Cerpen Selo Lamatapo



Ilustrasi dari Fansy Kurman

Pukul 00.00. Sebentar lagi pagi. Tetapi Tuhan masih hening di salib. Sudah dua jam saya duduk di bangku paling belakang katedral dengan diri yang kacau, menunggu Tuhan menjawab pertanyaan saya: apa salah saya? Apa salah istri saya sampai ia begitu cepat berpulang? Siapa yang berhak mengambil hidup istri saya? Apakah Tuhan? Jika benar Tuhan, maka Ia adalah sosok pengecut yang tak pernah ingin melihat kami bahagia. Barang tentu kami ditakdirkan untuk tidak bahagia karena Ia adalah empunya kebahagiaan. Batin saya tak tenang. Tetapi tiada tanda-tanda Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Di katedral ini, tiga hari yang lalu, saya bersama Maria, istri saya, duduk di bangku paling depan. Saya lupa, berapa banyak orang yang hadir pada hari pernikahan kami itu, tetapi saya tidak dengan mudah melupakan seekor burung yang terbang gelisah masuk melalui lubang kecil sebelah kiri depan katedral, kemudian hinggap hening di tiang.

Saya hampir lupa memasukkan cincin ke jari manis Maria, sebab hadir seekor burung itu memikat dua bola mata saya. Ia lebih menawan dari rumusan doa pernikahan yang didaraskan pastor, dan amat memikat ketimbang nyanyian dari organ tua katedral. 

Ada yang lain hari itu. Burung itu datang seorang dan murung di atas tiang katedral. Padahal, beberapa hari sebelum pernikahan kami, sewaktu saya dan Maria berdoa, saya melihat ia berkasih-kasihan dengan seekor burung lain di tiang itu. Begitu riang, begitu girang. Dan saya amat bahagia melihat mereka di tempat itu. Doa saya menjelma cinta yang riang dan girang, dan tak akan pernah lekang; cinta kepada Maria, istriku.

Hari itu juga, saya meyakinkan diri bahwa dua ekor burung itu akan hinggap di tiang yang telah pudar warnanya, dan menyaksikan pernikahan kami. Itu tentu menjadi sesuatu yang berbeda di hari pernikahan kami. Bahwa ada dua ekor burung turut menyaksikan perayaan cinta dua manusia, selain kaum pinggiran, kawan-kawan kami. Saya bersumpah akan menceritakan kisah itu kepada anak cucu kami supaya cerita itu diwariskan tujuh turunan. 

Tapi apa boleh buat. Kenyataan kadang menimpa manusia tidak sesuai dengan harapannya. Angan manusia boleh lebih panjang dari lengannya, tetapi kenyataan jatuh atas caranya sendiri, bisa lebih panjang bahkan lebih pendek dari umur manusia.   

Di hari pernikahan kami, burung itu datang seorang diri, menyelinap gelisah melalui lubang kecil katedral, lalu murung di tiang. Ia diam menunggu. Namun, seekor yang lain tak juga datang hingga usai upacara pernikahan kami.  

Hari-hari sesudah itu, doa-doaku menjelma kesedihan dan kemurungan. Satu kehilangan mematahkan beribu-ribu kebahagian yang pernah tercipta. Maria terlampau dini menutup mata selamanya, meninggalkan saya yang belum siap menerima kehilangan. Seseorang telah merampas kebahagiaan saya. Adakah ia itu Tuhan?

Saya duduk tercenung di Katedral. Pukul 04.00. Sudah subuh. Tuhan masih hening, tak menjawab apa-apa. Seekor burung menyelinap tiba-tiba melalui lubang kecil katedral, lalu murung seorang di tiang. Burung yang sama di hari pernikahan kami tiga hari yang lalu. Saya melihat ia menunggu, tetapi tiada seekor lain yang datang. Betapa setianya ia menunggu, betapa tulus ia mencintai.

Saya memandangi Tuhan, tiada tanda-tanda Ia menjawab saya. Saya dorong pintu dengan tangan kanan, melangkah keluar, dan pulang. Setelah malam, tiada lagi pertanyaan untuk Tuhan, yang ada hanya hati yang tetap setia mencintaimu, meski engkau telah menjadi debu tanah, Maria.

(Cerpen ini Pernah dimuat di Flores Pos)