Cerpen Selo Lamatapo

Foto Ina Deran Lamatapo

Ibu bersikeras mempertahankan tungku api di dapur ketika ayah berencana membangun dapur yang baru. Dapur itu akan dibuat berlantai kasar dan akan disiapkan kompor serta penanak nasi listrik menggantikan tungku itu.

“Kalau memasak nasi, kita tinggal colok alat penanak nasi dari listrik atau gunakan kompor saja, Bu.”

“Tidak! Kamu boleh menggantikan segala-galanya, tapi tungku api itu tidak boleh digantikan dengan apa pun.” Ibu membantah dengan suara keras kepada ayah.

Bantah-membantah itu mulai terjadi sejak ayah berencana membangun dapur baru. Kondisi dapur sudah seharusnya diganti. Atap dari alang-alang mulai bolong, dinding bambu juga sudah terlalu tua. 

Sementara, meja kayu, rak piring, dan bangku panjang masih lumayan baik. Peralatan makan, cuci, masak, gentong juga masih amat layak pakai. Beberapa periuk tanah juga amat baik karena ibu sangat pandai menjaga barang-barang dapur.

Sebenarnya, ide menggantikan tungku api dengan kompor dan penanak nasi listrik adalah ide kakak sulungku, Deran. Beberapa bulan lalu, Deran yang bekerja di Malaysia menelpon ayah. Ia bilang ia telah mengirimkan uang untuk membangun dapur yang baru. Ia juga meminta agar membelikan kompor yang baru. 

Sedangkan, penanak nasi listrik ia kirimkan dari Malaysia melalui tetangga kami, Katarina Peni, yang hendak kembali dari tanah perantauan.

“Gantilah semua itu, Ayah. Biar Ibu tidak bersusah-susah mengipas-ngipas api di tungku. Barek dan Ama Kapitan Goran juga tidak lagi cari kayu bakar di kebun. Tinggal bayar listrik bulanan dan beli minyak tanah.” Begitu Deran berkata. Dan ayah telanjur mengatakan ya tanpa menunggu pertimbangan ibu yang belum pulang dari pasar. Ketika ayah menyampaikan rencana itu, terjadilah bantah-membantah.

Satu hal yang aku suka adalah ibu dan ayah tidak pernah bertindak kasar saat berbantahan. Tidak pernah sama sekali. Bantah-membantah tentang apa saja sudah sering terjadi. Namun, ayah tidak pernah berlaku kasar kepada ibu, begitu juga ibu kepada ayah. Tidak sama sekali.

Pernah ayah dan ibu bantah-membantah perihal sepeda tua milik ayah. Ibu meminta ayah memindahkan sepeda itu dari ruang tamu. Tapi, ayah membantah bahwa sepeda itu adalah sepeda bersejarah di kampung kami. Semua orang mengenal sepeda itu. Sepeda itu telah membantu banyak orang.

Dulunya, ketika negeri ini dijajah Jepang, sepeda itu digunakan untuk mengantar keluarga pasien ke rumah sakit di kota. Ayah yang mengayuhkan sepeda itu jika ada yang membutuhkan bantuan. Sebab, kendaraan waktu itu susahnya minta ampun. Inilah alasan mengapa ayah membantah ibu ketika ibu meminta sepeda itu dipindahkan dari ruang tamu.

Betapa senang menyaksikan ayah dan ibu bantah-membantah, karena saat itu aku akan melihat wajah ibu memerah oleh amarah sementara ayah mulai mengguyon dengan caranya sehingga ibu kadang ikut tertawa. Dan hilanglah segala amarah.

Sekali ibu mengancam ayah bahwa ia tidak akan memasak untuk kami. Mendengar itu, ayah langsung memegang-megang perut sambil meringis dengan suara dibuat-buat seperti orang kelaparan. Melihat itu ibu tergelak-gelak. Aku dan Barek juga terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah ayah. Sontak suasana rumah menjadi ramai dan bahagia. Ayah kadang begitu. Melucu untuk melengkapi kesederhanaan hidup keluarga kami.

Ketika Deran menelpon lagi, ayah menyampaikan bahwa ibu menolak rencananya. Deran minta bicara dengan ibu.

“Kompor dan penanak nasi listrik itu akan memudahkanmu, Bu. Tidak perlu lagi Ibu bersusah-susah mengipas api dan mencari kayu bakar.” Deran membujuk-bujuk. Namun, ibu tetap pada pendirian. Begitulah ibu. Sekali tidak, maka tetap tidak. Kami sekeluarga percaya bahwa selalu ada makna di balik segala penolakan ibu.

Kiriman Deran tiba di rumah diantar oleh tetangga kami, Katarina Peni, sebagaimana janjinya. Ayah dan Barek yang membuka kiriman itu. Isinya beragam. Ada sendok makan, piring, peralatan dapur, dan yang terakhir adalah penanak nasi listrik. Ayah tidak tahu alat itu. Barek yang menerangkannya, karena ia pernah melihat itu di rumah teman sekolahnya.

“Ini penanak nasi listrik yang disebutkan Deran itu, Ayah,” ujar Barek sembari menunjukkan alat itu. Ibu yang sedang mengipas-ngipas api di tungku dengan pengipas dari anyaman daun lontar melirik kepada Barek.

“Ini alatnya, Bu.” Barek menunjuk-nunjuk barang itu kepada ibu. 

“Ibu tak akan menggunakannya. Ibu masih terlalu kuat untuk mengipas api dan mencari kayu bakar di kebun,” timpal ibu seraya memasukkan potongan-potongan kayu ke tungku. Barek dan ayah tak menanggapi pernyataan ibu. Alasan apa pun tidak akan pernah mengubah pendirian ibu.

Barek mengatur semua kiriman Deran, sementara ayah berbaring di bale-bale (tempat tidur) bambu di dapur. Aku mendekati ibu dan duduk di atas bilah balok dekat tungku api. Beberapa potongan kayu menimbulkan asap dan menjadikan mataku berair.

“Kenapa tidak menggantikan saja dengan penanak nasi kiriman Deran, Bu?” tanyaku seraya mengusap-usap mataku yang berair. Ibu tersenyum sambil mengatur nyala api di tungku. Ia sedang menanak nasi untuk makan malam.

“Alat itu akan membuat kamu jadi malas. Kamu tidak akan bekerja lagi membantu Ibu mencari kayu bakar. Bahkan, kamu tidak akan menemani Ayah dan Ibu ke kebun.”

“Tapi alat itu memudahkan kita, Bu.”

“Benar, Ama Kapitan Goran. Alat itu memudahkan sekaligus melunturkan semangat kerjamu, semangat berkorbanmu, dan semangat juangmu. Bahkan, melenyapkan semangat kebersamaan dan kehangatan dalam rumah ini.” Aku mulai diam dan mendengarkan ibu. Segala hal selalu ia beri makna sehingga kata-katanya selalu mengandung nilai. Aku selalu tak jemu-jemu mendengarkannya.

Barek mendekat ke tungku. Ia membawa serta bawang merah dan bawang putih dalam baki untuk dikupas di dekat tungku, dekat ibu.

“Ibu belum berani membiarkan kamu menggunakan alat itu. Kamu masih harus belajar banyak hal dari tungku api ini. Sebab, tungku api ini adalah tungku kehidupan kita. Jika tiada nyala api di tungku, maka tiadalah kehidupan ini.” Ibu mengangkat tutupan periuk. Uap air menetes dan mengganggu nyala api. Ia mengaduk-ngaduk nasi yang semakin matang di perapian. Aroma nasi jagung memenuhi penciumanku. Masakan ibu selalu membuat aku mencintai makanan. Ibu menutup lagi periuk itu.

“Dari tungku ini kamu belajar berproses mulai dari mencari kayu, mengatur tata letak dan jumlah kayu, serta menjaganya agar api dapat bernyala baik. Api yang menyala baik akan memberi kehidupan bagi manusia. Namun, bila tidak dijaga baik, maka ia dapat menghancurkan hidup manusia.” Ibu menarik potongan-potongan kayu dari tungku dan membiarkan bara api kemerah-merahan. Nasi telah matang dan siap diangkat dari tungku.

Barek telah berhenti mengupas bawang-bawang dan memotong menjadi kecil-kecil. Ibu memintanya mengambilkan sayur daun kelor di atas meja yang telah diluruhnya. Ibu menurunkan periuk nasi ke tanah dan memasukkan lagi potongan kayu tadi ke tungku. Barek menyerahkan sayuran itu dan mengangkat kuali yang tergantung di dinding. Ia meletakkan kuali di atas tungku dan ibu langsung menuangkan air dari gayung yang telah disiapkannya. Kemudian, ia menunggu air itu mendidih.

Melihat ibu dan Barek bekerja, aku merasa menjadi lelaki paling beruntung memiliki mereka di dunia ini. Keduanya memiliki kesamaan pada rambut yang hitam dan halus, berkulit sawo matang, dan bewajah oval. Dua-duanya adalah perempuan pekerja keras dan penyayang. Dua sosok yang selalu bijaksana dalam menjalankan hidup. Hanya ibu telah beruban dan telah keriput oleh umur.

“Ama Kapitan Goran.” Ibu menyebut namaku sambil mengatur nyala api. Aku memandang kepadanya.

“Menjaga api di tungku sama halnya menjaga kehidupan. Tidaklah mudah. Ia menuntut pengorbanan, kesetiaan, tanggung jawab, dan cinta. Jika kita melalaikan salah satunya, maka kita menuai kesia-siaan. Karena itu, kamu harus selalu berproses sampai matang. Jangan terburu-buru. Berusahalah menjaga api di tungku dengan baik agar tiada kesia-siaan mendatangimu, anak-anakku.”

Air di kuali menyembul-nyembul karena telah mendidih. Barek memasukkan potongan bawang ke dalam kuali. Setelahnya, ibu menuangkan daun kelor ke dalam kuali dan mengaduk-ngaduk. Ibu menambahkan juga beberapa bumbu penyedap ke dalam kuali. Air yang mendidih itu berubah menjadi hijau daun.

“Ibu mohon jangan gantikan tungku api ini dengan apa pun. Sebab, di sinilah kehidupan tercipta dengan segala kehangatan dan kebersamaan.” Aku menatapnya dan merasakan kehangatan. Ibulah kehangatan yang sesungguhnya. Aku yakin, kami tak akan menggantikan tungku ini selamanya.


(Cerpen ini pernah tayang di Flores Pos)