Oleh Selo Lamatapo
![]() |
| Ilustrasi dari Selo Lamatapo |
Pelbagai upaya penanganan bencana kekeringan di Pulau Mules, Manggarai terus dilakukan. Kali ini, petugas kesehatan Kabupaten Manggarai disiagakan ke Pulau Mules. Wartawan Harian Umum Flores Pos, Chirsto Lawudin, menulis, petugas medis disiagakan untuk melayani masyarakat sekaligus mengantisipasi terjadinya ledakan aneka penyakit akibat kemarau panjang (FP, Sabtu, 26/10/2019).
Sebelumnya, Pemkab melalui Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) dan Badan Penanggulangan Daerah (BPD) telah memasok ribuan liter air ke Pulau Mules. Pasokan air ini untuk memenuhi kebutuhan hidup 1.464 jiwa warga Pulau Mules.
Pulau Mules sebagaimana diberitakan Flores Pos belakangan ini dilanda kekeringan selama tujuh bulan. Peristiwa ini berdampak buruk bagi warga, hewan, dan tetumbuhan. Warga kesulitan air karena sumur-sumur mengering. Sebanyak 200-an hewan pun mati lantaran tetumbuhan turut mengering dan ketiadaan air.
Kenyataan ini menyedihkan. Bumi sebagai ibu seakan tidak ingin lagi menyiapkan makanan untuk penghuninya. Ataukah penghuninya telah menelantarkan ibunya? Sayangnya, ini bukan waktu untuk saling mempersalahkan.
Duka di Pulau Mules mengingatkan saya pada peristiwa yang dialami penduduk kota Oran dalam novel Sampar karya Albert Camus. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mendiang NH. Dini dari judul asli La Peste. Novel ini mengisahkan penderitaan mengerikan yang dialami penduduk kota Oran akibat wabah sampar.
Camus mengawali dengan menceritakan kematian seekor tikus di gedung praktik dokter Rieux. Dokter Rieux, tokoh utama, menilai tikus itu mati tak wajar. Sementara penjaga gedung praktik mengatakan itu hal lumrah.
Dengan alur maju, Camus melukiskan permulaan petaka setelah kematian tikus itu. Si penjaga gedung menjadi korban pertama wabah sampar. Ia mati mengenaskan di rumahnya. Selanjutnya, wabah sampar meluas dan mendera penduduk kota Oran. Namun, penduduk Oran menganggap kematian itu adalah hal yang biasa.
Penduduk mulai panik ketika semakin banyak penduduk mati dengan gejala yang sama. Mereka mulai saling curiga dan menjauhi satu sama lain karena takut tertular. Binatang-binatang peliharaan yang berkeliaran ditembak mati.
Keadaan kian genting. Penduduk yang tertular diungsikan ke tempat khusus dalam kota. Penduduk yang meninggal dikuburkan sebagaimana lazimnya. Kebiasaan ini berubah ketika makin banyak korban. Penduduk dikuburkan ke dalam satu lubang besar. Tetapi cara ini tidak bertahan lama. Penduduk memilih membakar mayat-mayat itu karena takut tertular.
Dalam derita mengerikan, pemerintah mengumumkan kota Oran ditutup. Penduduk dilarang ke luar kota. Dan dalam situasi kota tertutup, Camus menampilkan pelbagai sikap khalayak atas kejadian ini.
Kaum religius menilai, sampar adalah kutukan Tuhan karena penduduk Oran telah berdosa. Para pebisnis memanfaatkan keadaan ini untuk menaikkan harga barang-barang pokok. Yang lain menawarkan cara ke luar dari kota dengan tuntutan biaya mahal. Beberapa yang lain tidak mau terlibat menolong sesama, karena merasa diri bukan bagian dari keluarga korban.
Camus menampilkan sosok lain yang terlibat bersolider dengan korban. Sosok itu adalah dokter Rieux bersama beberapa temannya. Mereka berusaha menolong semampu mereka. Camus mengangkat tokoh dokter Rieux untuk menampilkan semangat solidaritas antarsesama.
Kita patut berterima kasih kepada semua pihak yang telah bersolider terhadap warga Mules. Namun, solider saja tidak cukup. Kita butuh langkah-langkah preventif untuk mengatasi persoalan-persoalan serupa ini agar tidak terjadi lagi ke depannya, semisal gerakan tanam pohon di mana-mana, dan lain-lain.
Hari ini Mules. Bisa saja hari selanjutnya kota lain akan alami kejadian serupa jika mental kita hanya bersolider dengan berikan dam tadah bantuan setelah kejadian.
Angkat kepala dan lihat kejadian sekitar. Hutan-hutan dibakar. Penebangan liar di mana-mana. Bumi dikeruk-keruk untuk kepentingan tertentu. Orang merasa itu hal lumrah sebagaimana penjaga gedung dalam Sampar. Orang lebih memilih berteriak-teriak dengan mikrofon di jalan untuk masalah yang bisa diselesaikan dengan dialog.
Novel Sampar bisa jadi bahan permenungan diri dan pada akhirnya mulai bertindak secara konkret sebelum terlambat. Sudah waktunya sumbat mulut. Kerja pakai otak dan tangan. Sebab, kejadian besar selalu dimulai dari hal kecil yang dianggap biasa, bahkan sepele.
(Pernah tayang di Flores Pos)

0 Komentar