ilustrasi: pixabay.com

Ada satu pengalaman kecil yang selalu berulang dan sudah menjadi kebiasaan umum di Brasil. 

Tiap kali saya bertemu mereka di rumah, di jalan, di pinggiran sungai, di taman kota, ketika saya berkunjung ke pedalaman, atau di mana pun, entah itu pagi, sore, atau malam, orang-orang Brasil selalu mengucap salam dan menanyakan kabar.

"Olá, Padre, bom dia! Sua benção, Padre." (Hai, Pastor, selamat pagi. Berkatmu)."

Mereka mengecup tangan saya, sebaliknya saya mengecup tangan mereka. Kemudian, kami berpelukan.

Sesudah itu, mereka selalu mengulang pertanyaan yang sama untuk menanyakan kabar. 

"Tudo bem?" atau "Como está, Padre?" atau "Como vai?" Tiga pertanyaan ini memiliki arti yang sama: apa kabar, Pastor?

Kalau saya sedang berada di pedalaman, atau ketika mereka bertemu saya di paroki, maka mereka akan lanjut bertanya, "Dormiu bem? Já tomou café? Borá tomar café!"
(Tidurmu baik, tidurmu nyenyak? Sudah mengopi pagi? Sudah sarapan pagi? Ayo, sarapan bersama!)

Saya merespon pertanyaan-pertanyaan itu dengan bahagia, karena setiap pertanyaan mereka itu dilengkapi dengan raut sukacita. 

Bagi saya, itu sebuah pengalaman sederhana yang memiliki pesan kuat dan makna mendalam.

Saya coba sandingkan pengalaman kecil itu dengan kunjungan yang dibuat Maria untuk sepupunya, Elisabeth. Sebuah kunjungan yang dibuat oleh dua perempuan sedang mengandung (Elisabeth di masa tuanya) dan Maria mengandung dari Roh kudus. 

Pada saat Maria tiba di rumah Elisabet, hal pertama yang ia buat adalah beri salam. Yang terjadi adalah bayi dalam kandungan Elisabeth dipenuhi sukacita. 

Bagi saya, ikatan ibu dan anak tidak pernah terpisahkan, maka sukacita bayi itu juga adalah sukacita ibunya, Elisabeth. Pengalaman itu terjadi hanya oleh satu ucapan salam dari Maria.

Kita ingat kisah lain. Waktu Yesus mengutus para murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka, kalau kamu masuk satu rumah, berilah salam terlebih dahulu. Jika salammu ditolak, keluarlah dan kebaskanlah debu kakimu di jalan. 

Begitu juga ketika Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid setelah Ia bangkit. Ia selalu memberi salam di setiap perjumpaan, di setiap penampakan itu, “damai Tuhan bersamamu.”

Ini pengalaman-pengalaman ‘kecil’ yang boleh diperluas pesan dan maknanya.

Bahwasanya, salam punya dampak sukacita dan ruang membuka diri. Sukacita selalu mengandaikan ada dukacita di sisi lainnya. Keduanya seperti mata uang logam. Karena itu, salam menjadi semacam benda atau plakat atau tempat sukacita dan dukacita melekat atau berada. 

Bom dia, boa tarde, boa noite adalah ucapan salam sederhana seperti es yang mendinginkan hati yang panas. Sementara pertanyaan lanjutannya adalah peluang untuk membuka diri.

Saya ingin membayangkan dua perempuan yang saling berkunjung itu, Maria dan Elisabeth. Mereka boleh saja diliputi problema serius, seperti  tekanan sosial karena hamil di usia tua dan hamil di luar nikah. Beban sosial ada di pundak mereka.

Namun, sebuah salam kecil dari Maria yang juga mungkin sedang dalam beban sosial itu telah mengubah suasana. Dukacita menjelma sukacita karena sebuah salam sederhana dari Maria.

Begitu juga para murid Yesus. Ketika salam ditolak, artinya, orang tidak ingin membuka diri. Siapa pun yang ditolak, tentu tidak terlepas kemungkinan akan merasa beban. Yesus menguatkan mereka dengan satu cara lain, yaitu beri salam. Ia menujukkan itu setiap kali Ia menampakkan diri-Nya bagi mereka. 

Saya mau bilang, pengalaman kecil di Brasil ini mengajarkan saya hal sederhana, bahwa salam dapat memberi saya ruang untuk membuka diri, memberi saya peluang untuk menerima orang lain. 

Satu salam mereka menyadarkan saya bahwa mereka terbuka untuk menerima saya. Salam itu juga serentak membuka diri saya untuk menerima mereka. 

Lebih jauh, satu salam sederhana kadang menghapus luka dan duka. Salam punya dampak menghibur dan menguatkan.

Alenquer, 5 November 2025