebagai tempat pembuangan dirinya.
Pater Henri Daros, SVD selaku Pemrakarsa, pada kesempatan peresmian itu mengatakan bahwa sasaran Serambi Soekarno adalah anak-anak. Mereka harus datang dan menikmati segala yang ada di situs ini. Sebab, mereka memiliki imajinasi dan potensi yang baik. Serambi Soekarno, lanjutnya, dapat menjadi tempat bagi anak-anak membangun rasa dan mengaktualisasikannya.
Sementara Pater Lukas Jua, menambahkan, keberadaan Situs Serambi Soekarno membantu kaum muda untuk menghargai sejarah dan belajar dari Soekarno. Sore itu pula, Pater Lukas menegaskan tiga hal yang harus dipelajari dari para misionaris dan Soekarno, yakni keterbukaan, keprihatinan kaum marginal, dan minat membaca.
Menurutnya, keterbukaan ketiga tokoh ini harus ditiru agar wawasan kita melampaui suku, bangsa, dan agama.
“Kami berharap situs ini menjadi pelengkap situs besar di Ende yang berada di Taman Renung Bung Karno. Tempat ini menjadi tempat bermenung dan tempat membaca bagi kita,” harap Pater Lukas di hadapan sejumlah orang dari pelbagai kalangan waktu itu.
Saya berinisiatif menemui tim seniman usai peresmian serambi itu. Beny Laka, Pematung/Pewarna Lukisan sekaligus Ketua Tim Kerja yang mewakili Fabiola T. A. Kerong selaku sketsa/outline lukisan dan anggota seniman lainnya, mengisahkan perjuangan mereka menerjemahkan lukisan itu menjadi patung dan lukisan yang kini tergantung hening di dinding Serambi Soekarno.
Beny mengisahkan sepak terjang kesusahannya dalam memikul tanggung jawab yang mahabesar itu.
"Saya sempat menolak ketika pater pimpinan dari Biara Santo Yosef meminta saya menjadi pematung dan pelukis lukisan ini. Saya merasa beban karena ini tokoh besar, tokoh yang dikenal dunia," begitu ia mulai bercerita.
"Namun, istri saya mengingatkan saya untuk tidak boleh mengecewakan kepercayaan pater. Sejak itu, saya tidak tidur karena memikirkan cara menerjemahkan foto Soekarno berumur 30-an tahun dan wajah dua misionaris ke dalam lukisan yang ada di dinding serambi itu. Susahnya minta ampun." Suaranya tenang. Saya mendengar dengan sungguh, dan isi kepala saya membayangkan kerumitan proses kerja tangan atas mahakarya itu.
"Saya bersyukur karena teman-teman dengan senang hati membantu saya sehingga lukisan dan patung ini terselesaikan." Beny memandang kepada lukisan yang terpajang di dinding dan patung Soekarno yang sedang duduk menghadap ke arah lautan Ende.
"Setelah ini, saya akan tidur dengan nyenyak," ujar Beny dengan tenang, sementara teman-temannya berdiri berjejer dan memandang pada hasil karya mereka yang tengah dipotret peserta yang hadir dalam kegiatan peresmian sore itu.
Jauh dalam diri saya timbul segala perasaan dan pikiran. Saya membayangkan segala kesusahan Beny Laka, Si Seniman asal Ende yang bergumul dan menuntaskan tugasnya.
Bagi saya, Beny memahat sejarah; ia memahat toleransi dan mengabadikannya untuk generasi penerus. Tapi, apakah para generasi penerus memahami lukisan dan sedikit menengok aneka kesusahan di balik karya mahaagung itu? Adakah keinginan yang meronta-ronta dari dalam diri mereka untuk belajar pada ketiga tokoh dalam lukisan itu?
***
Sore yang baik. Saya duduk menyaksikan kesibukan para pengunjung mengabadikan diri di hadapan lukisan dan patung Soekarno.
“Lukisan itu boleh pajang dan abadi. Tetapi, toleransi, persaudaraan, dan keterbukaan ketiga tokoh itu belum sepenuhnya menyata di tanah air kita. Nilai-nilai ini belum selesai dilukis di tanah yang menjunjung tinggi kemajemukan. Begitulah. Lukisan kadang lebih indah dari kenyataan dan lebih kaya dari penafsiran.”
Saya tinggalkan Serambi Soekarno dan kesibukan orang-orang yang datang dari entah.

13 Komentar
Bendición.
Sobat blogger kunjungi juga rianodel.online 😂😂