Sosok
Oleh Selo Lamatapo
![]() |
Dok. Pribadi Foto Anastasia Sero sedang memecahkan batu |
Di usianya yang ke-70 tahun, Anastasia Sero tak ingin bergantung sama sekali pada orang lain, bahkan kepada anak-anaknya. Ia hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan mengumpulkan batu dan memukulnya menjadi kerikil untuk dijual. Ia mau melakukan ini karena inilah bisa membahagiakan dirinya dan suaminya, tanpa merugikan orang lain.
Akhir Juli 2019, Anastasia Sero tampak sibuk tanpa alas kaki di tepi jalan negara di Kilometer 16, Desa Tomberabu Dua, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Dengan ember kecil di tangannya, ia mengumpulkan batu-batu di tepi jalan yang berjarak tidak jauh dari Kota Ende. Tubuhnya yang ringkih terbungkuk-bungkuk lantaran beratnya beban bebatuan itu.
Sesudah itu, ia duduk dan mulai memukul batu itu menjadi kepingan-kepingan kecil (kerikil).
“Batu-batu ini saya jual dengan harga Rp800 ribu untuk satu ret dumtruk. Kalau oto pick up, harganya Rp400 ribu. Murah,” ujar Anastasia seraya menunjuk tumpukan kerikil yang telah menggunung di pinggir jalan itu.
Sudah sejak lama ia menekuni pekerjaan ini. Setiap hari, ia berjalan kaki dari rumahnya di Desa Liang Gere, Kilometer 17, ke tempat ia bekerja. Biasanya, ia berangkat pukul 08.00 Wita dan akan kembali pukul 15.00 Wita. Makan siang dibawa serta ke tempat kerja dan makan jika lapar.
“Saya mau makan kalau saya lapar dulu. Haha…” ucapnya ketika diingatkan untuk makan pada pukul 12.00 siang. Saat ia tertawa, tampak beberapa giginya telah lepas lantaran umur. Namun, itu tertawa yang bahagia di usia senjanya.
Tak Kenal Surut
Rambut Anastasia Sero mulai beruban. Wajahnya pun kian keriput. Hanya sarung dan sebuah baju oblong pudar melekat di tubuhnya, siang itu. Namun, semangatnya tak kenal surut. Lengan yang semakin kecil itu begitu tegar mengayun hamar kepada batu-batu, memecahkannya menjadi kerikil.
“Saya tidak mau bergantung pada anak-anak saya. Mereka itu sudah punya istri, sudah punya suami, dan anak-anak. Saya dan suami saya kerja untuk hidup kami. Kalau cucu-cucu minta uang, maka kami titi batu, jual, dapat uang, baru kasih ke mereka,” ucap Anastasia terbata-bata dengan dialeg Ende yang kental.
Istri Philipus Paka (76 tahun) itu begitu riang dan amat menikmati pekerjaan tangannya. Ia seakan-akan tak kenal letih. Usia yang tua bukan kendala dalam bekerja.
“Kalau saya tidak kerja, maka saya sakit. Tidak bisa jalan. Dan itu susahkan orang. Jadi, saya titi batu. Suami saya urus kebun kemiri. Kadang bantu saya titi batu. Kami kerja biar kuat dan tidak sakit-sakit,” ceritanya penuh semangat.
Tumpukan kerikil hasil kerja Anastasia Sero dapat dibeli di pinggir jalan di Kilometer 16, Desa Tomberabu Dua, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Percayalah, batu-batu kerikil Anastasia dapat memegahkan dan mengokohkan tiap bangunan. Sebab, ia berasal dari tangan yang bekerja dengan riang dan penuh cinta.
“Perbanyak kerja biar tidak sakit-sakit,” pesan Anastasia. Ia lanjut memecahkan batu ketika kendaraan saya menjauh darinya.

5 Komentar