ilustrasi google


Di antara raungan mesin kendaraan pencari korban, saya duduk di atas sebongkah batu memandangi reruntuhan bangunan. Hati saya kacau. Di hadapan saya, batu-batu bertebaran tak beraturan, reruntuhan rumah bertindih tak menentu. 

Saya duduk menunggu kabar baik dari para pencari korban, berharap mereka menemukan Maria, istri saya, di bawah timbunan batu dan tanah. Adakah kabar baik datang di tengah kepungan duka ini?

Ini hari keenam saya datang dan memandangi para pencari korban bekerja. Di atas batu, saya duduk sebagai lelaki rapuh yang kehilangan sebagian hidup. Satu kehilangan mematahkan beribu-beribu kebahagiaan yang pernah tercipta di tanah ini, tanah yang kini mengubur anak-anak manusia tanpa ampun. Maria pergi terlalu dini, meninggalkan saya yang belum siap menanggung kehilangan. Seorang telah merampas kebahagiaan saya. Adakah dia itu Tuhan?

***

Maria tak henti-henti merutuk, kalau saya tidak ke gereja. Ia percaya bahwa ikan hasil tangkapan saya, kelimpahan ternak dan hasil penjualan kopra adalah campur tangan Tuhan. Karena itu, bagi Maria, ke gereja adalah cara kami berterima kasih pada Tuhan, dan tidak ke gereja adalah sebuah keangkuhan.

Saya menuruti saja kata-katanya. Dengan begitu masalah selesai. Saya akan ke gereja dan memilih duduk di luar bersama Om Banus, Om Resi, dan Om Anton. Saya jenuh mendengar khotbah Pastor Bene yang mencampuradukkan politik dan ekonomi tanpa menarik pesan Injil untuk kami para pelaut, petani, dan peternak.

Omongannya panjang lebar. Mulai dari kasus politik kepada kasus ekonomi. Ia membaca ragam kasus itu pada daring, menontonnya pada televisi dan youtube. Dia lupa, kebanyakan kami tak memiliki televisi, apalagi android. 

Hasil laut, hasil kebun, dan ternak tak cukup memenuhi kebutuhan hidup kami sehari, ditambah tuntutan biaya sekolah anak-anak, biaya urusan adat, urusan gereja, dan urusan pemerintah. Untuk apa semua khotbah yang melangit dan tak menyentuh sama sekali kehidupan kami? 

Pastor Bene yang terhormat, kami yang datang ke gereja dan duduk mendengarkanmu berkhotbah adalah kami kaum tua, para petani, pelaut, dan peternak. Anak-anak muda tak banyak ke gereja. Ibu-ibu yang duduk pada bangku tua di dalam gereja adalah mereka yang tiap hari berjemur di pasar menjual hasil kebun untuk bertahan hidup. 

Kalaupun ada di antara kami yang memiliki televisi, percayalah, tontonan kami adalah film-film Indosiar, bukan isu ekonomi dan politik. Kami tak paham isu-isu itu. Sekolah kami setingkat sekolah dasar. Karena itu, bicaralah perihal pukat, laut, kambing, kuda, babi, jagung, kacang tanah, pohon-pohon, air dan musim hujan yang tak menentu. Bukankah Yesus memakai perumpamaan-perumpamaan yang dekat dengan kaum kecil seperti kami ini? 

Saya heran, Maria begitu mengagumi pastor 40-an tahun itu. Tiap kali pulang dari gereja dan sewaktu menyiapkan kopi untuk saya, ia membicarakan khotbah Pastor Bene. Seolah-olah ia paham. 

“Kau dengar khotbah tadi? Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. Itu artinya, jangan egois, jangan rakus, Kopong.” 

Saya diam mendengarkan deretan kalimatnya. Pembicaraannya panjang, tafsirannya begitu-begitu saja. Saya kemudian menemukan diri saya sebagai lelaki pendiam yang ditakdirkan untuk mendampingi hidupnya agar bisa mendengarkannya.

“Jadi, kita boleh bekerja kapan saja, tetapi harus tetap ingat Tuhan. Kita harus pergi ke gereja dan berterima kasih kepada Tuhan untuk hasil yang kita peroleh, Kopong.” Itu kalimat penyimpul yang sudah saya dengar berulang-ulang dan saya akan menggumam ketika dia memulai dengan kata ‘jadi’. 

Mendengar Maria mengulang-ulang kalimat yang sama pada tiap pembicaraannya, saya menyadari bahwa ia sungguh mencintai Tuhan, dan saya adalah laki-laki paling beruntung telah menikahinya.

***

Kami menikah di suatu musim kemarau. Kala itu, pohon nimba dan pohon gamal di depan gereja menggugurkan daun-daun, membentuk hamparan dedaunan kering di halaman gereja. Angin menerbangkannya ke sana kemari seperti layang-layang. Kami menikah diiringi nyanyian kering dari orang-orang kampung sebagaimana terjadi tiap Minggu. Tiada iringan alat musik. Semua berlangsung kering serupa hamparan dedaunan kering di halaman gereja.

Di hari pernikahan kami, saya menyaksikan seekor burung terbang masuk melalui lubang dinding. Ia duduk murung di tiang depan dekat mimbar sabda. Saya sempat melihatnya ketika khotbah Pastor Bene mulai bertele-tele. 

Dua hari lalu, ketika Maria mengajak saya berdoa bersamanya di gereja, burung itu terbang bersama seekor yang lain. Namun, kali ini, burung itu datang seorang diri dan murung di tiang. Saya menduga seekor yang lain akan tiba, tetapi ia tak juga datang hingga usai perayaan pernikahan kami. Saya sempat memikirkan perihal ditinggalkan seorang diri sebagaimana burung itu ketika telinga saya menangkap Pastor Bene menyebut nama saya dan nama Maria. 

Saya menjatuhkan pandangan kepadanya dan mendengar ia berpesan, “Kopong dan Maria, setialah pada pilihanmu dalam suka maupun duka, dalam untung dan malang. Setialah selamanya hingga maut menjemput kamu.” Saya memandangi lagi seekor burung di tiang depan yang diam-diam terbang keluar. Adakah seekor yang datang itu adalah yang setia? Diam-diam, saya melirik Maria yang tengah mendengarkan khotbah Pastor Bene.

***

Saya tidak meragukan kesetiaan Maria. Sesederhana apa pun bentuk kesetiaannya, saya percaya bahwa cinta yang abadi tumbuh dari kesetiaan-kesetiaan yang sederhana. Itu terjadi di hari ulang tahun saya. Maria meminta saya untuk lebih cepat pulang dari kebun. Ia akan memasak ikan kuah asam dan sayur rumpu rampe, serta membuatkan kue ulang tahun. Kami akan makan berdua dalam kesederhanaan.

Sialnya, hari itu, saya tidak pulang ke rumah sebagaimana diminta Maria. Kuda jantan yang saya ikat siang tadi di pohon bidara terlepas dan tak tahu ke mana. Saya telah mencarinya ke sana sini, tetapi tak menemukannya. Om Banus, Om Resi, dan Om Anton yang saya temui di kebun tak mengetahui keberadaan kuda itu. 

Saya kewalahan dan cemas, karena biasanya kuda itu akan mencari kuda betina milik Om Banus atau Om Resi. Atau pula, kuda itu kerap berada di kebun ubi Om Anton kalau terlepas. Celakanya, mereka tidak mengetahui kuda jantan saya. Dan saya berdebar-debar ke sana kemari mencarinya.

Saya tak ingin pulang sebelum saya menemukan kuda jantan itu. Saya tak tega meninggalkan kuda itu walau saya tak mengetahui keberadaannya. Kuda itu adalah warisan mendiang ayah saya. Ayah meminta saya menjaganya sebagaimana saya menjaga diri saya, sebab kuda itu telah menolong meringankan beban keluarga kami. 

Di atas punggungnya, ayah meletakkan hasil kebun dan meminta saya untuk menggiringnya dengan penuh cinta. Pisang, nenas, sayur-sayuran yang dibawa kuda akan dijual ibu di pasar demi menghidupi keluarga kami. Dan kini, kuda itu menolong keluarga kecil saya dan Maria.

Matahari jatuh di barat ketika kaki saya melangkah ke padang rumput di lereng gunung. Padang rumput adalah harapan terakhir saya menemukan kuda itu. Saya menjumpai orang-orang kampung berjalan pulang ke rumah dengan hasil kebun dijunjung di kepala dan diletakkan di bahu. 

Kepada mereka saya katakan bahwa saya akan menyusul segera, juga meminta mereka mengatakan kepada Maria bahwa saya baik-baik dan segera pulang setelah menemukan kuda jantan yang terlepas.

Raut wajah saya pucat ketika tak menemukan kuda jantan di lereng itu. Air mata saya jatuh karena putus asa dan bayangan segala kemalangan menimpa kuda yang baik itu. Saya duduk sebagai lelaki kehilangan harapan di antara rerumputan. Bayangan kuda itu memenuhi kepala saya dan serasa sesak.

Saya sedang menangis ketika dari arah lain terdengar ringikan kuda. Saya memasang telinga dan terbangun secepat mungkin untuk mendapati kuda itu entah milik saya atau bukan milik saya. Hati saya tenang tatkala menemukan kuda jantan itu meronta-ronta melepaskan diri dari belitan tali pada pohon lamatoro. Saya tidak tahu menggambarkan sukacita saya. Seingat saya, saya memeluk leher kuda itu dengan cinta yang penuh. Setelahnya, saya pulang bersamanya di bawah terang bulan.

Di rumah, saya mendapati Maria berdiri menunggu saya di pintu dapur. Ia memandangi saya dengan tatapan serupa tatapan sewaktu saya mengatakan bahwa saya akan menikahinya. Air mata di dua bola matanya jatuh ketika saya bilang, “Saya baik-baik. Kuda juga baik-baik.” 

Saya memeluk bahunya dan kami masuk ke dapur. Saya meletakkan tubuh di bale-bale dan Maria membopong ember berisi air hangat ke kamar mandi, kemudian meminta saya untuk mandi. Saya menatapnya dengan senyum dan ia membalas itu dengan tatapan yang hangat. 

Saya meletakkan badan di kursi kayu di hadapan meja makan usai mandi dan ganti. Saya baru mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun saya ketika mata saya melihat kue dan makanan di atas meja. Semua belum tersentuh sama sekali. Maria mulai menyiapkan peralatan makan dengan bahagia dan saya memandanginya dalam diam. 

Melihat ia bekerja, saya menyadari betapa Maria sungguh mencintai saya dengan cinta yang setia dan cinta yang dalam. Hari itu juga saya memahami bahwa cinta yang abadi tumbuh dari kesetiaan-kesetiaan. Maria telah melakukannya untuk saya: menunggu dengan cinta yang dalam. Saya berjanji kepada diri saya bahwa saya mencintai Maria hingga abadi.

***

Di batu ini, di antara raungan mesin kendaraan pencari korban bencana, saya duduk sebagai lelaki yang kehilangan sebagian hidupnya. Bencana banjir merampas segala-galanya. Maria terbaring di antara puing-puing bangunan, tertimbun tanah dan bebatuan. Ia pergi terlampau dini, meninggalkan saya yang belum siap menanggung sebuah kehilangan. 

Mata saya tak mampu membendung air mata. Kehilangan menyiksa saya sedemikian dalam, menusuk-nusuk hingga tubuh saya terasa remuk redam. Saya mendapati diri saya sebagai onggokan batu di atas puing-puing reruntuhan. 

Di titik ini saya menyadari, kenyataan menimpa manusia tidak sesuai dengan harapannya. Angan manusia boleh lebih panjang dari lengannya, tetapi kenyataan jatuh atas caranya sendiri, bisa lebih panjang bahkan lebih pendek dari umur manusia.

Di batu ini, saya duduk menunggu Maria, tetapi Maria tak juga datang. Hari-hari saya menjelma malam. Cahaya sebatang lilin tak akan mampu menerangi kelam hidup saya. Namun, saya akan tetap menunggu entah sampai kapan. Sebab saya percaya, cara sederhana mencintai adalah menunggu. 

Maria pernah melakukannya untuk saya, burung di gereja pun pernah melakukan untuk seekor yang lain, dan hari ini saya melakukan untuk Maria. Entah sampai kapan, cinta yang dalam tak pernah bertitik simpul. 

 Ile Ape, Lembata, Juli 2021