Oleh Yurgo Purab
![]() |
| ilustrasi oleh Yono Kelen |
Secara lihai Selo memadukan apa yang tampak dengan gaya bahasa yang apik dan terpilin. Seluruh deretan cerpennya adalah sebuah kritik dan gugatan serentak ajakan untuk bermenung. Tulisan Selo Lamatapo adalah karya sastra yang menohok pembaca agar terlibat dalam mengkritisi segala dimensi hidup manusia yang kerap terlindas oleh kepentingan pemimpin yang otoriter; yang mengabaikan banyak kepentingan rakyat.
Pengantar
Goenawan Mohamad pernah berujar bahwa cerpen adalah karya sastra yang paling jujur, karena penulisnya bebas dari pretensi apa pun (Kompas, Minggu /9/11/1997). Demikian pula cerpen yang ditulis oleh Selo Lamatapo dengan judul “Ibu yang Merindu”.
Cerpen yang terbit pada Flores Pos (Selasa, 8/11/2016), merupakan sebuah karya sastra yang terbilang dalam pesannya dan jujur penuturannya. Dikatakan jujur, karena Selo tampak serius memadukan realitas nyata dalam penuturan cerpennya.
Secara lihai Selo memadukan apa yang tampak dengan gaya bahasa yang apik dan terpilin. Seluruh deretan cerpennya adalah sebuah kritik dan gugatan serentak ajakan untuk bermenung. Tulisan Selo Lamatapo adalah karya sastra yang menohok pembaca agar terlibat dalam mengkritisi segala dimensi hidup manusia yang kerap terlindas oleh kepentingan pemimpin yang otoriter; yang mengabaikan banyak kepentingan rakyat.
Entahlah, teks sastra selalu menyajikan sesuatu kepada pembaca. Dan pembaca selalu membaca secara lain teks yang muncul sesuai dengan konteks di mana pengarang hidup. Karena kegiatan pencerapan sebuah karya sastra selalu bergerak dari konteks ke teks.
Artinya, pengarang selalu mencerap apa yang diamati dalam keseharian hidup, dan mengelaborasi yang tampak itu dengan daya imajinatif yang padu melalui bahasa sebagai media pengungkapannya. Maka dari latar belakang penulis yang berasal dari pulau Lembata, saya mengiyakan bahwa tulisan ini adalah sebuah pergumulan penulis setelah mengamati fenomena politik yang sedang terjadi di Lembata.
Karena itu, saya mencoba menganalisis cerpen Selo Lamatapo dalam bingkai pemikiran Georg Lukacs tentang model refleksi dalam kritik sastra Marxis.
Model Refleksi Georg Lukacs dalam Cerpen “Ibu yang Merindu” Karya Selo Lamatapo
Georg Lukacs adalah seorang pemikir Marxisme yang berpengaruh pada abad ke-20. Ia dipandang sebagai seorang filosof tetapi juga ahli sastra. Baginya, sastra dipandang sebagai satu patokan untuk mengetahui gejala-gejala sakit dari masyarakat modern (Dwi Susanto S.S., M.Hum, 2012).
Dalam sastra model refleksi, sastra dilihat sebagai pengetahuan realitas. Pengetahuan yang tidak menjadi satu dan berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya dan ide-ide di dalam kepala atau pikiran.
Karena itu, Georg memperkenalkan istilah dialektika totalitas. Yang mana realitas yang ditampilkan melalui karya hadir melalui kreativitas, yakni suatu bentuk yang berada dalam karya penulis. Dan akibatnya, realitas dalam karya itu akan menjadi suatu bentuk dalam karya itu sendiri yang merefleksikan bentuk-bentuk realitas dalam dunia yang nyata.
Dari pandangan Georg Lukacs, hemat saya, cerpen yang ditulis Selo Lamatapo berangkat dari pengetahuan realitas yang terpampang di depan matanya. Ia meninjau kembali apa yang tampak sebagai sebuah gejala sakit dari masyarakat modern yang dialami dalam pengamatannya.
Walaupun terkambus dari penuturan cerpennya, namun Selo sangat jelas membuka tabir kehidupan wajah Lembata yang terkesan muram dan sakit-sakitan. Ia menulis: “... Kudapati dermaga kapal belum berubah sepenuhnya. Tetap saja panas. Beberapa titik berlubang. Orang-orang berhimpit-himpitan. Sampah-sampah plastik berserakan... Saat menjauh dari dermaga, kudapati jalanan-jalanan di kota masih berlubang. Taman kota pun belum lagi terawat sehingga layak disebut sebagai taman rumput kering dengan penjaganya adalah kambing-kambing hitam berjenggot panjang, serupa lelaki calon pemimpin daerah pada baliho di pinggir taman kota.”
Tampak jelas Selo membangun cerita mengenai kota kelahirannya dengan pengamatan seadanya. Namun, gaya bahasa yang ditampilkan oleh Selo memiliki daya persuasi dan mengena pada keseharian hidup.
Selain karena Selo jeli memilah kata-kata dalam penggunaannya, ia juga sangat peka membangun refleksi terhadap sesuatu yang dianggap biasa dalam keseharian hidup. Medan refleksi adalah panggung utama yang cukup kuat bagi pengarang dalam mengolah informasi.
Baginya, apa yang tampak tak sekadar ada tetapi ia berada dan memiliki nilai yang lebih. Karena pengetahuan terhadap sebuah realitas mesti benar-benar memiliki kualitas. Maka, pengetahuan itu tak sekadar mengetahui “apa itu” melainkan harus diimbangi dengan refleksi yang tajam terhadap sebuah realitas.
Selo Lamatapo menggambarkan wajah Lembata yang murung di mana ada banyak jalan berlubang, kota tak terurus, kekurangan air bersih, lampu yang tidak memihak, dan berbagai keluhan lain yang masih menjadi kegundahan masyarakat pada umumnya.
Di sini terlihat jelas kreativitas Selo dalam menggambarkan situasi nyata di lapangan dalam sebuah refleksi karya sastra.
Mengenai hal ini, Kant pernah berbicara mengenai imajinasi reproduktif. Yang mana manusia berupaya mereproduksi kembali gambaran atau imaji yang sudah ada atau sudah pernah dialami sebelumnya. Dengan begitu imaji dalam diri seseorang dihadirkan sebagaimana pernah dialami. Kemampuan representasi semacam ini memberikan kesempatan pada kemampuan reflektif kita untuk muncul (H. Tedjoworo, 2001).
Senada dengan Kant, pengarang (Selo) juga mereproduksi gambaran atau imaji yang sudah ada, yang sensible (yang tampak) dengan kemampuan representasi yang mengarah pada refleksi. “Maka pengalaman yang dibahasakan selalu membawa konteks tertentu yang menyertainya” (H. Tedjoworo, 2001). Dan, Selo membahasakan apa yang tampak sesuai konteks lingkungan tempat ia berada.
Selain itu, Selo juga menggambarkan lebih jauh gejala sakit masyarakat modern yang tengah mewabah saat ini. Dari pengetahuan realitas yang penulis amati seperti yang tertuang dalam isi cerpen: “Di kampungku, handphone merupakan alat bantu melancarkan proses perselingkuhan. Dan itu kusaksikan saat liburan empat tahun lalu. Saudari sepupuku depresi berujung gila lantaran suaminya kedapatan selingkuh. Buktinya jelas. Semua data tersimpan apik dalam memori telepon, termasuk video mesumnya.”
Tampak jelas penulis mengungkapkan kepanikannya berhadapan dengan teknologi. Ada sebuah ketakutan besar yang tengah menggejala dalam hidup bermasyarakat. Bahwa Hp, yang dipandang sebagai alat bantu mempererat tali kekeluargaan, malah mendatangkan masalah baru dalam ranah hidup bersama.
Karena itu penulis pantas menyatakan kekecewaannya: “… demikianlah tabiat manusia yang berakal budi. Kian beradab, kian pula biadab.”
Paul Budi Kleden pernah mengatakan bahwa “…Para korban dan keluarganya terpaksa diam dan kalau berbicara mereka mesti memilih media imajinatif seperti sastra. Hal ini dilakukan antara lain oleh Pramoedia Ananta Toer…” (Pos Kupang, 1/10/ 2005).
Pernyataan di atas sebetulnya menggambarkan sebuah sitausi ketertindasan yang dialami para korban. Ketakberdayaan yang mereka alami seakan menumpuk dalam ingatan. Karena itu, penting sekali media imajinatif seperti cerpen atau puisi, lebih tepatnya karya-karya sastra mesti menjadi ladang bagi setiap orang untuk bersuara. Karena sastra tak hanya media imajinatif semata tetapi medan refleksi dari sebuah situasi nyata.
Karena itu, sangatlah tepat sastra menjadi media penyampaian pesan kepada pemerintah. Situasi yang sama juga seperti yang digambarkan oleh Selo dalam cerpennya: “ Ah, Ibu. Perubahan yang adil adalah perubahan yang merata. Kasihan kampung-kampung yang tak kedapatan perbaikan jalan, kekurangan air bersih, tidak ada listrik yang masuk lantaran anggaran dana pembangunan telah lenyap entah ke kantong mana.”
Pada cerpen ini, Selo sebenarnya mewakili suara yang tak bersuara. Atau lebih tepatnya mewakili harapan sebagian masyarakat akan perubahan wajah kampung yang lebih baik.
Namun, realitas berbicara lain. Ada ketimpangan atau ketidakmerataan pembangun pada setiap pelosok daerah. Dan lebih parahnya lagi, Selo mempertanyakan anggaran pembangunan yang lenyap begitu saja. Entah ke kantong yang mana. Inilah yang mau diungkapkan Selo Lamatapo dalam cerpennya.
Pada sisi lain, Selo juga mengeritik minimnya wawasan politik rakyat. Hal ini tampak jelas dalam uraian cerpen karya Selo, yang mengambil tokoh ibu untuk mewakili rakyat pada umumnya.
Selo cukup jeli menangkap pengetahuan terhadap realitas sesungguhnya. Dalam cerpennya ia menulis:
"... Dan Ibu yang kian tua tak akan pernah memahami hal ini. Apalagi hanya bermodalkan dropout sekolah dasar. Namun, begitulah orang-orang yang tak paham politik. Teori tidaklah penting. Apa yang mereka alami sekarang itulah perubahan, walau banyak kepalsuan."
Pada sisi ini, sebenarnya Selo mau mengeritik wawasan politik masyarakat yang terbilang masih rendah. Apa yang tampak, yang mereka lihat di depan mata itulah perubahan. Tetapi bagi pengarang perubahan tak sekadar perubahan infrastruktur tetapi juga perubahan logika berpikir. Bahwa wajah perubahan sekali-kali dapat menipu ketika jelang Pilkada segera dimulai.
Yohanes Wolor mendefinisikan wawasan politik rakyat adalah niat baik yang tulus dalam perilaku politik yang lurus untuk memuluskan kepentingan umum (Flores Pos, 4/10/2016). Hal ini mau mengungkapkan bahwa perlunya wawasan politik rakyat yang matang, dalam pengambilan peran dan tugas sebagai perilaku politik yang lurus demi kepentingan umum.
Karena itu, tulisan Selo Lamatapo adalah sebuah ajakan kepada masyarakat agar secara jeli membaca politik yang terjadi di wilayahnya masing-masing. Karena membaca politik ibarat membaca angin, tidak tahu arah jelasnya.
Dengan demikian pengetahuan realitas seperti yang digambarkan oleh Georg Lukacs mesti terjawabi. Bahwa setiap karya sastra bertolak dari pengetahuan terhadap realitas (nyata, yang tampak, terlihat) yang direfleksikan sejauh mungkin demi kejujuran sebuah karya.
Penutup
Setiap karya sastra selalu memiliki makna tersendiri dalam dirinya. Ia memiliki makna yang meruang melampaui apa yang tampak. Karena itu, kelahiran sebuah karya sastra tentu melalui berbagai tahap refleksi dan pencerapan terhadap realitas.
Tentu, Selo Lamatapo juga melewati tahap demikian. Walaupun kehadiran karya ini masih terbilang mudah, namun kita patut dan layak memberi apresiasi kepada penulis. Bahwa dengan segala kreativitas yang ada, penulis membuka ruang refleksi bagi kita sekalian tentang makna hidup dari setiap derap pengalaman yang sederhana.*
(Tayang di Flores Pos cetak, November 2016).

0 Komentar