ilustrasi:pixabay.com

April 2025. Saya ingat pada Sabtu pagi di Gama, saya bersama dua katekis – seorang laki dan perempuan tua paruh baya – serta seorang frater SVD dari Togo melayani sakramen minyak suci untuk orang-orang sakit di rumah mereka masing-masing. 

Langit Gama-Brasilia pagi itu menggantungkan gumpalan awan putih di antara biru langit, menjadikannya tampak serupa lukisan. Cahaya matahari memenuhi Gama, membuat segala yang ada tanpa rahasia. Saya pikir, ini cara sederhana Tuhan mencintai manusia: seluas langit, dan tanpa rahasia.

Claudio (Mario Aldighieri) pernah menulis dengan indah tentang langit Brasil. Saya kutip satu bait puisinya:

//...somente sobra para mim um punhado de lembranças e a mais bonita delas: uma tarde, em Belém, livres, sorrindo para o céu do Brasil que ninguém pode te roubar...//

[...saya hanya memiliki sedikit sisa kenangan, dan yang paling indah di antaranya: suatu sore di Belém, bebas, tersenyum pada langit Brasil yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun...]

***

Pukul 09.00 pagi. Kami berkumpul di gereja Paroki Gama. Kami sepakat menggunakan mobil berkeliling melayani orang-orang sakit.

“Padre, me desculpe, o carro é simples,” lelaki paruh baya pemilik mobil merendah dengan tempo suara lambat sembari tersenyum. Tangannya membuka pintu mobil, kemudian menyilakan kami untuk masuk. 

Pada saat mobil itu melaju meninggalkan halaman gereja, ia mempercepat tempo bicaranya. Saya berjuang mendengar dan menangkap maksud tiap kalimatnya, tetapi saya sungguh tidak memahami sepenuhnya. Aksen dan pengucapannya terasa lengkap, sementara saya hanya punya senyum. 

Me desculpe, senhor. Eu não entendi,” timpal saya. Senyum kami pecah menjadi tawa lepas. Beberapa ketidaktahuan mesti ditertawakan, sisanya dikenang.

***

Kami bertemu seorang nenek tua ditemani anak lelakinya di rumah pertama. 

“Dona (Nyonya) Katarina, ele é Padre Marcelo, da Indonesia.” Katekis perempuan berbicara di telinganya setelah anak lelaki Dona Katarina membantunya bangun. Ia menatap saya lembut. Bola matanya berbinar dan seulas senyum tercipta dari bibirnya. 

Bom dia, Dona Katarina,” kata saya sembari menyalami tangannya. Saya mendapati tangan itu telah menjadi tua, namun kelembutan seorang ibu masih terasa di telapak tua itu. Benar, usia ibu boleh tua, tapi kasih ibu tak pernah tua dan tak pernah selesai.

Vamos orar todos com Padre,” katekis perempuan menambahkan. Dona Katarina mengangguk sembari melepaskan tangan saya. Kemudian, saya mendaraskan doa dari buku, meminyakinya dengan minyak suci, dan memberkatinya. Pada saat doa penutup, ia telah tertidur dalam posisi duduk. Kami tersenyum bersama sebelum meninggalkan rumah itu.

Mereka yang saya temui selanjutnya tidak jauh berbeda dengan Dona Katarina. Beberapa masih dapat bangun dan tersenyum, satu-dua orang masih mampu membukakan pintu rumah, sementara sisanya terbaring lemah dan pasrah di tempat tidur; membuka matapun mereka tidak lagi sanggup. Beginilah cara usia tua memperlakukan manusia: lemah, pasrah, bahkan sendirian.

Perjumpaan dengan orang-orang sakit meninggalkan kenangan dan kesan. Sebagai kenangan, mereka adalah orang-orang pertama yang saya doakan dan saya berkati sejak saya tiba di Brasil akhir Januari 2025. 

Sebagai kesan, masa tua di hadapan saya itu adalah gambaran manusia sebagai makhluk sosial, manusia yang butuh orang lain untuk kelangsungan hidupnya. 

Lebih dari itu, masa tua di hadapan saya adalah siklus ulang hidup manusia yang memuat cinta dan pengorbanan. Seorang anak dirawat ibunya/ayahnya pada waktu bayi, selanjutnya seorang ibu/ayah dirawat pada masa tua oleh anaknya. Bahwa cinta tampak dalam kesediaan meninggalkan segalanya untuk sebuah tangisan sakit bayi maupun ibu/ayah yang terbaring lemah di tempat tidur. 

Bahwa menghabiskan waktu untuk menemani mereka dalam sakit merupakan ungkapan cinta penuh pengorbanan. Cinta dan pengorbanan mula-mula mesti berakar dan tumbuh dari dalam keluarga. Ya, keluarga: tempat hati selalu ingin pulang. Saya pikir, itulah alasan Tuhan memilih Putera-Nya lahir dalam keluarga untuk menampakkan cinta, untuk menanggung pengorbanan.

***

Setelah pulang, saat menulis pengalaman kecil ini, saya mengingatkan diri saya sendiri, “lewatilah masa mudamu dengan pelayanan sebelum masa tua mendatangi hidupmu dan membuatmu terbaring lemah, rapuh dan (mungkin) sendirian.” 

Bagaimana kau melayani? 

Lakukanlah itu dengan cinta seluas langit, dan dengan pengorbanan sekuat matahari. Cinta dan pengorbanan seperti itu tak pernah tua, ia tinggal tetap, abadi selamanya.  

Brasilia, April 2025