![]() |
| Dokumen Pribadi |
Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.(Pramoedya Ananta Toer)
***
Jumat, 7 September 2018. Persis satu bulan saya menjalankan masa praktik sebagai wartawan pada Surat Kabar Harian Umum Flores Pos (FP). Hari itu juga bertepatan dengan hari Jumat Bersih sekabupaten Ende.
Warga kota Ende sibuk mengadakan pembersihan lingkungan di Lapangan Pancasila, Taman Renung Bung Karno, Taman Rendo, dan beberapa titik lain. Pencanangan dan pelaksanaan program ini merupakan salah satu langkah memerangi sampah yang dianggap sebagai persoalan serius.
Bagi saya, media (entah elektronik maupun cetak) juga berperan penting dalam memerangi masalah ini. Media berusaha mengumpulkan, mengolah, dan menyampaikan informasi demi membangun kesadaran bersama dalam mengurus masalah sampah. Sebab, masalah sampah melibatkan banyak aspek, seperti perilaku, pola pikir, kebiasaan dan sebagainya.
Media menjadi wahana penyalur informasi sekaligus memantik warga bumi untuk berpikir dan mengolah sampah yang ada. Warga didorong menyadari sampah bukan lagi sebagai masalah yang terus diperangi (karena ia akan ada terus), tetapi suatu keadaan konkret yang mulai digemari sebagai mata pencaharian. Misalnya, dengan daur ulang, mengolahnya menjadi barang-barang hiasan rumah, dan sebagainya. Ringkasnya, media dapat menjadi sarana yang menggedor kreativitas warga.
Atas dasar pemikiran sederhana itu, saya berusaha menemui beberapa warga dan mewawancarai mereka pada hari itu. Ide mereka akan lebih mujarab dalam penanganan sampah, ketimbang saya yang masih seumuran jagung.
Saya menemui beberapa warga yang sedang mengumpulkan sampah di Lapangan Pancasila, Ende. Di hadapan mereka, sampah-sampah plastik melimpah ruah.
Langkah kaki saya menuju seorang pria. Dari raut wajah, usianya boleh dibilang masih muda. Melalui ramah tamah ala kadarnya, saya mengetahui ia adalah seorang guru pada sebuah sekolah dasar di pinggiran Kota Ende. Namanya tidak perlu saya sebutkan.
Waktu itu, ia bersama seorang ibu guru, pengajar pada sekolah yang sama. Rupanya, mereka menemani para siswa sekolah tersebut untuk membersihkan sampah. Alangkah bahagianya saya menyaksikan anak-anak yang bersemangat mengumpulkan sampah-sampah.
"Semoga kelak ada yang menggemari pekerjaan menjadi pemulung sukses seperti Soesilo Ananta Toer, Saudaranya Pramoedya." Batin saya.
"Boleh luangkan waktu sedikit untuk cerita-cerita, Pa?" Saya berkata begitu saja. Ia tak langsung membalas, dan saya mendapati matanya memandangi kartu pers pada dada saya.
"Wartawan media mana?" balasnya dingin. Rupanya, ia belum tuntas membaca tulisan yang tertera pada kartu pers saya.
"Flores Pos," timpal saya disertai senyum seramah mungkin. Selanjutnya saya mendengar nada keragu-raguan dari mulutnya, "Bagaimana? Apa yang bisa saya sampaikan?"
Saya mengutarakan semua maksud saya dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri saya demi mengubur keraguannya. Selanjutnya, saya memancing mereka perihal sampah dan pelaksanaan program Jumat Bersih. Tak butuh waktu lama, ia mengungkapkan segala ide, usul dan saran. Saya tak heran, sebab persoalan sampah amat dekat dengan semua manusia.
Cerita-cerita (saya lebih senang menyebutnya demikian ketimbang wawancara, karena kadang wawancara terkesan kaku) berakhir dengan aneka informasi dan ide. Tentu, semua itu berguna bagi banyak orang.
"Tidak usah tulis nama saya dalam berita itu ew, Ade," ucapnya usai saya menyampaikan terima kasih. Nada keragu-raguannya memasuki telinga saya. Saya sempat berpikir bahwa mereka pasti takut akan segala yang mereka sampaikan barusan. Mereka berpikir akan ada sesuatu yang menimpa mereka sesudah itu.
Tapi, saya urungkan pikiran itu. Saya ingat pesan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Bumi Manusia: seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.
Kata-kata Pram ini berlarian di kepala saya dan menegur saya agar berjalan dalam halaun. Meski demikian, saya tetap merasa ada yang janggal. Mengapa ada keraguan? Untuk hal sederhana saja seorang tidak berani menjadi pewarta kebenaran, apalagi hal-hal besar? Ataukah, media kini telah menjadi sarana yang menakutkan?
Saya pamit setelah meyakinkan mereka tidak terjadi apa-apa. Berita itu saya tulis atas anggukan mereka.

0 Komentar