Selo Lamatapo

Cerpen Jari Kecil Ari
Dokumen Pribadi

   

Aku melirik ia meneguk air teh yang kusiapkan untuk kami berdua. Mata kecilnya tidak tenang. Ia memandangi daun-daun pohon di pekarangan rumah yang tertiup angin. Ia sama sekali tidak memedulikan aku yang sedari tadi sedang memperhatikannya. 

Umurnya delapan tahun. Rambutnya ikal berwarna hitam. Hidungnya tidak semancung hidung ibu. Pipinya tanpa lesung kerap berdebu karena bermain di tanah bersama teman-temannya. Ia lelaki pendiam, tak banyak merengek. Segala sesuatu ia lakukan dalam diam dan tabah. Bahkan bila ditanya pun, ia kerap tak menjawab. Entahlah, ada apa di kepalanya. Yang aku tahu ia selalu merindukan ibu.

Ia adikku. Serahim dari ibu, tetapi bukan sebapak. Aku sendiri tidak tahu persis raut wajah bapakku. Ibu tidak banyak membicarakan perihal bapak. Ia hanya memberitahukan nama bapak tanpa menunjukkan satu pun gambar rupa bapak. Aku juga tidak pernah berusaha untuk mencari tahu lebih dalam tentang bapak. 

Aku dilahirkan di tanah Malaysia. Ibu memboyong aku pulang ke kampung halaman saat aku berusia lima tahun. Kami hidup di rumah nenek, karena ibu belum memiliki rumah sendiri. Ibu adalah anak kedua dari istri pertama kakek. Kakekku memiliki tiga orang istri. Dan aku adalah cucu pertama dari nenek. 

Baru genap sepuluh tahun usiaku, ibu mengandung lagi. Ibu mengandung dari suami Bibi Rosa, kakak kandung ibu. Bibi Rosa sangat marah mengetahui perilaku buruk suaminya dan ibu. Ia menangis sejadi-jadinya di rumah nenek. Bahkan ia pernah ingin membunuh ibu dengan sebilah pisau dapur. Sebab, ia tak pernah menduga ibu dan suaminya akan melakukan hal itu.   

Peristiwa itu amat mengecewakan nenek dan seluruh keluarga. Ibu hidup dalam cemoohan anggota keluarga dan masyarakat kampung kami. Namun, ia menerima semua itu dengan tabah yang kekal serupa ketabahannya memasrahkan diri kepada suami Bibi Rosa. Aku yakin, Bibi Rosa tak akan memaafkan ibu.  

Dua tahun setelah melahirkan, ibu merantau lagi ke tanah Malaysia. Ia pergi tanpa meninggalkan luka-lukanya. Luka-luka itu tumbuh subur dan menempel kuat di seluruh tubuhnya. Usiaku yang sedemikian belia tak pernah mengizinkan aku memahami semua luka ibu. 

Ibu menitipkan aku dan adikku yang masih belia kepada nenek. Walau dirundung kecewa atas luka yang dilakukan ibu, nenek tidak pernah mendendami ibu. Ia mencintai anaknya dalam untung dan malang. Sebab cinta seorang ibu tidak pernah dibatasi oleh apa pun. Nenek tabah menanggung segalanya; termasuk menanggung perilaku buruk anaknya.

Semenjak kepergian ibuku, neneklah yang mengurus aku dan adikku. Hari-hari menjelma kerinduan yang berjatuhan di kepala, di kasur yang dekil, kemudian terkubur dalam bola mata. Kerinduan itu kami simpan dan kami jaga bersama harapan yang tabah, persis ketabahan ibu di hadapan cemoohan warga kala itu. 

Aku beranjak remaja dalam hitungan tahun. Aku sudah dapat menghitung usiaku, menghitung uban nenek, dan mengingat lama kepergian ibu. Ibu sering mengabari kami lewat telepon genggam dan selalu menyelipkan kerinduannya pada akhir pembicaraan di telepon. Sesudahnya, aku bersama adikku mulai mencarinya. Namun, kami tak pernah menjumpai kepingan kerinduan itu. Yang ada hanya air mata pada dua bola mata nenek yang menggantung hening seperti embun di atas daun-daun bunga. Aku tahu, nenek juga merindukan ibu. 

Adikku bergegas besar dalam lengan nenek. Bisa kamu bayangkan betapa hebatnya ia hidup tanpa memeluk lengan ibunya atau sekadar mencium bau tubuh ibu. Hidup terkadang lebih perih dari seribu belati menyayat hati. 

***

Di beranda pagi ini, kujumpai sepasang rindu yang harum di matanya.
     
“Ke laut,” teriaknya sambil berlari meninggalkan beranda, dua gelas air teh, dan aku yang bingung. Tepat di perempatan jalan tanah yang debunya sedang diterbangkan angin, ia berhenti. Ia melihat ke tanah, membungkuk lalu menulis dengan jarinya yang kecil. Dari beranda rumah, aku memperhatikannya. Sesudah itu, ia kembali ke beranda dan aku menyambutnya dengan raut yang bingung.

Belakangan ini, ia melakukan hal demikian: melihat arah angin dari daun-daun pohonan, lalu pergi menulis di tanah jalanan dan membiarkan debunya diterbangkan angin ke arah lautan. Entah siapa yang mengajarkannya, aku tidak tahu. 

Lain harinya, saat pagi datang dengan bau laut yang tak biasa, aku tak menjumpainya di beranda rumah. Kudapati punggungnya kian menghilang di tikungan jalan sana. Ia pergi bermain bersama teman-temannya. 

Pada tanah jalanan kemarin, saat angin belum sempurna menerbangkan debunya pagi ini, aku menemukan tulisan dari jari kecilnya yang nyaris tidak bisa kubaca. Tulisan itu amburadul dalam bahasa kampung kelahiranku. Bila diterjemahkan boleh jadi sesingkat ini: “Pulanglah, Ma.” 

Tulisan ini berbaring hening di tanah dan memiliki napasnya sendiri. Aku percaya, tulisan itu datang dari segala kerinduan yang menyembul-nyembul dalam hatinya. Aku sungguh percaya, tulisan itu tak akan pernah lekang sebab ia dibaringkan di tanah di mana rindu dan manusia tercipta. Ia merindukan kebersamaan yang tak akan lagi terpisahkan seperti debu tanah dan jalanan.

***

Namanya Ari. Ia merindukan ibu di Negeri Jiran melalui tanah di perempatan jalan yang diterbangkan angin ke arah lautan. 


(Tulisan ini tayang pada Pos Kupang, 3 September 2017. Penulis mengedit lagi untuk keperluan blog ini)